"Ayah ... "
26 Oktober 2016
Ayah meninggal hari itu. Air mata meledak di setiap sudut ruangan, tak terkecuali aku.
"Ayah ... "
Jeritku dalam hati. Bagaimana pun juga aku sudah berjanji untuk tidak menunjukkan kesedihanku dihadapan orang lain. Bukannya menangis berlebihan dihadapan orang lain tandanya lemah kan, yah? Dan aku pun membuktikan bahwa aku tak selemah itu. Walau kenyataannya sesekali air mata masih saja lancang membasahi pipi. Karena kehilanganmu adalah kisah paling menyedihkan yang pernah aku jalani.
Aku masuk ke dalam rumah yang sudah dipadati para tetangga dan kerabat. Mereka menghampiri dan memberikan semangat serta memelukku penuh belas kasih yang ku balas dengan senyuman tak bergairah. Ku dapati tubuh ayah yang sudah tak bernyawa. Aku mendekat. Aku membuka kain yang menutupi seluruh tubuhnya yang kekar. Ku tatap lekat-lekat wajahnya sebagai salam perpisahan.
"Ayah, bukankah percakapan kita tadi malam belum selesai? Ayah kan berjanji untuk menceritakannya nanti malam? Lantas kenapa ayah pergi? Bukankah laki-laki rentan mengingkari sebuah janji? Lalu jika ayah pergi, bagaimana dengan janji ayah? Apakah ayah akan melupakannya begitu saja?" tanyaku beruntun yang ku tahu pasti, ayah tak akan pernah menjawab satu pertanyaan pun.
"Oke, baiklah ayah. Lupakan janji kita semalam. Aku mempunyai janji baru untuk ayah. Aku hanya ingin, ketika ayah sudah sampai di istana baru ayah, jangan pernah melupakan gubuk tua ini. Tempat dimana kita berbagi tawa dan tangis bersama. Ketika ayah menemui orang-orang baru yang jauh hebat, jangan pernah melupakan kami, istri dan kelima anakmu ini. Satu lagi, ayah jangan lupa kirimi kami alamat barumu, agar kelak kami dapat menemuimu lagi. Jika kami tak juga menemukan alamatmu, segera cari kami, takutnya kami tersesat. Karena jika Allah berkehendak, aku ingin selalu bersamamu." kataku lirih.
***
Ayah, masih ingatkah engkau kepadaku? Salah satu gadis kecilmu yang kini tumbuh dewasa. Anak bungsumu yang paling manja dan kekanak-kanakkan. Si gadis berkepang dua yang sering membasahi bahumu akibat tangisan kesedihanku kala itu. Si bocah polos yang selalu meminta kau untuk menggendongku ketika aku merasa lelah menapaki jalan. Ayah pasti masih mengingatku, kan? Ayah tidak mungkin semudah itu melupakanku.
Sejak ayah pergi, aku merasakan kehilangan yang mendalam. Aku merindukan masa-masa yang kita habiskan bersama, walau pun seiring berjalannya waktu kebersamaan itu sering menjumpai jeda yang panjang karena kau harus menjalankan tugas utamamu sebagai kepala keluarga. Mengais rezeki dengan pergi dari satu kampung ke kampung lainnya atau sekadar berdiam di pasar untuk menjajakan buah-buahan yang kau jual. Ya, ayah hanya seorang pedagang yang mungkin penghasilannya tak seberapa. Tapi aku tetap bangga padamu. Dengan hasil keringatmu dari dini hari sampai petang datang, aku bisa seperti sekarang. Sayangnya, di penghujung usiamu, aku belum bisa membalasnya.
Ayah. Ingatkah waktu aku berusia 6 tahun? Kau selalu membawaku berjalan-jalan keliling kampung halaman di sore hari sambil menikmati pemandangan yang luas nan indah. Menikmati udara sore hari yang belum tercemar kala itu. Kau mengajakku berkelana untuk mengenal apa makna hidup sesungguhnya.
Ayah dengan sabarnya mendengarkan cerita-ceritaku tentang sekolah, guru, dan teman baruku. Satu nasihatmu yang tak pernah ku lupa sampai saat ini, "nak, kamu memang seorang anak perempuan, tapi kamu tetap harus kuat! Jangan menjadi sosok yang lemah karena tangisanmu yang kau tunjukkan pada dunia. Ayah tahu, dunia tak semanis permen yang kau pegang itu, tapi yakinlah dunia tak sepahit yang kau bayangkan. Dewasa nanti, kau akan menjumpai orang-orang dengan berbagai macam karakter dan masalah yang berbeda-beda. Ayah tak bisa menjamin setiap orang akan menyukai kita. Pasti ada saja orang yang berusaha menjatuhkan. Tapi ayah yakin, kamu gadis ayah yang kuat, kamu mampu menghadapi semua itu. Jangan pernah membenci mereka yang tak menyukaimu. Hidup saja seperti biasa. Ini perihal perbedaan pendapat dan cara pikir, jadi kamu harus menghargai sudut pandang mereka walau faktanya tak sejalan dengan apa yang kamu harap. Satu hal lagi, kamu lebih baik tidak pernah memberi tahu siapa pun selain Allah, baik itu tawamu maupun tangismu. Karena yang benar-benar tahu dirimu hanya dirimu dan Allah semata. Berbagi ceritalah denganNya, jangan dengan sesama manusia, karena mereka hanya dapat menilai dari sudut pandang mereka sendiri." dimasa itulah ayah memberiku nasihat yang sejak saat itu aku pikirkan.
Pernah aku berpikir dan memohon kepada Allah untuk mengembalikanmu ke dalam hidup kami lagi. Rasanya, aku belum siap jika harus kehilanganmu. Namun aku sadar, cinta kasih Allah pada ayah lebih besar dibandingkan rasa cintaku pada ayah. Aku tidak boleh egois, aku yakin ini jalan yang terbaik yang sudah Allah atur. Apalagi ketika aku harus mengingat bagaimana menderitanya ayah menahan rasa sakit yang ayah derita beberapa tahun ini.
Terima kasih untuk segala hal-hal tak terlupakan yang pernah ayah ciptakan. Ayah akan selalu menjadi bagian dari diriku. Ayah adalah alasanku untuk tetap bertahan hidup walaupun DUNIA TAK SEMANIS PERMEN.
Ditunggu kritik dan sarannya ya 😊 jangan lupa tinggalkan jejak vote dan comment 😂
ESTÁS LEYENDO
Ayah, Dunia Tak Semanis Permen
Novela JuvenilIni bukan tentang permen. Ini bercerita tentang seorang gadis berusia 20-an yang sedang mengartikan makna hidup yang sesungguhnya. Proses pembentukan jati diri yang penuh lika-liku setelah kehilangan sosok ayah yang sangat ia cintai, ia harus tetap...
