Epilog

5.7K 156 12
                                    

Tidak terasa, sudah lima tahun waktuku berlalu tanpanya. Kini, yang kubisa lakukan hanyalah pergi ke tempat peristirahatannya dan memanjat doa agar Sang Kuasa memberinya kebahagiaan disana.

Bersama tiga buah hati yang kucintai, Nino, Nina, dan Nana, aku pergi ke pemakamnya, tentu saja didampingi pula oleh suami yang aku cintai, Rey.

Seperti biasa, aku datang tepat pada pukul tiga sore, seperti saat ia meninggalkanku. Disana sudah terlihat seorang pria tampan yang duduk menatap batu nisannya.

"Kak Zafar..." sapaku.

Ia menoleh, lalu melihat buah hatiku satu persatu,

"Dia adalah Nanamu," ujarku sambil memeluk Nana.

Ia menggendong Nana, lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang.

"Mamaa..." teriak Nana ketakutan.

"Tidak apa-apa Na. Dia adalah ayahmu," ujarku sambil menepuk pelan punggungnya

"Nggak mauuu.. Nana udah punya papa, Nana nggak mau punya ayah lagi mamaa.. Ayah Nana cuma satuu," teriaknya sambil meronta-ronta ingin dilepaskan

Dengan berat hati, Ryan melepaskan pelukannya. Nana langsung berlari menghampiri ayahnya, dan meminta digendong olehnya.

"Kenapa Nana ndak mau? Padahal om ini ganteng. Udah om cini cama Nina aja, Nina cuka om ganteng," ujar Nina genit

"Loh Nina kan sudah punya papa," goda Rey yang gemas melihat tingkah putrinya.

"Ndak mau papa jelek, aku maunya cama om ganteng," ujar Nina yang membuat tawa mereka semua pecah.

"Nina ih genit, kakak nggak suka," kesal Nino

"Bilang aja Kak Nino cembuluu.. Kak Nino udah gede macih cembuluan.. Uu cini kak Nino Nina cium bial ndak cembulu lagi," ujar Nina sembari melangkah maju mendekati Nino.

"Nggak mauu.. Mamaaa..." Nino berteriak sambil berlarian dikejar Nina, sementara Nana akhirnya ikut bergabung bersama mereka.

"Ckckck... Lihat noh, siapa yang ngajarin anak kamu itu," ujarku yang melihat tingkah gemas Nina

"Sifatnya dia kan menurun dari kamu, ma. Nino tuh yang mirip sifat aku," ujar Rey.

"Nggak yaa, Nino itu mirip aku. Bijaksana,"

Pffftt' Ryan menahan tawanya mendengar ucapanku yang membuatku sangat kesal kepadanya. Ku tendang kakinya sekeras mungkin, lalu kembali melihat putri-putriku.

"Padahal aku membesarkan mereka dengan adil. Tapi kenapa Nana terlihat begitu cerdas dan dewasa? Hmm padahal dia masih seumuran Nina,"

"Tentu saja, ia adalah produk dari bibit unggul sepertiku," timpal Ryan yang membuat aku dan Rey melirik sinis kearahnya.

"Hehehe.. Bukan seperti itu maksudku... Tapi.. Ehmm.. Memang seperti itu sih kenyataannya," ujar Ryan yang membuatku geleng-geleng kepala.

"Ngomong-ngomong,, sudah lima tahun Alif pergi meninggalkanku. Berarti usia Nana sekarang sudah lima tahun. Aku tidak tahu bahwa waktu berlalu begitu cepat hingga Nana sudah sebesar ini. Maaf sudah banyak merepotkanmu," ujar Ryan sembari duduk disamping makam Alif.

"Apa maksudmu. Aku tidak merasa direpotkan. Nana anak yang pintar, tentu saja aku senang mengasuhnya dan melihatnya tumbuh dewasa. Aku berharap Nina juga bisa sepertinya. Aku sungguh tidak keberatan mengasuh Nana, dia sudah kuanggap seperti anakku sendiri," ujarku kepada Ryan

"Terimakasih. Tapi sepertinya aku akan membawa Nana pergi ke Inggris. Aku ingin mengasuhnya sendiri. Aku tidak ingin dia menganggapku sebagai orang asing, aku sungguh kecewa mendengar ia tidak menginginkanku,"

Aku memeluk bahu Ryan, membantunya untuk tegar,
"Ia masih kecil, Kak. Ia belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Jangan merasa sedih. Ia akan terbiasa denganmu jika kalian sudah tinggal bersama,"

Ryan menatapku, kemudian kembali menunduk sedih meratapi nasibnya,
"Makasih ya, Liv. Nana adalah satu-satunya hal yang ditinggalkan Alif untukku. Aku akan bertanggung jawab untuknya,"

"Kini aku sudah siap untuk mengasuhnya. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama Nana. Aku akan mencoba yang terbaik untuknya," lanjut Ryan.

Ketika matahari semakin tenggelam dalam sangkarnya, kami memutuskan untuk pulang kerumah dan membicarakan lebih banyak hal lagi bersamanya. Aku tidak tahu kapan aku akan melihatnya lagi, jadi kuputuskan untuk menikmati waktu yang tersisa ini.

"Lif kami pergi dulu, kalau kamu ngerasa bosan datanglah sesekali ke mimpiku, aku merindukanmu," pamit Ryan.

Aku tersenyum kearahnya. Teddy bearku, aku bahagia karena kita memilih jalan yang indah ini. Aku bersyukur karena telah memberikan kenangan indah kepada Alif di sisa hidupnya. Tentu saja, aku bersyukur karena kini kamu juga telah melepaskan semua bebanmu dan memilih untuk bahagia.

Biarlah kisah kita menjadi sejarah, bahwa cinta tidak harus memiliki. Biarlah kisah kita memberikan contoh bahwa ada yang lebih indah dari cinta, yaitu hidup.

Teddy bearku, kamu telah berhasil mengubahku. Kamu mengeluarkanku dari bayang-bayang semu dan menjadikanku bintang yang bersinar terang. Terima kasih atas segalanya.

Aku sungguh bahagia bahwa aku memiliki takdirku sendiri, bahwa aku akhirnya bebas menjadi diriku sendiri. Aku senang aku bukanlah Alif dan Alif bukanlah aku. Dan aku senang kami tidak berbagi takdir. Kami memiliki hidup kami sendiri yang membuat kami bahagia.

Dear my teddy bear, terima kasih telah menjadi pengukir sejarah dalam hidupku. Terima kasih telah menjadi takdir terindah untuk Alif, dan terimakasih telah memberikanku kebahagiaan yang tidak pernah berakhir.

Aku mencintaimu dikehidupan ini dan selanjutnya. Dan tentu saja cinta itu tidak akan pernah berkurang walaupun tidak akan sebesar cinta Alif padamu. Aku bersyukur karena kamu membawaku pada pelukan Rey, lelaki yang sangat bertanggung jawab ini. Akan kupastikan aku menjalani kehidupanku yang bahagia ini bersamanya, terima kasih atas segalanya.

Its' Me

It's Me (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang