Ezra, Penyihir muda asal Negeri Sihir yang ingin mengunjungi Negeri Fantasi mengggunakan lorong waktu karena ingin menemui seorang wanita disana. Tetapi yang dia dapatkan justru malah tersesat di Bumi, kebalikan dari Negeri Fantasi.
Semua ini bukan...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Suara teriakan dari Kakek Tua lagi-lagi terdengar, kalau di hitung dalam sehari Kakek Tua itu pasti bisa berteriak hingga 2x dalam sehari, tetapi walaupun berteriak, teriakannya tidak sampai mirip suara auman singa, Kakek tetaplah Kakek kalau berteriak tidak sampai bersuara lancang apalagi saat mengatakan "aaaa" saat mangap pasti gigi palsunya copot, itu selalu terjadi pada Kakek Margiptz.
"Iya Kekk apaan?" Ucap Ezra.
"Ambil dulu gigi palsu opahmu ini"
"Oh iya kek, bentar" Ezra menunjukan jarinya, dengan mantranya dia bisa membuat gigi palsu Kakek melayang-melayang sendiri.
Gigi palsu itu lalu di celupkan ke dalam gelas yang sudah berisi air hangat untuk membuat gigi palsu rekat di dalam mulut Kakek lagi. Itu semua berkat mantra Ezra, air hangat itu sekarang berubah fungsi menjadi lem, walaupun rasanya tetap air hangat rasa tawar seperti biasa.
"Kek, kan Kakek bisa ambil sendiri kek"
"Oh iya Kakek lupa ahahahah" Kakek tertawa hingga gigi aslinya keliatan, giginya cuma satu, gigi kelinci paling depan. Ezra yang melihat tawa Kakek ikut tertawa keras karena tawa meringas Kakek.
"Ahahahahahahahah" Ezra ikut tertawa, tetapi tertawa karena melihat Gigi Kakek yang ompong, bukan melanjutkan tawa Kakek yang sedang tertawa. Seketika Ezra terdiam..
"Dih jorok kek, masa ngiler" Ezra terdiam memperhatikan air liur kakek yang keluar seperti anak kecil yang berumur 1 tahun.
"Sembarangan kamu, mana gigi palsu Kakek. Balikin!" Wajah Kakek kini berubah marah sekarang, karena yang ada dipikiran Kakek, Ezra hanya meledek dirinya saja.
Ezra menunjuk jarinya lagi, sama seperti tadi, Ezra mengucapkan mantra untuk membuat gigi palsu itu melayang-layang lagi.
"Kakek.. Kakek.."
"Apa?"
"Nih Kek.."
"APA?"
"Mangap Kek"
"Aaaaa"
Alhasil, gigi palsu Kakek sudah berada di dalam mulut Kakek lagi dengan rekat karena air hangat itu, air hangat itu sudah diberi mantra oleh Ezra, itu semua berkat Ezra sang penyelamat Kakek, tanpa Ezra bagaimana Kakek makan nanti?
"Yaudah Kek, aku mau ke kamar dulu sebentar"
"Iya hati hati dijalan"
"Lah? Dikamar Kek, di kamar!"
"Kamu ke kamar jalan gak?"
"Jalan Kek, oh iya Kek kan emang Kakek selalu bener ya? Oh iya"
"Makanya jangan ngeremehin Kakek"
"Tos lahh"
Baru sempat menempelkan bokong di kasur, Ezra di panggil lagi oleh Kakek Margiptz, ada apa lagi?
"Ezraaaaaaaaa, sini kamuuu"
"Bentar Kek.."
"Apaan lagi Kek?" Ezra mengepalkan tangan, gemas dengan ulah Kakek.
"Ngapain ngepelin tangan?"
"Mau nonjok Kakek"
"NONJOK?"
"EH KECEPLOSAN" teriak Ezra dalam hati.
"Nggak kek, maksudnya gini kek"
"Tadikan Ezra baru aja merasakan alam tanpa Kakek, eh dipanggil lagi. Apaan lagi Kek?" Ezra mengelus dadanya sendiri.
"Kakek cuma nanya, kamu ngapain ngepelin tangan? Kenapa muter-muter?!"
"O.. Oh itu, tadi Ezra ngepelin tangan mau belajar buat tongkat sihir Ezra Kek, kan megang tongkat sihir di genggem masa tongkatnya terbang, kan nggak mungkin"
"Alesan aja.. Maksud kamu apa itu?"
"Apaan Kek?"
"Itu merasakan alam tanpa Kakek, apa itu?"
"Yah elah masih inget lagi.." ucap Ezra dalam hati.
"Maksudnya, tadi kan Ezra baru masuk kamar, dikamar kan nggak ada Kakek jadi Ezra ngehirup udara sendirian di kamar, tanpa Kakek"
"Begitu?"
"Iya kek, kita ke intinya aja dah, kenapa lagi Kek?"
"Ha?"
"Kek tadi Kakek manggil Ezra kenapa?"
"Oh itu.."
"Ini baju Kakek kenapa menciut begini sih?" yang tadinya kebingungan sekarang ekspresi wajah Kakek Margiptz berubah kesal, nampaknya baju kesayangan Kakek Margiptz menciut, tapi ulah siapa?
"Ini ulah kamu pasti, nggak mungkin Kakek lah. Baju kesayangan Kakek masa jadi menciut, kaya baju curut gini?"
"Itu kan Kakek yang nyuruh Ezra"
"Emang?"
"Iya Kek, katanya kan Kakek udah nggak mau sama baju itu, katanya udah jelek karena jelek jadinya di ciutin aja biar Kakek nggak lupa lagi buat make"
"Boong kamu, nggak masuk akal itu"
"Kek emang gitu kek, masa Kakek nggak inget padahal baru 2 hari yang lalu Kek"
"Oh iya, hm itu Kakek pura-pura lupa aja tadi" Ezra tersenyum, bukan senang tetapi agak cape meladeni Kakek Margiptz.
"Coba besarin lagi baju Kakek, zra"
"Kan Kakek bisa, buat apa Kakek ngajarin Ezra cara menyihir kalau begini doang Kakek nggak bisa Kek?"
"Oh iya.. hey kamu ngebantah Kakek? Ha?"
"Iya Kek iya, maaf hehe"
"Ketawa lagi, nanti nggak Kakek kasih tau ramalan itu mati penasaran kamu.."
"Oh iyaa Kek, Kakek janjinya kan mau ngasih tau ramalan itu dari kemaren. Sampe sekarang nggak dikasih tau sih Kek" sembaring mengobrol tangan Ezra bermain lagi kali ini mantranya berbeda, alhasil baju menciut Kakek kembali normal sesuai dengan tubuh Kakek.
"Nah gitu, ini baru cucu Kakek" Kakek memberi jari jempol.
"Oke Kek, tos lagi lah"
Sebenarnya perbincangan Ezra dengan Kakek tidak pernah jelas, tidak nyambung, dan selalu membingungkan Ezra.
Namun, Ezra masih tetap bersyukur mempunyai Kakek yang telah banyak berjasa untuknya, Orang Tua yang menurut Ezra sangat Asik, baik, juga yang telah merawat Ezra hingga sekarang.
Karena saat Ezra masih kecil Ayah Ezra telah tewas di mutilasi dan dibakar oleh Negeri Kurcaci disana, Ayahnya pernah menculik dan membunuh salah satu Kurcaci untuk dijadikan ramuan penyihir sedangkan Ibunya meninggal karena pernah di racuni oleh Kakak Tirinya sendiri, entah alasannya apa.
Ia telah menjadi anak yatim piatu saat berusia 7 tahun, memang Ezra bukanlah Cucu kandung Kakek Margiptz, namun sejujurnya kasih sayang Kakek kepada Ezra sangat Besar.
Dewa apa yang telah mempertemukan mereka hingga sampai sekarang tak kerasa Ezra sudah berumur 18 tahun dan tinggal bersama Kakek Margiptz, sampai sekarang.