Namaku Proleti, bukan Proletar. Kata Eyang Wiki, sesepuh paling tersohor seantero negeri yang kumisnya memanjang menyapu tanah dan matanya sipit macam lubang celengan ayam di atas lemari nenek, Proletar adalah ibuku. Meskipun seumur hidupku yang setengah sekarat, aku tidak pernah melihat wajahnya. Kata Eyang Wiki, Proletar -ibu kandungku- itu sebenarnya cantik. Hanya saja, kemiskinan telah menggerus wajah cantiknya yang macam pantat baskom kinclong baru beli dari Pasar Kliwon. Katanya, aku memang lahir dari rahim Proletar. Mungkin itu sebabnya mukaku kumuh, rambutku kusut dan ada lingkar hitam di kedua mataku akibat kelelahan memacu kuda sang tuan tanah.
Aku tinggal di sebuah negeri, dimana nama baik menjadi tuhan. Aku tinggal di sebuah negeri, di mana image menjadi tuan. Aku tinggal di sebuah negeri, di mana para pelayan bertingkah seperti bos. Aku tinggal di sebuah negeri yang bernama Negeri Citran. Tidak, tidak. Namanya Negeri Citran bukan karena di sini banyak terjadi pencitraan sebagai proses pembenaran nilai diri. Jelas bukan. Jangan salah paham. Karena nilai diri di negeri ini tak penting lagi. Yang terpenting adalah perut kenyang, kantong mekar, bodo amat dengan sekitar.
Ini cerita tentang negeriku. Negeri penuh komedi di dalamnya. Tapi maaf, jangan harap kalian akan tertawa membaca tulisanku. Tidak akan ada lucunya sama sekali.
Pokoknya setelah ini, kalau tidak ada kesibukan syuting film horor –yang notabene menjadi genre agak populer saat ini- saya, sebut saja Proleti, yang biasanya berperan sebagai kendi munculnya hantu-hantu, akan menceritakan kepadamu dongeng-dongeng di negeriku setiap malam sebelum kalian tidur. Agar tidur kita sama. Sama-sama tidak nyenyak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Negeri Citran
HumorBosan dengan pemikiran monoton? Mau ikut berimajinasi dan berpikiran gila, keluar dari garis kenormalan pada umumnya? Proleti akan mengajakmu menyampaikan sindiran dan kritikan melalui imajinasi tanpa batas, bebas. Namun, jika kamu tidak siap menjad...
