Tetangga

120 9 0
                                        

Gadis itu merapihkan rambut ungunya yang tertiup angin. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kota yang ia lewati,  dengan kacamata berbingkai hitam yang bertengger manis di atas hidung mungilnya. Perlahan, seulas senyum muncul di bibirnya yang tipis, senyum yang seringkali tak bisa dimengerti orang apa maksudnya.

Di tubuhnya yang tinggi terbalut dress se lutut, tak lupa gadis itu mengenakan jaket kulitnya yang berwarna krem. Ia mengenakan pump shoes kesukaannya yang berwarna hitam. Sebenarnya ia sudah cukup tinggi tanpa mengenakan pump shoes.

Rambut gadis itu masih dibiarkan tergerai, angin malam perlahan menyibak rambutnya. 'Pukul enam' batin Alanna sambil melihat arloji di tangannya. Ia masih mendorong kopernya sampai di lobby apartemen abangnya.  Sudah lima tahun ini ia tidak pulang ke kota asalnya, Palembang. Banyak perubahan yang terjadi selama Alanna meninggalkan kota ini, termasuk pembangunan beberapa apartemen yang laris manis.
Setahu Alanna terakhir kali ia berada disini, apartemen tidak begitu laku. Namun ya begini lah keadaan kota yang makin berkembang.

Lana naik menuju lantai lima belas, abangnya sudah meninggalkan kartu akses apartemen yang sudah ia gandakan di lobby. Ia tahu, bahwa adik kecilnya itu akan tinggal dalam waktu yang cukup lama di apartemennya.

Tak membutuhkan banyak waktu agar Lana sampai ke kamar abangnya. Sesampainya di apartemen abangnya, ia menemukan abangnya sudah rapi, dengan chinos coklat dan blazzer hitamnya sedang menghabiskan omelet yang Alanna tebak ia buat sendiri.

"Buset, rapi amat," ujar Alanna, walaupun ia tak heran melihat penampilan abangnya.

"Lan, kamu kenalan dulu sana sama tetangga depan, siapa tau ada perlu, bisa minta tolong sama tetangga," ucap abangnya sambil merapikan meja makan.

"Kan udah ada kamu bang," jawab Alanna.

"Aku kan sibuk dan bakal jarang disini Lan, kamu juga ngga bisa bergantung sama aku terus," sahut abangnya.

"Iya. . ., ntar aku kenalan sama tetangga depan."

"Oke deh, aku tinggal dulu."

Alanna duduk di sofa sambil memikirkan perkataan abangnya, benar juga, setelah ini abangnya akan lebih sering keluar kota karena restoran barunya akan mulai dibuka pertengahan bulan ini, dan bisa saja ia merasa kesepian tinggal sendiri disini. Alanna mengambil dompet dan handphonenya lalu turun untuk membeli donat.

Apartemen abangnya cukup lengkap, seperti apartemennya yang di surabaya dulu namun lebih besar. Di lantai ini hanya terdapat dua unit kamar, yang membuat unit abangnya ini cukup besar untuk ditinggali sendiri. Terdiri atas duapuluh tingkat dengan rooftop di atasnya. Fasilitas lain seperti gym, laundry, minimarket, pool, dan beberapa bakery pun ada disini. Tak salah ia memilih apartemen abangnya untuk tinggal sementara waktu.

"Kak, donatnya satu dozen ya, dicampur aja," pesan Alanna. "Sama satu hot chocolate, diminum disini ya kak, donatnya dibungkus aja tapi."

"Baik saya ulangi pesanannya ya kak, satu hot choclate di minum disini dan satu dozen donat dibungkus, totalnya 158.000 dibayar tunai atau debit kak?" tanya kasir.

Alanna mengambil uang dari dompetnya, lalu mengambil pesanannya. Ia tak langsung naik ke kamarnya, melainkan duduk di meja paling ujung cafè itu.

Drttt. . . Drttt

Handphone Alanna bergetar. Alanna memang tak pernah menderingkan teleponnya. Terlalu berisik katanya. Jadi ia hanya me mode getarkan handphonenya untuk mengetahui jika ada telepon atau chat yang masuk.

Bang jeki : aku gapulang dek, km baik2 ya dirumah. Jangan bawa cowo kerumah okey.

Alanna tidak segera membalas pesan dari abangnya. Ia meletakkan handphonenya lagi dan memandang keluar jendela. Tak ada hal yang menarik yang dilihatnya, hanya taman dan kolam renang, selebihnya hanya orang yang bersenang-senang.

Alanna sendiri cukup senang karena di apartemen ini terdapat lounge yang bisa membuatnya sedikit terhibur.

"Tante rambutnya lucu deh," seorang anak kecil datang dan meraba rambut Alanna. Dan seorang perempuan muda dengan tergesa menghampirinya.

"Maaf mbak, anak saya suka nakal," ujarnya sambil menggendong anaknya. Anaknya kurang lebih berumur 5 tahun, dengan dua gigi ompong, rambut ikal sebahu dan mata coklat yang indah.

"Iya, mbak nggak papa, itu mbak pesanannya udah selesai, anaknya aku jagain dulu aja," jawab Alanna. Alanna bukan tipe orang yang suka dengan anak kecil, namun entah mengapa ia merasa terikat dengan gadis kecil ini, mata coklatnya mengingatkan Lana pada seseorang di masa lalunya, yang bahkan sampai saat ini masih belum bisa Alanna lupakan.

"Tante rambutnya bisa warna ungu, lucu," kata anak itu polos. "Leanna pengen deh punya rambut kayak tante, tapi rambut Leanna keriting," sambungnya lagi.

Alanna terdiam sambil mengelus rambut anak yang ia ketahui bernama Leanna itu. "Tante, Leanna tinggal di lantai lima belas loh. . ., di sana Leanna bisa liat mobil sama motor, kecil-kecil kayak semut," ujarnya sambil tertawa kecil. Anak ini hobi berbicara ternyata, batin Alanna.

"Tante juga tinggal di lantai lima belas loh sayang," jawab Lana. "Nanti kalo kamu udah gede bisa deh punya rambut kayak tante, kalo tante masih tinggal disini nanti tante ajarin," sambungnya.

"Mbak, makasih ya udah jagain anak saya, saya Freya mbak," ujar perempuan itu sambil menjulurkan telapak tangannya ke arah Alanna.

"Lana," sambutnya. "ngomong-ngomong, kita kayaknya tinggal di lantai yang sama deh mbak, saya juga tinggal di lantai lima belas. Tadi Leanna bilang dia tinggal di lantai lima belas."

"Kamu pacarnya Jehan ya?" tanyanya. Ya nama abangnya Alanna adalah Jehan. Dan Alanna dikira pacar dari abangnya sendiri. Alanna sontak tergelak.

"Kenapa Lan?" tanya Freya bingung.

"Jehan itu abangku, mbak," jawab Lana masih sambil tertawa. "Nggak mirip ya mbak?" tanya Alanna lagi.

"Oalah, adiknya Jehan? Maaf- maaf aku ngga pernah tau, soalnya selama tiga tahun disini Jehan sendiri terus," jelas Freya malu. Leanna yang awalnya duduk di pangkuan Alanna beranjak pindah untuk duduk dipangkuan mamanya.

"Iya mbak, saya baru dateng dari Surabaya, orang tua di sini sih punya rumah di daerah Sako, tapi ya memang udah lima tahun belum pulkam mbak. Mbak sendiri gimana, mohon maaf bila lancang, apa cuma tinggal sama Leanna?" tanya Lana.

"Oh, engga kok, sama papanya Leanna juga, tapi papanya lagi kerja Lan, kamu sendiri kenapa pindah ke Palembang Lan?" tanya Freya.

"Ini mbak, aku dapet panggilan jadi dosen tetap di Unsri, lumayanlah bisa dekat sama orang tua juga. Walaupun sebenarnya aku agak malas untuk tinggal di Palembang," jawab Lana sambil terkekeh. "Ditambah lagi otomatis aku harus menghitamkan rambutku, sayang aja sih," tambahnya sambil memegang rambutnya.

"Sebelumnya memang kerja dimana, Lan?" Tanya Freya.

"Penulis mbak, bukan yang kondang kok."

Tanpa disadari Leanna sudah terlelap di pangkuan mamanya. Freya membetulkan posisi tidur anaknya, lalu mengusap lembut kepalanya.

"Lan kalau mau ayo kita pindah ke apartemenku, sambil cerita-cerita. Enak nih, ada temen baru buat ngobrol, mumpung Leanna sudah tidur," ajak Freya. Lana pun tak enak hati untuk menolak ajakan Freya, toh tujuan utamanya kesini untuk membelikan Freya yang tak lain tetangga dari Abangnya ini donat, dan berkenalan. Mungkin setelah ini abangnya akan senang mengetahui Alanna sudah berteman dengan tetangga depannya.

ALANNAWhere stories live. Discover now