1. Melihatnya

37 11 2
                                        

Selamat membaca!

■■

"Eh, tolong penitiin mahkota gue dong." Pinta Andira pada Aqila yang sudah selesai dimake up.

Perempuan bernama lengkap Aqila Nazrin Makarim itu pun menganggukkan kepalanya. Mengambil kerudung serta mahkota milik Andira, dengan telaten Aqila memasangkan mahkota milik Andira ke kerudungnya. Dari 12 anggota eskul saman, hanya Aqila, Andira, Freya, Rena, dan Vita yang menduduki kelas 11.

Hari ini merupakan pertama kalinya Aqila dan teman-temannya mengikuti lomba saman. Eskul saman di sekolahnya baru berdiri sejak lima bulan lalu. Di kotanya pun, baru dua sekolah yang memiliki eskul saman.

Saat mendengar ada lomba di SMA Pancasila, salah satu sekolah di Jakarta, Aqila dan teman-temannya begitu antusias dan rajin berlatih.

Setelah semua anak selesai dengan make up dan kostumnya, mereka bergegas untuk memasuki bis karena sudah di perintahkan oleh bu Ina-guru pembimbing eskul saman. Saat sudah di dalam bis, guru pembimbing membagikan makanan untuk mereka sarapan.

Sepanjang perjalanan diisi dengan canda tawa anak-anak saman. Sesekali mereka kembali mengingat gerakan-gerakan agar tidak terlupa.

Saat bu Ina memberi tahu bahwa mereka sudah sampai di SMA Pancasila, Aqila mulai merasa gugup. Begitupun dengan anak saman yang lainnya. Peserta yang ikut dalam lomba ini tidak sedikit.

Mereka harus mengisi absensi terlebih dahulu saat akan memasuki SMA Pancasila. Saat sudah ada di dalam, Aqila tak bisa menyembunyikan senyumannya.

Bagaimana tidak, baru memasuki gerbang saja ia sudah disuguhi pemandangan indah. Bukan pemandangan alam, melainkan cowok-cowok ganteng yang hilir mudik di depannya.

Tak henti-hetinya teman-teman Aqila berbisik tentang pemandangan indah itu. "Ih gila, seger banget langsung gua." Sekiranya itulah perkataan yang mampir ke telinga Aqila.

Aqila hanya diam tersenyum mendengar hal itu, tidak ikut berkomentar. Meski dia merupakan orang yang cerewet, tapi kalau mengenai cogan ia akan menjaga imagenya sebaik mungkin.

Aqila dan teman-temannya memasuki ruangan diarahkan oleh salah satu panitia. Saat menaiki tangga, sekilas Aqila melihat rombongan cowok-cowok ganteng yang berjalan berlawanan arah dengannya.

Di dalam ruangan, teriakan Naila pecah, "Kapan kita punya temen-temen cowo ganteng kaya disini!"

Jujur saja, populasi cowok ganteng di sekolahnya masih bisa di hitung jari. Jadi jangan heran kalau mereka beraksi berlebihan saat melihat cowok-cowok ganteng di sini.

"Hei, udah jangan mikirin cowok dulu. Mending kita latihan ringan lagi dulu, yuk. Udah ditunggu pelatih di bawah." Ingat bu Ina yang dibalas cengiran oleh anak-anak. Bu Ina adalah tipe guru yang tidak memusingkan candaan anak muda yang bisa dibilang tidak selaras dengannya.

Tak lama setelah mereka berlatih ringan, panitia acara memberi tahu setelah ini adalah giliran mereka untuk tampil.

Selesai tampil, Aqila dan yang lainnya mengabadikan momen dengan berfoto di dekat panggung lalu kembali ke ruangan untuk beristirahat dan berganti baju. Setelah berganti baju, bu Ina mengevaluasi penampilan pada saat tampil tadi.

"Apapun hasilnya nanti, yang terpenting kita sudah berusaha semaksimal mungkin dengan berlatih dan berdoa." Pesan Bu Ina.

Suara ketukan dari arah luar menginterupsi pembicaraan bu Ina. Setelah dipersilakan masuk, muncul seorang lelaki yang Aqila yakini adalah panitia karena memakai kaos yang sama dengan panitia yang lainnya.

In No TimeBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin