Cogan?

1.2K 38 3
                                        

(SUDAH REVISI)

Happy reading! 
*****

Dia Anzela, seorang remaja yang ceroboh dengan tingkat keaktifan tanpa batas hingga lupa akan sekitar.

Dia adalah Anzela atau biasa disapa Zela.
Pecinta cogan, dan seorang penghalu cerita  yang mungkin akan sering kalian jumpai di mana pun. Ia adalah tipe anak yang selalu berfikiran luas, saking luasnya hingga hanya dia seorang yang paham dengan ucapannya, dan orang lain hanya mendengarkan ucapanya tanpa menyaring.

Zela termasuk anak rumahan, ia selalu menolak ajakan temannya untuk pergi jalan-jalan maupun sekedar nongkrong cantik di cafe. Ia lebih memilih partnernya di setiap rebahan dari pada teman sekelasnya, masih sayang duit, dan waktu rebahannya.

Contohnya seperti sekarang, Zela tengah asyik menstalk akun IG doi tanpa peduli betapa  ramainya grup WhatsApp kelas sedang ribut untuk berkumpul menentukan tempat liburan akhir minggu mereka. Tidak sedikit yang nge-spam Zela untuk membujuknya agar ikut pergi minggu ini, katanya mereka sudah full team hanya tinggal Zela seorang.

Respon Zela? Ia hanya membisukan grup, dan mengabaikan semua pesan maupun telepon yang menyerangnya tanpa henti. Karena ia masih betah pada waktu berharganya dengan rebahan bersama partnernya, dan menstalk ig doi yang makin lama semakin ganteng melebihi orang-orang yang pernah menembak Zela.

Tetapi kegiatannya mau tak mau harus terhenti karena dobrakan pintu yang disusul dengan teriakan menggelegar di depan kamar mampu mengusik Zela.

Zela menatap sengit orang yang tengah berkacak pinggang menahan amarah di ubun-ubunnya. "Ditelepon berkali-kali gak diangkat. Cepat ganti baju keluar dalam waktu 10 menit atau listriknya akan diputus!" Zela menatap orang tersebut dengan heran, ia merasa tidak punya jadwal untuk keluar hari ini?

"Jangan bilang kamu lupa sama rencana minggu lalu?" Tebak orang itu seakan paham kebingungan yang melanda Zela.

Zela semakin mengernyitkan dahinya tak mengerti akan ucapan orang di hadapan Zela.
"Cafe," ucap orang itu.

Shitt, Zela baru paham akan tujuan kakaknya menghampiri kamarnya dengan berkacak pinggang. Rupanya lagi, dan lagi Zela melupakan janjinya dengan kedua tante beserta kakaknya yang jarang berada di rumah karena sibuk kerja. Pantas saja mak lampir itu sudah berkacak pinggang di depan pintunya dengan wajah kesal.

Zela hanya bisa cengengesan tanpa dosa menatap kakaknya yang sudah rapi dengan baju santainya. "Lupa kak," ucap Zela mulai beranjak dari kasur menuju lemarinya.

"Ck, turun dalam waktu 10 menit." Kakak Zela menutup pintu dengan kesal.

Untung saudara, kalo bukan udah gue qurbanin dari dulu. Eh, beruntung banget gue belum makan dari pagi. Zela membatin saat matanya tidak sengaja menatap nakas yang menunjukkan jam 11.26, sambil berjalan memasuki kamar mandi. Ia sudah membayangkan menyantap makanan-makanan yang sangat enak, Zela berharap semoga cafe kali ini makanannya tidak merugikan seperti sebelum-sebelumnya.

*****

Kriett...

Pintu terbuka disusul oleh bunyi lonceng khas cafe. Zela menatap sekitar dengan takjub, ruangan yang penuh dengan gambar unik, dan semerbak bau khas pizza langsung menyeruak memasuki rongga hidung.

Zela berjalan mengikuti kedua tantenya bak anak ayam, ia langsung duduk dan mengambil menu yang sudah tersedia di pinggir meja. Membuka menu makanan dengan berbinar, ia menatap perutnya yang sudah berbunyi sejak tadi di perjalanan, karena saat perjalanan dari rumahnya ke cafe membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam hanya untuk tersesat mengikuti petunjuk dari Mbah Google yang kadang menyesatkannya tidak tangggung-tanggung.

Halu Stories to obsess over. Discover now