“Asilaaaaa!!!” Suara cempreng Bunga memenuhi seluruh kamar Asila, remaja SMA yang namanya hanya terdiri dari lima huruf. A.S.I.L.A. Bunga adalah sahabat yang Asila temukan saat masuk SMA. Benar-benar masuk SMA karena mereka pertama kali bertemu di gerbang pada hari pertama MOS (Masa Orientasi Sekolah).
“Bisa nggak, sih, suara lo kecilin. Ini gue lagi sakit”
Bunga nyengir, lantas menarik kursi belajar dan duduk disebelah ranjang Asila.
“Ngga bisa, lo tau suara gue emang gini.”
“Btw lo sakit apa?”
Asila menutup wajahnya dengan selimut. Padahal tadi pagi ia sudah mengirim surat keterangan dokter yang jelas disitu tertulis ia sakit demam, butuh istirahat tiga hari dan mengirimnya kepada Bunga yang kebetulan adalah sekretaris kelas.
Bunga yang melihat itu menarik selimut Asila agar wajah sahabatnya terlihat lagi.
“Kok ditutupin, sih!” Bunga cemberut.
“Gue capek jelasinnya. Tadi pagi jelas gue kirim foto surat keterangan dokter, disitu lo bisa baca gue sakit apa, Bunga.”
Suara Asila dibuat serendah mungkin agar Bunga paham.
Buru-buru sahabat Asila itu mengecek ponselnya lantas meringis saat membaca kembali pesan dari Asila. “Sorry, gue lupa.”
Nafas Asila keluar lelah.
Karena sudah tanggung membuka ponsel, Bunga jadi mengecek beberapa notifikasi yang datang dari akun instagram pacarnya, Rio. Dilihatnya ada sebuah pesan yang masuk dari Bryan, sahabat pacarnya.
“Lo dimana?”
Ia jadi teringat Rio pernah bilang bahwa Bryan sudah terlalu lama nge-jomblo, jadi suka sekali menanyakan keberadaannya. Bunga melihat kearah Asila yang kini terpejam, ia mempunyai ide yang menurutnya sangat cemerlang.
“Sil” Digoyangkannya bahu Asila, tapi temannya itu tetap tidak mau membuka matanya. “Asila, ih, gue mau ngomong.”
Suara bunga terlalu besar untuk Asila hiraukan. Akhirnya Asila membuka matanya “Ck! Apaan dah. Gue merem juga masih bisa denger.”
Bunga cemberut. “Galak amat, kelamaan jomblo, lo!”
Kalau Asila sedang sehat ia pasti sudah melotot dan berbicara panjang lebar kenapa ia jomblo. Dan alasannya masih sama, karena ia tidak suka drama orang pacaran.
“Lo mau ngomong apa ?”
Senyum cerah langsung datang dibibir mungil Bunga. Buru-buru ia tunjukan ponselnya pada Asila. “Temen gue ada yang mau kenalan sama lo”
Asila mengerutkan alisnya, menerima ponsel Bunga yang menunjukan foto seorang cowok yang sudah ia tahu bernama, Bryan.
“Bryan ?” Tanya Asila memastikan.
Bunga mengangguk cepat.
Asila menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan lalu menatap Bunga sambil menyerahkan kembali ponsel pada Bunga. “ Udah berapa kali lo ngedenger alasan kenapa dari dulu sampai sekarang gue belum pernah pacaran ?”
Bunga Nampak berpikir. Ia benar-benar terlihat sedang menghitung.
“Nggak terhitung” Jawab Bunga pelan.
“Jadi?”
Bunga menaikan kedua alisnya “Banyak?”
“Itu artinya ?”
“Lo belum mau pacaran”
Asila meletakkan kepalannya disandaran tempat tidur, ia memejamkan matanya lagi.
Melihat itu Bunga buru-buru mendekat. “Tapi kenalan dulu. Kenalan aja, dia mau kenalan sama lo.” Bunga menggoyang-goyangkan lengan Asila.
“Terserah abis kalian kenalan lo mau menjauh atau gimana, Sil”
Kepala Asila yang dari tadi terasa pusing nampak semakin pusing dengan rengekan Bunga, ia membuka matanya dan memandang Bunga.
“Sil, kenalan dulu.”
“Kenalan doang !”
Bunga mengangguk, Asila pasrah.
“Yaudah iya, lo atur aja.”
Mata Bunga sontak melotot “Lo serius, Sil?”
Asila mengangguk.
Bunga berdiri dan menari kesenangan “Yeayyy, akhirnya.”
Bagi Bunga, kesenangan tersendiri bisa membuat sahabatnya dekat dengan orang lain. Sudah lama sekali rasanya tidak mendengar Asila curhat tentang cowok yang dia suka. Semoga kelak, Bryan bisa menjadi orang yang Bunga tunggu-tunggu.
Asila kembali memejamkan matanya. Terserah Bunga ingin menari seperti apa. Ia hanya ingin tidur saat ini.
CITEȘTI
BRYAN
Ficțiune adolescențiSemua orang pernah ada dititik terlemah. Merasa sendirian. Merasa semua orang meninggalkan. Padahal, tidak ada yang benar-benar sendirian di muka bumi.
