HAI KALIAN yang sudah mampir dan mensupport cerita ini aku mau ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya😭🙏 sempet kaget ceritaku ini bisa sampai 2k yang baca, ga nyangka sekaligus seneng😭❤ untuk akun kecil kek aku gini (T_T) niat hati pengen buat cerita baru tapi aku tunda alhasil ga jadi, ada niatan buat revisi lagi dan berhubung ini cerita pertama yang aku buat tentu masih begitu banyak kurangnya. Maklumin aja kalo masih monoton, agak kaku, bahkan random. Aku terus berusaha biar cerita yang aku buat lebih baik dan nyaman untuk dibaca.
Maka dari itu saran dan kritik yang bersifat membangun selalu terbuka.
Dah lah, enjoy ya happy reading everyone <3
•••••
14.15 PM
"Panas bet sih, gila."
Suara keluhan terdengar mengudara dengan cepat aku menoleh ke sebelah kanan dimana asal keluhan itu berasal. Lita, sahabatku.
"Beli air dingin aja, Ta." Saranku sambil memainkan bolpoin ditangan.
"Boleh juga." Lita mengangguk lalu melesat pergi menuju kantin.
Aku terkekeh melihat hal itu. Lalu sejenak merenggangkan otot-otot punggungku yang terasa pegal, hari ini terasa lebih panas entah karena cuaca atau kipas angin yang tidak bekerja seperti semestinya. Para siswi pun mengambil buku yang digunakannya sebagai kipas untuk mengurangi rasa panas itu, ada juga yang membawa kipas angin kecil otomatis lalu menempatkannya di atas meja, sedangkan para siswa entahlah mereka semua lebih memilih pergi keluar kelas ketimbang berdiam diri.
Ah, aku bersekolah di SMA Cemerlang menduduki kelas XI IPS 4 bersama dengan Lita, sahabatku sejak bangku menengah pertama.
Kelas hampir memasuki jam akhir, aku duduk diam memandangi lapangan dari jendela yang letaknya persis disebelah kiriku. Aku memikirkan bagaimana keadaan Ibu dan Bapakku, aku memang ingin belajar mandiri dan dewasa, selama ini aku selalu bergantung kepada orangtuaku. Tidak seperti kebanyakan gadis-gadis seusiaku yang menghabiskan uangnya untuk menjadi yang lebih trendy, fashionable, atau ingin dibilang kekini-kinian, membeli barang yang tidak jelas dan tidak berguna, dan hal lainnya. Aku tidak ingin seperti itu.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk tinggal dan menyewa sebuah apartment yang jauh dari orangtuaku berada, aku tau ini berbahaya, tetapi aku yakin bahwa aku ingin bisa hidup mandiri tanpa bantuan orangtuaku sekalipun. Terkadang perasaan takut pun selalu berhasil mengambil alih perhatianku ketika berdiam diri di apartment ku sendiri, entah karena aku yang belum terbiasa tinggal sendirian ataupun diriku yang selalu mensugestikan diriku akan takut tinggal sendirian.
Aku pasti bisa, harus.
"Kenapa lo?"
Sebuah suara menyadarkanku dari lamunan, aku mendapati Lita duduk di sebelahku sambil meneguk sebotol minuman isotonik dingin.
Aku menggeleng pelan. "Kantin rame?" tanyaku padanya.
"Meskipun udah siang, tetep aja rame."
"Tempat para umat melampiaskan rasa lapar dan bosan pasti kesana lah." Ucapku bangga lalu mengibas-ibaskan rambutku yang panjangnya hanya sebahu.
Lita menggeplak lenganku. "Sa ae lo."
Krriing krriing
Bel pulang pun berdering dengan nyaringnya, membuat siswa-siswi yang awalnya lesu, lemah, letih, loyo-loyo seketika langsung menemukan jati dirinya dengan semangat 45 meninggalkan kelas.
Aku memasukkan buku-buku ke dalam tas ku, melirik Lita yang sedang membuang sampah. "Kamu dijemput, Ta?"
Lita mengangguk. "Iya, nih Ra. Mau bareng ga?" tawarnya.
Aku menggeleng tidak ingin membuatnya repot. "Engga usah, Ta. Aku sendiri aja."
Tapi, Lita tidak akan berhenti sampai disitu saja.
"Ayo dong, Ra. Gue pengen pulang bareng lo." Lita menatapku dengan jurus puppy eyes nya, tetapi no, not today.
Tidak mempan terhadapku.
Aku menggeleng lagi. "Engga, Ta."
"Ayo bareng, Ra."
"Engga." Tolakku padanya yang bersikeras ingin pulang bersamaku.
"Ayo ih."
"Ra, ayo dong, ayo dong, ayoooo."
"Faraaa, ih lo mah."
Aku memutar bola mataku, kesal. "Engga, tjintah."
Terkadang aku heran, saat Lita selalu mengajakku untuk pulang bersamanya. Bukannya aku tidak mau, hanya saja aku ini tidak ingin merepotkan orang lain. Selagi masih bisa dilakukan sendiri, mengapa tidak?
"Ra."
Aku langsung mengangkat tanganku seolah-olah aku hendak memukulnya. "Kepret nih."
Lita cengengesan lalu mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja.
"Yaudah deh, dadah zheyengnya Lita. Hati-hati, mwah." Melambaikan tangannya dengan riang.
Aku pun membalas lambaiannya lalu beranjak pergi dari kelasku. Menghembuskan napas sebentar, menolehkan kepalaku untuk menyusuri koridor yang mulai sunyi dan sepi. Sekilas tertangkap oleh kedua mataku, kakak kelas yang menjadi langganan keluar masuk BK itu sedang bersiap untuk menaiki motor kesayangannya.
Aku mengangkat alis kananku, bertanya-tanya dalam hati dimana teman-teman si biang onar itu. Secara, biasanya dia selalu bersama dengan teman-temannya itu. Dan kemudian tersadar.
Ngapain juga dipikirin? Apa peduliku?
Dengan cepat diriku berjalan meninggalkan lingkungan sekolah menyusuri jalan, namun sebelum hal itu terjadi tatapanku telah beradu dengannya. Aku yang kaget segera memalingkan wajahku, berjalan kembali dengan perasaan gusar sepanjang perjalanan pulang.
••••••••
TBC
Jangan lupa voment yaa, sekian.
ESTÁS LEYENDO
Our Times (Completed)
RomanceTEEN FICTION Waktu... Setiap apa yang kita lakukan pasti akan selalu kita ingat, baik yang senang maupun sedih. Terkadang diri kita egois ingin mengingat hal yang membuat kita senang, terkadang juga diri kita egois berlarut-larut mengingat hal yang...
