Langit disore hari sangatlah indah, karena ada senja disana. Menikmatinya dengan secangkir kopi, dan menulis kata yang ada di benak-ku namun tak terucap.
My name is Grace and this is my story, i know ini bukan cerita yang kalian harapkan.
"ayo sedang buat apa?" Harry sukses membuyarkan semua khayalanku.
"rahasia." aku menatapnya dengan ledekan dan menutup buku yang berisi tulisan-tulisan tak masuk akal.
"kita sudah kenal limabelas tahun Grace, LIMA BELAS TAHUN." terlihat Harry yang menunjukan jarinya, dengan wajah kesal.
Aku tersenyum, "aku sedang menulis kata yang tak terucap, tapi kamu nggak boleh lihat." buku itu ku amankan, agar Harry tidak bisa membacanya.
"hmm baiklah, ayo pulang." Aku mengangguk, dia datang hanya untuk menjemputku.
Suasananya berubah menjadi canggung, karena itu aku memutuskan memutar lagu.
"Kamu sudah makan belum?" aku menggerakan kepala yang artinya tidak.
"jangan terlalu banyak minum kopi, Grace. Tidak baik untuk kesehatan."
"iyaa." aku selalu mengiyakan apa yang dikatakan Harry, karena tidak ingin berdebat panjang dengannya.
Mobilnya terparkir di rumahku, kita berjalan memasuki rumah dan ternyata di dalam ada Dad and Mom yang berbicara sepertinya serius.
"hai mom, dad." aku mengecup kening mereka,
"bagaimana harimu, Grace?"
"biasa saja mom."
Harry berdiri menunggu gilirannya berbicara ketika aku selesai, "Hai Harry, thanks sudah mengantarkan Grace pulang. Ayo makan malam bersama?"
"no problem paman, makasih atas tawarannya. Aku harus kembali ke kantor."
"jangan kerja terlalu keras, harry." mom memeluk Harry seperti anaknya sendiri.
"Iyaa bi, bye." Harry pamit untuk kembali ke kantor, "bye Grace, oh ya paman, tolong nasihati Grace ya agar tidak berlebihan minum kopi"
Dad menatapku kesal, "ok, hati-hati." Harry tersenyum dan meninggalkan ruang keluarga.
Dad menatapku kesal, lalu aku memberinya senyuman usil dan kabur ke kamar untuk membersihkan diri.
"huft segarnya!" akhirnya selesai menata kembali wajahku, dan waktunya makan malam.
Hidangannya sangat lezat dan sehat, benar-benar kesukaanku,
"Grace sampai kapan kamu seperti ini terus?"
"maksudnya?" aku menaikan alis dan memotong steak yang ada di hadapanku.
"kapan kamu kerja? Berumah tangga?"
Aku sangat tidak nyaman, di suguhkan pertanyaan seperti ini.
"i don't know, aku tidak tertarik." jawabku jujur.
"Grace Bolton! Untuk apa gelar summa cumlaude mu di bidang ekonomi bisnis?" suara Dad sangat frustasi, mom pun mencoba menenangkan.
"aku tidak minat di jurusan itu, dad. Yang menyuruhku memilih jurusan itu siapa? Daddy kan? Aku wujudkan dengan gelar itu. Kapan aku bisa mewujudkan impianku sendiri?" aku mencoba menjelaskan semuanya ke daddy, dia melepas kacamatanya dan menatapku.
"maaf kan daddy, Grace. Daddy tidak bermaksud mengatur hidupmu, baiklah Grace boleh melakukan apa saja yang Grace mau." mendengar daddy berkata seperti itu, aku merasa sangat tidak enak. Daddy memang sosok ayah yang baik, selalu mendengar perkataan anaknya.
Aku memutuskan untuk bekerja, lagipula tidak ada salahnya bukan?
"hmm mom? Dad? Ok aku akan kerja."
Mendengar kalimat yang keluar dari mulutku, wajah mom dan dad sangat senang. "kamu besok bisa langsung kerja di perusahaan dad. As a CEO." mom mengelus rambutku, "ok mom."
HAAII JADI INI IDE STORY NYA DATANGNYA SANGAT AMAT RANDOM YA. MENURUT AKU YG 21st Day ceritanya sangat BERAT.
JADI AKU MEMUTUSKAN MENULIS CERITA YANG RINGAN-RINGAN AJA TAPI SAMPAI KE HATI. OKAY?
INI CHAPTERNYA MEMANG MASIH PENDEK BTW ROBERT TETAP JADI PEMERAN UTAMA YA. MEMANG SENGAJA BELUM AKU MUNCULIN. HEHEHEHE
LOVE YOU GAAAIIISS!! 💓🌹
KAMU SEDANG MEMBACA
WEDDING AGREEMENT
Fanfiction[ROBERT DOWNEY JR] [BAHASA INDONESIA] Merelakan memang tidak mudah, tetapi bertahan dalam kepalsuan lebih menyakitkan.
