NAMANYA AYSA

93 5 0
                                        


"Tak bisa aku lupa tentangmu Aysa berat rasanya, entahlah mungkin ini hanya Nafsu"

******

Waktu itu aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu, salah satu sekolah swasta kenamaan di Tuban, pondokku terkenal dengan pondok yang "mewah"  sangat mewah bahkan bagaimana tidak, ke utara ke selatan ke barat ke timur ke segala penjuru arah mata ini memandang maka hamparan hijau padi akan tampak melambai lambai, burung-burung yang bernyayi, para petani yang saling bertukar sapa memerkan senyum siapa yang paling indah, dan bisa ditebak aku disini terjebak ah bukan terjebak lebih sopannya terkepung diantara sawah-sawah itu, hijau, rindang, asri itulah tiga kata yang pas disisipkan setelah nama pondokku, dan di tengah sawah inilah aku tau bahwa ada makhluk tuhan yang disiapkan buatku, mungkin. 

                            
Deng... Deng... Deng..., kelasku seolah tak bernyawa kalau sudah seperti ini semua masih saja sibuk dengan laptop nya masing-masing tak ayal akupun melakukan hal yang sama bermesraan dengan game kesayangan, padahal kalo tanpa ada laptop di depan kami beuh belum bel istirhat pun kami sudah absen sudah lari menuju kantin mencari nasi ataupun lauk sisa tadi pagi yang rasanya masyaallah nikmat sekali, padahal lauknya hanya gorengan atau apapun yang bisa jadi teman nasi mungkin karena makan bersama itulah, makanannya jadi terasa seperti makanan di hotel berbintang (padahal nggak pernah makan di hotel berbintang hehe).  tak jarang juga kami hanya makan intip nasi, kadang juga nggak ada nasi yang bersisa. tapi kalo ada laptop bersama kami, lapar jadi hilang ngantuk jadi lupa ada pelajaran pun kadang terlupa, ya namanya anak pondok bertemu barang elektronik sudah seperti  anak yang ketemu mainan keinginan, gimana nggak gitu, kita dari pagi dibangunin buat salat tahajjud berjamaah terus abis itu shalat shubuh berjamaah abis itu nyari hafalan pun berjamaah tak jarang aku terkena selang sakti Ustadz Arif sang Waka Ma'had kami, abis itu piket lingkungan kemudian mandi dan sarapan kalo masih ada waktu kalo ngga ada ya tahan sampai istirahat itupun kalo masih ada nasi, dengan acara yang seabrek itulah mungkin kami atau aku sekarang masih berkutat dengan game ini sekedar melepas tekanan yang dimulai dari dini hari.  

Lima menit bel istirahat berlalu, tak juga membuat tubuh ini ingin bergerak, rasanya aku hanya ingin berdua dengan laptop hitam pelepas tekanan, ya walaupun pada akhirnya si laptop terduakan oleh si perut sih hehe, "rul ayok ke kantin" aku mennyenggol bahu Bahrul sahabatku, "ayo" tanpa ba bi bu ia langsung mau "din ikut ta?" tanyaku ke izzudin orang paling soleh sekelas XII Ips, keluarlah kami bertiga hendak menuju kantin,
"eh gimana tugas ekonomi wes rampung ra?"  Bahrulkmengingatkan, "eh, tugas dari Us Hanin itu?" tanyaku dengan gaya lupa ya memang lupa sih "iya power point Ekonomi makro, tentang pengangguran" jelasnya singkat, dan itu sudah cukup melemahkan jiwa dan raga, "alamak lupa aku,""la ket mau lapo?wong mau izin laptopan kan kanggo ngerjakno tugas" jelasnya  "ah" akupun tepuk jidat,  aku belum sama sekali ngerjain, "dari tadi nge game, " celetukku "yowes na ayo cepetan" akupun setengah berlari sambil menarik sahabatku.

oh iya Bahrul itu orangnya tawadhu'nya minta ampun, orangnya periang, dan menurutku dia cerdas juga. Terbukti dengan  celoteh yang kerap ia keluarkan begitu saja tanpa pikir panjang, kesanya memang awuran sih tapi menurutku itu sebuah kecerdasan linguistik (apasi).

baru sampek depan asrama Ustadz Sholeh memanggil Izzuddin "iya tadz" jawabnya "uangmu nggak kamu ambil?"tanya ustadz sholeh "eh sek yo" katanya ''hemm, cepetan" aku berkata sambil terburu buru "kesusunan iku ga apek, iku ngono teko syetan" aku menoleh ternyata Bahrul yang barusan menyermahiku "huff, yasudahlah" aku menurut karena memang biasanya setelah Izzuddin mendapatkan uang maka dia tak segan-segan untuk membeli lauk makan untuk kami, memang dia itu sudahlah sholeh dermawan pula.

di sela sela itu aku bertanya pada sahabatku "rul, piye iki ?" aku merengek kepadanya, opone? Aku hurong ngerjakno tugas ekonomi , "alah tak kiro tugas Basa Indo, ekonomi mah gampang" "ha tugas b. Indo ?"  "iya" santainya iya menjawab. Sudah ada tugas ekonomi masih ada bahasa  indo "kasihan aku" aku membatin mengasihani diri sendiri

5 menit kemudian  

...
...
...
...

Baru sepelemparan batu dari depan Asrama aku berhenti aku melihat sesosok makhluk penuh misteri, aku seperti tau dia tapi siapa? akupun melihat dia  sekali lagi demi tau siapa dia sebenarnya, dua kali aku pun tak peduli aku berjalan lagi tapi rasanya mata ini otomatis melihatnya sekali lagi lengkap 3 kali lah mataku melihat dia, eh kali ini berbeda sekarang dia juga mencuri pandang, tak ayal mata kami pun saling berkenalan.

Ah moment ini, dia kemudian langsung menunduk mungkin dia malu karena mata kita saling beradu.

Sudah bisa ditebak, aku berjalan ke kantin dengan pikiran yang tak karuan, jarang jarang memang eh bukan jarang jarang sih tapi ini pertama kali iya ini pertama kali mata kita bertemu,

"eh antum yang bayarin ya" sikut izzudin padaku "eh iya iya" buyar sudah lamunanku dipecahkan oleh seorang Izzudin hemm.. "bener nih?" tanyanya lagi "apa apa.. Eh nggak deh kan antum yg habis ngambil uang" aku membela diri, "hemm dasar, ya"  diapun menyodorkan uang ke mbak kantin.
"nah gitu donk kan enak hehehe"

*****

"aduh mati lagi" bisikku "la laptopnya aja belum kamu nyalain gimana mau nyala" aku menoleh "oh iya" aku menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
"assalamualaikum,  udah pada selesai belum tugasnya?" tanya bu Hanin, "sial belum juga nyalain laptop udah aja masuk" batinku "udah us ppt itukan?" Arin si tukang omel bin perhatian itu dengan pedenya ngejawab "iya" kata beliau.


Sigaplah aku mengetik  disela sela temenku menerangkan ppt nya "mana habib sakit lagi" aku terus menggerutu, harusnya aku sekelompok denganya tapi karena dia sedang terbaring di kamar asrama , al hasil aku hanya sendirian jomblo dong.. Hehe,

Arsyad sudah siap? "Sudah bu" aku menjawab tak yakin, "yasudah silahkan maju terangin ke temen temenmu" perintah Ustadzah Hanin "i iya us" aku menunduk sambil menenteng laptop sesekali melihat keluar jendela kelas "eh itukan", batinku kaget, untuk yang kedua kalinya aku melihatnya lagi, sekarang aku mengenalinya dia si hafidzoh itu "syad ayok buruan" "eh hehe iya us"..
       
 ******      

Malam itu juga aku tidak bisa tidur bukan karena tugas yang seabrek tapi karena tadi mata kita saling berkenalan.. Ini pertama kalinya aku bersitatap denganya, alhasil keletihan hari ini berganti dengan apa ya ya pokoknya seneng,

"eh yan temenmu ada yang hafal quran ya?" "iya" jawabnya "namanya siapa?" "siapa ya.. Oh iya aysa fatma" "oh aysa fatma" "kenapa?" "ndak tanya aja"aku ngeles "yasudah makasih ya" "heem" Iyan lembali berkutat dengan gulingnya dan akupun sama berkutat dengan mimpi indah denganya,, (si tukang nyinyir": apaan si lebay. aku: biarin:)😆 )

AysaWhere stories live. Discover now