Magic Story

2.6K 222 90
                                        

Siang itu matahari bersinar terik hingga udara terasa begitu panas menyengat, membuat ratusan warga yang berbaris membentuk layaknya ular panjang memenuhi lapangan tempat diadakannya pembagian sembako gratis oleh pemerintah mengalami dampak dari cuaca panas tersebut, meskipun begitu mereka bertahan untuk mengantri demi mendapatkan jatah mereka dengan perasaan senang.

Levi melonggarkan cravat yang ia kenakan saat udara panas yang semakin membuatnya menjadi gerah dan risih kala tubuhnya yang mulai berkeringat, saat ini ia tengah menemani Erwin selaku panitia dari pembagian sembako tersebut. Ia merasa bosan dengan hanya duduk disamping Erwin yang tengah mencatat setiap nama dari para penduduk miskin tersebut, lalu tatapan Levi jatuh pada seorang gadis dengan syal merah yang melilit leher dan menutupi sebagian wajahnya, gadis itu ikut mengantri untuk mendapatkan jatah sembako gratis dari Erwin, Levi terpaku saat melihat mata onyx gadis itu yang begitu kelam namun menawan hingga membuat Levi tak bisa berpaling dari manik indah tersebut, pandangan gadis itu terlihat suram seakan banyak beban yang ia pikul dalam kehidupannya membuat Levi seakan terseret kedalam rasa penasarannya yang tiba-tiba mencuat pada sang gadis.

Lalu tiba saatnya untuk gadis itu mengambil jatah sembakonya dan ia disambut hangat oleh Erwin.

"Siapa namamu nona?" Pertanyaan Erwin seakan mewakili apa yang ingin diketahui oleh Levi.

"Mikasa Ackerman." Ucap gadis itu yang membuat Erwin maupun Levi terperangah menatap gadis itu seakan mereka tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

Angin berhembus menerpa mereka membuat syal merah sang gadis tersingkap memperlihatkan paras cantik dari sosok Mikasa Ackerman, dan Levi pun terpaku tak bisa melepaskan tatapannya pada gadis itu.

.
.
.
.
.

*
.
.
.
.
.

Dengan berbekal dua buah ember Mikasa mengambil air dari sumur yang dekat dengan gubuknya, ia membawa air tersebut untuk menyirami segala macam tanaman yang tumbuh di kebun belakang gubuknya dan ia terus melakukannya berulang kali sampai tanaman-tanaman itu cukup air untuk tumbuh, musim kemarau yang panjang membuat Mikasa harus bekerja lebih ekstra untuk merawat kebunnya yang menjadi sumber penghasilannya selama ini, Mikasa tak ingin sampai tanaman-tanaman itu mati karena dari tanaman itulah Mikasa bergantung hidup.

Setelah selesai menyirami Mikasa mengambil wadah besar untuk memanen buah-buahan yang telah siap panen, dengan bantuan sebuah tangga Mikasa mulai memilah berbagai macam buah tersebut yang berada diatas pohon, tak memperdulikan peluh yang membanjiri wajah cantiknya ia begitu menekuni rutinitas hariannya, karena hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk menghibur diri di kesehariannya yang sepi tanpa siapapun menemani, setidaknya jika ia sibuk ia tak akan merasakan kesepian yang menyesakkan itu.

Kini giliran Mikasa untuk memanen buah jeruk miliknya yang terlihat beberapa diantaranya telah menguning, ia kembali memilah dan memetik dari pohon jeruk tersebut dengan tinggi pohon yang tak seberapa membuat Mikasa mudah menjangkau jeruk-jeruk itu tanpa bantuan tangga. Dahinya mengernyit saat ia mendapati sebuah jeruk yang terasa ringan dalam genggamannya, karena didorong oleh rasa penasaran akhirnya Mikasa membelah jeruk tersebut dan ia begitu terkejut saat melihat jeruk itu tanpa isi didalamnya terlihat sangat bersih tanpa sebutir bulir pun, tapi Mikasa mendapati sebuah lubang kecil seukuran jari kelingkingnya disalah satu sisi jeruk tersebut. Ulat kah? Tak mau ambil pusing Mikasa membuang jeruk yang tinggal kulit tersebut dan kembali memanen jeruk-jeruknya yang tertunda.

Dengan hanya diterangi sebuah lilin yang berfungsi sebagai pencahayaan utama gubuk lusuhnya, malam ini Mikasa menyibukkan diri dengan mengelap buah-buahan tersebut agar terlihat lebih bersih dan menarik, satu demi satu Mikasa mengelap buah yang jumlahnya lebih dari dua keranjang besar tersebut dan ia berencana akan membawa buah-buah itu kepasar esok pagi untuk menjualnya, kembali dahi Mikasa dibuat mengkerut saat ia mendapati salah satu jeruknya terasa ringan seperti yang ia temukan siang tadi lalu ia pun membelah jeruk tersebut dengan jari-jarinya tapi alangkah terkejutnya ia saat mendapati sosok asing didalam buah tersebut, awalnya ia mengira sosok itu adalah ulat tapi bentuknya tak mirip dengan ulat membuat Mikasa mendekatkan jeruk tersebut pada lilin agar ia bisa lebih jelas mengamati sosok tersebut, mata Mikasa terbelalak saat menyadari mahkluk aneh didalam jeruk tersebut, mahkluk itu seperti manusia hanya saja memiliki ukuran yang sangat kecil mungkin seukuran jari kelingkingnya dan mahkluk itu meringkuk diam tak bergerak dalam kulit jeruk yang sudah tak berisi.

Orange Fairies (Magic Story)Stories to obsess over. Discover now