Prolog

107 6 5
                                        

Tokyo, April 2016

Gadis itu membuka mata dan menyadari bahwa ia tidak berada di mana-mana, atau mungkin perkataan yang lebih tepatnya adalah ia tidak tahu ia berada di mana saat itu. Sekelilingnya tidak gelap, justru terang sekali sampai ia harus mengerjapkan mata berkali-kali untuk menyesuaikan penglihatannya terhadap cahaya berlebih. Begitu matanya telah terbiasa dengan pencahayaan tersebut, barulah sang gadis dapat mengidentifikasi ruangan tempatnya berada. Ia masih tidak tahu ia ada di mana, tetapi ia setidaknya dapat menyimpulkan bahwa ruangan itu adalah kamar tidur. Ada beberapa ranjang lain di kanan dan kirinya, mungkin total ranjang di kamar itu ada tiga atau empat. Selain ranjang, di kamar itu hanya ada nakas di tiap sisi ranjang, dua buah pintu masing-masing di sisi kanan dan kiri ruangan, serta sebuah jam digital di dekat pintu kanan. Ruangan itu benar-benar kamar tidur, tetapi lebih seperti kamar tidur formalitas alias hanya sekadar untuk ditinggali sejenak.

Perlahan, dengan menggunakan tangan kirinya yang masih lemas sebagai tumpuan, gadis itu bangkit. Ia meringis pelan karena seluruh tubuhnya terasa nyeri, tetapi ia tidak tahu pusat sakitnya di mana. Begitu gadis itu berhasil mengangkat tubuhnya, ia menyibak selimut putih yang menutupi separuh badannya. Dahi sang gadis mengernyit saat melihat pakaian tidak familier yang tengah ia kenakan—sebuah sweter panjang selutut merah marun dengan legging biru dongker. Memangnya ia punya setelan baju seperti itu? Sejak kapan?

Tatapan sang gadis berpindah dari badannya ke nakas di samping ranjang yang sedang ia tiduri. Di atas sana ada sebuah gelas berisi air mineral. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung meraih gelas tersebut dan menenggak isinya. Ditenggaknya air mineral di dalam gelas itu sampai habis tanpa benar-benar memikirkan mengapa ia bisa sampai sehaus itu saat bangun dari tidur. Apa yang terjadi kepadanya sebenarnya?

Selesai minum, barulah otaknya dapat ia gunakan untuk berpikir dengan lebih jernih. Ia berusaha memanggil ingatannya yang lemah—ia memang tidak pandai mengingat, tetapi bukan berarti ia tidak bisa mengingat. Belakangan ini, semua yang ia lakukan terasa seperti tidak nyata. Contoh sederhananya, ia merasa telah menggunakan uangnya untuk membeli pakaian, tetapi pakaian baru itu tidak ada padahal uangnya juga sudah ia gunakan. Ia merasa melakukan sesuatu—atau dipaksa melakukan sesuatu—tetapi bukti yang dapat menunjukkan bahwa ia telah melakukan sesuatu itu tidak dapat ia temukan.

Ingatan jernih terakhir yang dapat ia panggil dari kumpulan memorinya adalah saat ia sedang berjalan menuju rumah pada suatu sore menjelang malam. Tidak jarang ia pulang agak larut karena kesibukan yang menyitanya belakangan ini. Biasanya, selarut apa pun ia pulang, ia selalu berhasil tiba di rumah dalam keadaan selamat. Namun, hari itu ia tidak pernah tiba di rumah. Apa yang bisa ia ingat hanya kegelapan yang lebih pekat daripada langit malam, itu saja. Ia sudah tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya sendiri.

Saat mata dan otaknya telah kembali berfungsi, yang dilihatnya hanyalah belasan perempuan lain yang sama-sama berada dalam kondisi lemah sepertinya. Selain itu, ia melihat kaki-kaki kekar berjalan di sekitarnya, tetapi ia tidak sanggup mendongak untuk melihat wajah pemilik kaki-kaki itu. Ia bergerak sedikit karena tidak merasa nyaman dengan posisinya, lalu seseorang berkaki kekar datang menghampirinya dengan langkah tergesa. Gadis itu mengendus bahaya, tetapi badannya yang lemas serta tangan dan kakinya yang diikat cukup kencang membuatnya tidak sanggup untuk melarikan diri. Mendongakkan kepala saja ia tidak sanggup, apalagi berlari, bukan? Si pemilik kaki kekar mengomel dalam serentetan kata yang tidak bisa diingat sang gadis, lalu detik berikutnya, sang gadis merasakan tusukan kecil pada leher yang membuatnya langsung lelap dalam tidur.

Ingatan gadis itu berhenti sampai di sana. Ia masih tidak dapat memahami apa yang sudah terjadi padanya hari itu. Ia bahkan tidak ingat kapan persisnya hari itu jika dibandingkan dengan hari ini. Bisa jadi berhari-hari, bisa jadi pula masih hari yang sama. Sungguh, gadis itu tidak bisa menerka hari. Sepertinya dalam sebagian besar waktu yang dilaluinya sejak ia tidak pernah sampai di rumah itu ia berada dalam kondisi tidak sadar. Sebab selain karena ia tidak dapat mengingat apa-apa yang penting, ia juga tidak dapat menghitung waktu yang telah berjalan selama seluruh pandangannya gelap. Kalau memang ia tidak sadar, maka apa yang membuatnya tidak sadar? Apa yang sebenarnya terjadi?

Saat gadis itu masih sibuk bergumul dengan pikirannya, tahu-tahu seseorang masuk ke dalam ruangan dari pintu di sisi kanan. Gadis itu spontan menoleh dan melihat sesosok perempuan familier yang tampak lebih tua daripadanya dengan rambut hitam legam panjang sepinggang. Perempuan itu mengenakan sebuah kaus tebal berwarna merah terang dengan celana jin hitam. Begitu tatapan mereka bertemu, perempuan itu mengulas senyum.

"Sudah bangun?" tanyanya.

Sang gadis tahu kalau perempuan itu berbicara kepadanya—tidak ada siapa-siapa lagi di ruangan itu dan perempuan itu tidak mungkin bicara sendiri. Ia masih berjibaku dengan pikirannya sampai sesosok perempuan yang mirip dengan perempuan di hadapannya itu muncul di dalam memorinya. Perempuan itu adalah perempuan yang hanya ia berikan selembar kartu nama, dan setelahnya mereka tidak pernah bertemu lagi.

"Kamu—"


{bersambung}

The Abducted AndoWhere stories live. Discover now