Alardo Zanqueen tak pernah menerima penolakan. Nadia menolak, tapi berada dalam jangkauan pria itu berarti menghadapi dominasi yang menakutkan. Dalam ketegangan yang memuncak, Nadia harus memutuskan: tunduk atau melawan, sebelum semuanya terlambat.
Sekarang, Nadia berada di Jerman, namun bukan di ibu kota. Ia tinggal di sebuah desa kecil yang benar-benar terpencil, dengan populasi hanya sekitar 150 orang—ditambah dirinya, menjadi 151, hehehe.
Desa itu dikelilingi bukit hijau dan hutan pinus yang rimbun, dengan jalan setapak sempit berbatu yang menghubungkan rumah-rumah kayu tradisional. Atap-atapnya ditutupi genteng merah, dan taman-taman kecil di depan rumah dipenuhi bunga-bunga liar yang berwarna cerah. Udara di sini begitu segar, jauh berbeda dengan kota besar; hampir tidak ada kendaraan bermotor yang melintas, sehingga suara burung dan aliran sungai kecil terdengar jelas.
Nadia tinggal di sebuah rumah kayu sederhana di tepi desa, dengan jendela besar yang menghadap ke ladang gandum. Setiap pagi, cahaya matahari menembus tirai tipis, menerangi ruangan dengan hangat, sementara aroma tanah basah dan bunga liar memenuhi udara. Desa yang sunyi ini memberinya rasa aman, jauh dari hiruk-pikuk kota, dan membuatnya merasa seolah dunia hanya miliknya sendiri.
Sudah lebih dari seminggu Nadia tinggal di desa terpencil di Jerman, sebuah tempat yang jarang terhubung dengan internet dan sinyal GPS, sehingga sulit dilacak secara digital. Meski terpencil, desa ini cukup lengkap—ada klinik medis dengan dokter yang kompeten, sekolah kecil untuk anak-anak lokal, dan taman bermain sederhana yang luas untuk ukuran desa.
Nadia sangat bersyukur atas fasilitas klinik itu. Ia bisa memeriksa kondisinya secara rutin, memastikan semuanya baik-baik saja. Beberapa minggu lalu, hasil hubungan yang terjadi sebelum ia pindah ke Jerman membuatnya hamil. Beruntung ia bertindak cepat dan memilih pindah ke desa terpencil ini, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Ia juga mengurus kebun bunga yang cukup luas dan ladang gandum di sekitarnya. Semua ini berkat uang yang ditinggalkan pria malam itu; tanpa bantuan itu, mungkin ia tak akan bisa bertahan sampai sekarang.
Ketika ladang gandum dan kebun bunga mulai menghasilkan pendapatan, Nadia bertekad menebus kebaikan pria itu secara perlahan. Toh, mungkin bagi orang lain, kebun bunganya tak terlalu menarik atau berharga—tapi baginya, itu adalah sumber kehidupan dan kebebasan yang harus dijaga dengan hati-hati.
Sekarang, Nadia sedang mendekorasi rumah barunya. Sebenarnya, kemarin ia sudah menyelesaikan bagian belakang rumah dan dapur, tetapi ruang tamu, kamar, dan teras belum ia sentuh sama sekali.
Hari ini, fokusnya adalah ruang tamu. Nadia memilih wallpaper berwarna hijau mentah dengan motif daun di tengahnya. Alasannya sederhana: sofa yang ia letakkan di ruang tamu juga berwarna hijau, sehingga warna tembok dan furnitur selaras, menciptakan kesan sejuk dan harmonis di ruangan.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Setelah selesai mendekorasi ruang tamu, Nadia beralih ke teras. Di sini, ia tak perlu repot-repot; dengan teras seluas ini, ia bisa menata berbagai bunga, dari yang kecil hingga yang besar. Bagi Nadia, tempat ini sekarang menjadi zona ternyaman yang pernah ia rasakan, di mana udara segar dan warna-warni bunga membuatnya merasa tenang.
Saat ia asyik memindahkan pot-pot bunga, tiba-tiba seorang pria dewasa muncul. Ia tampak berusia sekitar 25 tahun, dengan rambut hitam, mata coklat, dan kulit sedikit kecokelatan. Langkahnya mantap, matanya menatap Nadia dengan penuh perhatian saat ia mendekat.