•Pertama

35 5 2
                                        

KRING...KRING...KRING

Sayu-sayu aku dapat mendengar bagaimana alarm itu memaksa ku keluar dari dimensi mimpi dengan cara berdenting, alarm yang baik. Tetapi aku tidak perduli dengan itu, aku tetap menutup mata ku rapat, karena jika kantuku masih melekat dalam iringan tidur, aku mendadak tuli dengan suara alarm yang bahkan menandingi toa abang-abang tahu bulat.

Namun, saat mataku belum sepenuhnya menapaki alam mimpi, tiba-tiba kalimat kramat menyapa indra pendengaranku dengan sadisnya.

"Oh jadi bundanya disuruh sumpahin biar telinga nya mendadak tuli?"

Iya itu bunda, bunda itu lebih sadis dari ibu-ibu nyinyir rasa koyo cabe, bunda juga lebih sadis dari netizen sosial media masa kini. Bunda memang tidak memakai cara membentak untuk membangunkan ku, tetapi entah mengapa ketika bunda bersuara, kata-kata nya seolah sudah diasah menjadi tajam sebelum ditancapkan.

Mau tidak mau, suka tidak suka, aku menegakan tubuhku sesuai permintaan bunda, bunda memang tidak menintanya, tetapi kalimat nya tadi menyiratkan pesan-pesan bermakna yang penuh berkah, subahanllah bunda. Aku segera berjalan gontai keluar kamar, mengabaikan Bunda yang berdiri di ambang pintu kamarku.

"Jadi Bundanya di bales cembetutan sok manjah nih pagi-pagi," kata Bunda, lagi.

Oh my lord, Bunda memang penguji kesabaran yang handal, selamat Bunda kau berhasil. Akhirnya, Aku berbalik arah menghadap Bunda, lalu menyengir kuda di hadapannya, hampir menyamai duta iklan pasta gigi. Bunda tertawa, lalu menangkup kedua pipiku dengan sepasang tangan halusnya.

"Mata genit nya mana...mata genitnya...." gurau Bunda seolah sedang berusaha menjahili anak balita.

"Bun.."

"Iya?"

"Kesabaran Aku kayaknya udah status siaga," ucapku memberitahu Bunda.

Bunda tertawa, lalu melepaskan tangkupan tangan nya dari pipiku.

"Oke, mandi sana."

Aku mengangguk sekali tanda pesetujuan, lalu kembali memandu kaki ku untuk pergi ke kamar mandi.

____________________________________________

Setelah memakai seragam lengkap dengan kucir kuda karya ku tadi, aku segera menghampiri Bunda yang sedang berdebat dengan alat-alat dapurnya.

"Bun, Aku berangkat sekarang," ucapku sambil menyalami tangan Bunda.

Bunda mengangguk dengan iringan senyum, lalu mengusap puncak kepalaku sayang, aghh aku memang anak yang cukup dimanjakan. Manja dalam artian dalam segala hal terpenuhi, tidak bukan itu, Bunda memanjakan ku dengan segala sayang nya, dimulai dari hal sederhana seperti pagi ini.

Aku segera membawa kaki ku keluar rumah dan mencari angkutan umum di halte depan jalan raya. Itu salah satu rutinitasku, aku memang terbiasa menggunakan angkutan umum ke sekolah, karena Bunda tidak bisa mengendarai kendaraan apapun, lalu ayahku? Jangan tanyakan, aku akan memberitahu, Ayahku telah meninggal sejak usiaku menginjak lima tahun, aku masih mengingat bagaiman Bunda cemas di ruang UGD, lalu Bunda menangis di gundukan tanah yang baru selesai ditimbun. Ayahku mengidap kanker paru-paru pada saat itu, dan tuhan telah sangat sayang pada Ayah. Sedangkan Aku,  Aku memang anak tunggal, si kesepian yang bersenang-senang dengan dirinya.

Tidak lama kemudian, angkutan umum yang kunanti tiba, aku bergegas dan merasakan hangat nya pagi yang disinari sang surya, daun yang mengembun mulai disapa mentari dengan senyum.

Angkutan umum yang aku tumpangi akhirnya tiba di depan halte sekolah ku, ya SMA Cendekia lima. Aku berjalan menyusuri koridor yang lumayan lenggang karena baru beberapa murid yang datang.

Saat aku memasuki kelas XII IPA 2, yang pertama menyambutku adalah Hanin, sahabatku. Hanin memang rajin datang sangat pagi, waktu itu saat ku tanya alasannya adalah untuk menghindari macet nya ibu kota, Hanin yang disiplin.

Aku menaruh tas di sebrang kursi yang Hanin duduki, Lalu Hanin segera menghadapkan tubuhnya agar dapat memandangku di sebrang meja miliknya tersebut.

"Ada cerita apa hari ini?" Tanya Hanin mengukir senyumannya.

Aku segera duduk di bangku milikku, menghadap Hanin juga pastinya, lalu memasang wajah cemberut yang aku tampilkan tadi pagi pada Bunda.

"Masa ya nin, tadi Bunda negurin gw, kayak tetangga sebelah gw negurin anak bayinya yang baru lahir," kata ku antusias.

Hanin sedikit tertawa mendengar penuturan ku, lalu kembali ke mode biasa masih dengan senyum manisnya.

"Anak Bunda udah gede...anak Bunda udah gede...nang ning ning nang nung, kaya gitu?" Kata Hanin mengejek.

"Yeuu Romlah, bukannn, kayak gini, mata genitnya mana...mana mata genitnyaaa,"

Hanin kembali tertawa menanggapi perkataan ku. Hanin itu orang nya cukup periang, dia juga ramah pada setiap orang, apalagi mukanya yang kecil dan imut semakin membuatnya disegani. Hanin cukup dibilang murid taat aturan, dia jarang berbincang atau berbaur pada teman kelas kecuali pada teman yang ia anggap dekat. Seperti Karisa teman sebangku ku, dan Pinkan teman sebangku Hanin.

Suka kesal memang ketika Hanin sempat berbuat salah, teman ku yang lain akan menganggap aku biang keladinya, karena mereka tidak akan percaya jika Hanin yang melanggarnya, padahal kan manusia tidak selamanya benar.

Seperti pada sebulan yang lalu ketika Arif memaksa Hanin untuk meberikan buku PR Hanin untuk ia contek jawabannya, namun Hanin tetap bersiteguh tidak memberikan buku PR nya pada Arif, padahal buku PR Hanin sering kali menjadi ajang contek menyontek, tetapi pada hari itu Hanin tidak memberikannya, mungkin karena memang soalnya sedikit sulit.

"Hanin...lo tega melihat pangeran disuruh jadi ubab"

"Rif, capek tau mikirnya," ketus Hanin

Aku yang sedang sibuk berbincang dengan karisa, teman sebangku ku, tiba-tiba dikejutkan dengan suara Arif yang asal nyeletuk.

"Nih pasti  Marwa kan yang ngajarin lo jadi pelit"

Si anying...

Aku gak terlalu perduli sama apa yang Arif katakan, lalu Maman yang sedang sibuk mencari contekan akhirnya menghampiri meja Hanin.

"Nin liat PR dong, gw belom asli"

"Gw aja gak dikasih-kasih man," ujar Arif yang masih menunggu jawaban dari PR Hanin, manusia laknat memang.

Mendengar penuturan Arif, sesama organisasi manusia termiris se-asia, Maman lalu beralih ke meja ku.

"Mar, lo jampe-jampe apaan si Hanin?"

"Yeuu beruk matraman, fintah aja bakat lo"

"Gak mau tau kasih gw contekan, bodo amat, gak mau tau, gak peduli gw," racau Maman

Mau tidak mau, aku mengulurkan buku PR ku pada Maman, karena sangat gerah mendengar celotehan-celotehan yang tak mempunyai tuan.

Ketika aku sedang menceritakan kejadian Bunda tadi pagi, Karisa dan Pinkan memasuki kelas bersamaan. Karisa segera menuju kursi nya dan menaruh sembarang tas miliknya, begitu pula Pinkan.

Author note's

Silahkan voment nya, semoga berkah muwhehehe:)

Salam manis
Tiara💞




ADMIRERStories to obsess over. Discover now