Namaku Adila Khanza Humaira, biasa dipanggil Adila, Dila, Adek dan juga Ning. Tapi, ku mohon agar tidak memanggilku 'Ning', karena gelar itu begitu berat. Sadar kelakuanku masih seperti ini rasanya tak pantas disebut itu.
Orang bilang mataku tidak terlalu bulat dan tidak terlalu sipit mirip seperti mata Ummi, dengan bulu mata lentik juga bola mata hitam legam, hidung lumayan mancunglah dikit, ditambah lesung pipi disebelah kanan dan kiri, terkesan manis karena warna kulit tidak seputih Ummi apalagi seputih mbak Aini. Kulitku sawo matang hampir busuk.
Iya, tahu dari dulu emang aku nakal sekali, suka tidak betah di rumah, so happy banget main panas-panasan, mungkin itu salah satu sebabnya. Atau bisa juga karena aku anak bungsu kali, ya? Kalau kata orang sunda anak bungsu itu 'panyesaan' yang artinya 'sisaan.'
Lanjut! Aku adalah seorang anak Kiya'i pemilik Yayasan Pondok Pesantren. Walaupun seorang anak kiya'i, bukan seperti anak Kiya'i pada umumnya, yang sudah memakai kerudung syar'i, bergamis panjang yang nampak anggun dan shalihah, kerudung masih pendek dan karakter tidak ada anggun-anggunnya masih jauh dari kata salihah.
Abiku bernama K.H Husein Al Arif dan Ummiku bernama Nyai Hj. Amina Sehal Mahfudzh. Terlahir sebagai anak terakhir dari tujuh bersaudara, lima kakakku semua laki-laki kecuali aku dan mbak Aini anak perempuan. Jangan suruh aku sebutkan semua nama kakak laki-lakiku ya! Gak apa-apa juga sih kalau kalian maksa. Oke, aku sebutkan dari yang pertama, ada Kak Adam, Kak Abbad, Kak Ali, Kak Alim, dan Kak Aziz.
Jangan heran karena semua namanya berawal dari huruf "A" Semua itu karena Abi sangat menyukai jika nama anak-anaknya berawal dari huruf "A". Asal kalian tahu ya, semua kakakku itu rajin-rajin dan tekun-tekun, berbeda denganku yang malasnya naudzubillah. Empat Kakak laki-laki sudah menjadi ustadz dan sudah menikah, ada yang mengajar di pesantren Abi, ada juga yang memegang bisnis di luar Pesantren.
Tersisa hanya Kak Aziz sebagai kakak laki-laki yang masih sendiri, dia sedang mengejar pendidikan di Mesir selama sepuluh tahun lamanya, aku saja hampir lupa-lupa ingat dengan wajahnya. Karena terakhir aku bisa melihatnya ketika umurku mau ke tujuh tahun, sedangkan sekarang umurku sudah tujuh belas tahun, sudah lama sekali, kan?
Aku pernah bertanya kepada Abi, kenapa Kak Aziz lama sekali tinggal di Mesir? Kata Abi, karena Kak Aziz anak yang penurut dan pintar ia sedang dididik di sana, terlebih dia yang akan meneruskan perjuangan Abi di Pesantren ini, lebih tepatnya yang akan menempati posisi Abi, Wah.. Maa Syaa Allah, bukan?
Lho kok, kenapa harus Kak Aziz? Kenapa tidak kakak laki-lakiku yang lainnya, pokoknya jangan tanyakan itu padaku, mungkin saja memang Kak Aziz pilihan Abi yang terbaik. Hey kalian tidak boleh menandai kak Aziz! Apalagi masuk kedalam kategori idamanmu, tidak boleh!
Nah, tinggal aku dan mbak Aini yang masih ketat dalam pengawasan Abi, mbak Aini pendidikannya sudah beres dan dikabarkan akan segera menikah, lah aku? Aku masih sekolah dan masih suka dipantau habis-habisan oleh Ummi dan Abi. Nasib-nasib.
Walaupun sebenarnya sekolahku juga sudah ditingkat akhir karena aku sudah di kelas enam, kalau di sekolah umum mungkin setingkat dengan SMA kelas dua belas, namun tetap saja aku malas kalau harus belajar terus apalagi di tingkat akhir ini akan banyak sekali tugas dan latihan untuk ujian, rasanya aku malas sekali. Eh, tunggu! tumben sekali aku memikirkan ujian biasanya juga tidak peduli😅 Udah tidak usah aneh, karena inilah aku.
Oh iya, belum menceritakan hobi unikku kan pada kalian? Hobi unikku ini adalah tidur, sedikit saja aku mendapatkan posisi nyaman akan segera menguap dan langsung tertidur pulas, mulai di ubin masjid, di kelas, di tumpukkan baju, di kamar mandi, bahkan di dapur pada saat praktek memasak. Hebatkan aku? Udah jangan kaget begitu.
Hobiku bukan hanya tidur, aku punya satu hobi lagi yang unik walaupun hobi yang satu ini sudah lama sekali tidak dikembangkan, dulu waktu kecil aku disebut cewek tomboy tentunya karena hobiku adalah berkelahi dengan anak laki-laki, jika ada yang berani mengolok-olokku langsung aku habisi, sadis kan aku? akan tetapi aku tidak akan melakukan itu kepada teman-teman perempuanku. Nah, kalau dengan anak perempuan jurus yang aku keluarkan adalah jail aku sangat suka jika sudah menjaili teman perempuanku, itulah hobi-hobiku.
Di antara semua hobi-hobiku ini yang masih melekat dan istiqomah didiriku adalah hobi tidur. Karena hanya hobi ini yang paling mudah dan tidak membutuhkan tenaga😅. Untuk ta'arufannya sampai di sini dulu ya.
"Dil?"
"Dilaa?"
"Adilaaa... Banguun!"
"Iyaiya, sudah."
"Itu masih merem."
"Ini cuma matanya aja merem, aku sebenarnya sudah bangun."
"Halah, capek aku."
Hehe maaf ya? Tadi aku ta'arufan sambil rebahan, salam santuy dari Adila;)
# # #
(To be Continue)
Eh tunggu-tunggu,
tolong ambil baiknya dan buang buruknya ya!!
Cerita ini hanya karangan penulis semata.
Note:
Jangan jadi silent readers,ya? Kalau bagus tolong bantu aku dengan kalian kasih votenya, kalau kurang bagus boleh kritik
di bawah.
Jazakumullah khairan.
Happy Reading😘
_HijrahCintadiBilikPesantren_
✍Curitaana
•Karawang, 16 Juli 2019
06.16
YOU ARE READING
Hijrah Cinta di Bilik Pesantren
Teen FictionInilah ceritaku, cerita cintaku, juga cerita perjalanan hijrahku bersamanya. Iya, bersamanya. Bersama seseorang yang Allah pilihkan untukku. Seseorang yang mampu mendidik dan membimbingku untuk terus mencintai sang Maha Pencipta. Bilik Pesantren i...
