Happy Reading!<3
Hujan kembali menjatuhkan rintik nya tanpa henti, hari yang sebelum nya cerah oleh Sang Surya kini berubah. Tetesan nya memberikan sebuah senyum tipis terhadap gadis yang sedang duduk di lobby IGD itu.
Ia berdiri berjalan pelan menuju rintikan hujan itu, ia membiarkan telapak tangan kecil nya merasakan hujan untuk kesekian kali nya. Ia terdiam, menutup mata nya, merasakan ketenangan yang selama ini ia rindu kan. Perlahan namun pasti, tanpa sadar ia menjatuhkan diri nya disana, bersama sang Hujan yang ia banggakan.
Kini putaran waktu dimulai, sebuah Bab baru kehidupan nya telah datang, dengan rintikan hujan di sore itu membawa nya untuk memisahkan diri nya dengan seseorang dan mempertemukan dia dengan seseorang yang mungkin mengubah hidup nya saat ini.
•○•
Cahaya lampu masuk dan menyeruak kedalam retina mata gadis itu, tangan nya masih terjerat oleh infus, ia tak mengingat apa-apa, terakhir ia hanya menikmati hujan di Lobby IGD itu
Ia berusaha bangun sambil membawa infus ditangan nya, dengan tergopoh-gopoh menuju kamar 22 dengan tujuan melihat ibunya beserta adik nya yang kecelakaan, saat mendengar kabar itu, detik itu Raina gadis itu syok dan merasa seluruh dunia nya hancur, ia tak punya apa-apa lagi. Hanya ibunda nya dan adik nya satu-satu nya.
Kriet!
"Kita tidak bisa menyelamatkan nya, kita sudah berusaha semampu kita, Maafkan kami Pak"
Pria paruh baya itu termenung atas ucapan dokter itu barusan, Raina yang sudah mendengar penjelasan dokter itu hanya bisa diam, tatatapan nya kosong ditambah hujan yang masih mengguyur deras semua isak tangis nya tenggelam pada deras nya hujan disana, kini dirinya merasa hancur.
Gadis itu tidak punya apa-apa lagi, semua keluarganya sudah meninggalkan nya, semua, semuanya. Kini ia berjongkok lemas di pojokan ruangan putih itu,masih menetral kan isak tangis nya yang teramat kencang.
"Saya akan mengurus biaya perawatan ibu mu dan adik mu, saya mohon maaf sebesar-besar nya, saja berjanji akan mengurus keperluan kamu, semua nya, permisi"
Raina ia masih menangis sejadi-jadi nya, ia tak rela melihat kedua orang yang berharga di hidup nya berada di atas bangsal putih tak bernyawa.
"Ibu, Maafin Raina yang selama ini nyusahin Ibu, maafin Raina kalo Rania kadang gamau nurut sama Ibu, Ibu tenang ya disana, Raina pasti gak lupain semua jasa-jasa ibu selama ini, Makasi buat semua nya I-ibuuuu"
Raina melimpahkan semua tangisan nya semua kata-kata yang ia sempat ungkapan pada saat terakhir kali nya, disamping jasad wanita paruh baya itu dilihat nya seorang balita kecil tak bernyawa, tangan dan kepala terlilit kasa putih,dengan gelang pemberian Ibu nya sendiri.
Raina menangis lagi di samping balita kecil itu, ia menangis lagi hingga tak terdengar karena suara nya mulai memelan dan tipis.
"Maafin kakak dik, kakak belum bisa jadi kakak yang baik buat adik. Ka-kakak mo-mohon jaga ya Ibu di-disana, Kak Ina sayang adik"
Hingga seorang dokter menyadarkan semua nya, ia menutup seluruh tubuh keduanya, Raina hanya bisa pasrah semua nya sudah terjadi. Hanya menunggu pemakaman kedua keluarga nya itu.
•○•
Hujan berhenti pada saat pemakaman kedua keluarga Raina, mungkin Tuhan ingin memudahkan jalan kedua nya untuk menuju kehadapan-Nya.
Raina yang menggunakan baju polos putih itu masih menangisi makam keduanya, kini kantung mata nya sembab, tak pernah ia menangis seperti ini, Pria paruh baya yang berada disamping nya hanya bisa pasrah.
Pak Bima merasa sangat bersalah sekali, ia sudah menghancurkan sebuah keluarga kecil tak berdosa ini. Ia masih ingat saat ia tak fokus menyetir karena sebuah telepon meeting yang penting. Mobil nya tak bisa dikendalikan, semua nya terjadi begitu saja, hingga ia menabrak seorang wanita dengan anak nya.
Masa depan Raina kini tak bisa ditebak, Ia hanya punya dirinya dan rumah untuk tempat berlindung dan tidur. Jika makan mungkin ia harus bekerja sampingan sepulang sekolah nya.
"Raina,,saya minta maaf untuk semua nya, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri agar membiayai semua kebutuhan kamu, setiap bulan saya akan berikan uang, tolong di terima, agar hutang saya bisa saya lunasi walaupun tidak bisa mengembalikan semuanya, termasuk ibu dan adik kamu, Saya pamit. Raina"
Pak Bima meninggalkan gadis itu sendirian, rasa bersalahnya membuatnya larut dalam kesedihan gadis itu juga.
"Pak! Tunggu".
Raina mengungkap kan semua yang ia harus katakan, tentang masa depan nya dan kedepan nya seperti apa. Hidup nya kini bergantung pada dirinya dan mungkin Pak Bima.
"Terimakasih atas tanggung jawab nya, maafkan saya merepotkan bapak untuk kali ini saja, tapi saya akan bekerja, saya akan memenuhi kebutuhan saya sendiri, Kalau begitu saya permisi"
Raina berlajan pelan meninggalkan pemakaman kedua keluarga nya. Hari sudah berubah menjadi gelap. Sang surya sudah pergi dari ufuk fajar.
Hujan gerimis kembali mengguyur lagi, untung hanya gerimis, jalan raya di kota semakin ramai, pengendara sepeda motor mulai menggunakan mantel atau sekadar berteduh di halte.
Raina kedinginan, wajar saja. Ia hanya memakai pakaian pemakaman putih polos, ia menikmati sentuhan dingin yang menerpa kulit nya.
Saat ini ia merenungi dirinya sendiri dan hujan, ia kagum terhadap hujan.
-Belajarlah dari Hujan, ia rela mendatangi bumi walaupun tau rasa nya jatuh berkali-kali-
-Sama seperti diriku saat ini, Hujan mengajarkan kita,untuk terus bangkit dan berusaha walaupun tau rasa jatuh dan sakit berkali-kali.-
•○•
Votement!
KAMU SEDANG MEMBACA
RaiNathan✔.
Fiksi Remaja"Hanya lo cwok yang bisa nyamain ke cinta gue sama hujan dan cinta gue sama lo"--Raina "Percaya atau gak!Lo satu-satu nya cwek bisa ngerubah dan buka hati gue. Lagi"--Nathan •Raina Claudia. Gadis cantik Primadona sekolah karena dicap sebagai murid t...
