Satu menit tepat setelah lewat pukul dua belas malam ini aku memasuki usia dua puluh tiga tahun. Menumpang di dunia kepunyaan tuhan, menghirup udara tiap detik secara cuma-cuma. Mengingat begitu banyak hal yang sudah ku dapatkan selama dua puluh tiga tahun belakangan ini, aku benar-benar bersyukur rasanya.
Namun tetap saja, selayaknya manusia biasa yang tidak pernah puas akan apa yang telah di dapat, aku pun begitu. Merasa masih banyak hal yang ingin ku raih lewat kerja keras ku sendiri, terkhusus untuk tetap memiliki seorang pria bersurai coklat tua dengan manik berkilau seterang sirius di langit malam—Jeon Jungkook—.
Jika saja ku deskripksi kan seorang Jeon Jungkook rasanya tidak akan ada habisnya.
Pria yang dua tahun lebih tua dari ku begitu sempurna dari segi apapun—bagiku—.
Kelewat sempurna untuk ukuran seorang pria berusia dua puluh lima tahun, dari ujung kepala hingga jari kaki nya di pahat sempurna tanpa cacat oleh tuhan.
Banyak kemampuan dan kesuksesan yang telah di lakukan nya.
Sungguh benar-benar tidak mampu ke jelaskan semuanya. Bahkan sampai hari ini saja aku masih sering mendapati kejutan-kejutan lain yang ada dalam dirinya. Maka dari itu ku pikir memang tidak ada salah dari aku yang sudah terlalu menjatuhkan hati padanya.
Rasa-rasanya pria ini punya segudang cara untuk terus menjerat ku lagi dan lagi. Seolah ingin dunia tahu, bahwa hanya seorang Jeon Jungkook yang bisa memenangkan seorang Park Jira, baik jiwa maupun raga.
Bersama diri nya dapat ku temukan sumber kebahagian di kehidupan ku. Hanya dengan bersama nya ku pikir aku bisa tetap bernapas dan menjalani hidup. Klise sekali memang, bak cerita roman picisan di serial drama televisi. Namun tetap saja tidak bisa ku pungkiri.
Jeon Jungkook itu dunia ku, hidup ku, bahkan mati ku. Mencintai dan dicintai oleh nya merupakan salah satu anugerah terindah yang ku miliki semasa hidup.
Bahkan aku sering sekali berdoa pada tuhan, semoga tuhan mencabut nyawa ku sehari sebelum ia mencabut nyawa Jungkook. Karena aku sangat tidak mampu untuk kehilangnya.
Bahkan aku masih tidak bisa menemukan jawaban atas apa yang telah di lakukan Jungkook hingga mampu membuat ku sangat bergantung dan mencintai nya, alasan sederhana yang ku temukan karena ia adalah,
Jeon Jungkook.
——
Bahkan aku tidak sadar bahwa pria yang telah ku jadikan tumpuan hidupku selama lima tahun terakhir ini, kini sedang duduk tepat di hadapan ku setelah berhasil membuat ku terbangun sebelumnya. Memegang sebuah kue ulang tahun dengan dekorasi sederhana namun terlihat mewah, persis seperti selera nya.
"Ayo tiup lilin nya sayang sebelum mencair dan mengenai kue nya, jangan lupa untuk berdoa sebelumnya!" ucap nya.
"Ah iya baiklah" ucapku seraya menutup kedua mataku sembari merapalkan doa, kemudian setelahnya aku menghembuskan sedikit udara melalui bibir untuk meniup lilin dengan angka 23 yang tertancap di atas kue tersebut. Ini ulang tahun kelima ku yang ku rayakan bersama Jungkook.
Setelah selesai acara tiup meniup lilin tadi, Jungkook meletakkan kue tersebut di atas nakas di samping kiri ranjang kami.
"Hey, ayo tutup mata mu! Aku punya sesuatu untuk mu!" Selagi berucap ia meraih kedua telapak tangan ku dan membawa nya kedepan wajah ku guna menutupi mata ku.
"Mengapa harus menutup mata Jung, kau kan bisa langsung memberikan nya. Lagi pula kita tidak sedang merayakan ulang tahun anak umur tujuh belas tahun kan?" Protesku padanya.
"Tidak bisa, pokoknya kau harus tutup mata. Aku kan ingin memberi kejutan!"
Dari suara nya aku tahu saat ini ia pasti sedikit melakukan acara rajuk merajuk andalan nya untuk merayu ku saat ia mengingankan suatu hal. Memang Jeon Jungkook sekali.
YOU ARE READING
HOME
FanfictionSeberapa keras pun Park Jira mencoba menghilang dari pandang Jeon Jungkook, sekeras itu pula pria bermarga Jeon itu menemukan nya, lagi dan lagi. Bahkan kehadiran Kim Taehyung tetap tidak dapat menggantikan posisi Jungkook seratus persen di hati n...
