Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Awal

90 9 2
                                        

Jemari lentik itu menyentuh dengan lembut gaun putih dengan mutiara kecil yang cantik. Rambutnya ditata sedemikian rupa, terlihat seperti ratu kerajaan. Dan memang benar, sebentar lagi ia akan dinikahi oleh seorang pangeran kerajaan. Sungguh tak terbayangkan olehnya sebelumnya.

Di depannya berdiri sesosok pria tampan yang menatapnya. Memakai jas hitam dengan jahitan khusus untuk dirinya. Tubuhnya yang ideal membuatnya terlihat sangat sempurna. Pria itu melayangkan senyum miringnya kearah wanita itu. Mulai berjalan pelan, sepatu pantofelnya mengeluarkan suara ketukan seksi yang mahal.

Pria itu mengulurkan tangannya, alisnya yang tebal memberikan sinyal kepada sosok cantik di depannya. Wanita itu menerima uluran tangan yang kekar itu dengan senyum manis. Kedua insan itu mulai berjalan menuju aula istana.

Lantai istana membuat mata calon ratu kerajaan menyipit, terlalu mengkilat. Marmer tinggi berwarna putih khas eropa membuat istana terlihat kokoh. Terdapat lampu dengan berlian yang berkilau di sepanjang lorong.

Mereka menaiki tangga ke atas altar, siap mengucapkan janji suci. Terukir senyum manis bahagia di bibir keduanya. Mempelai pria diperkenankan untuk memulai,

"Solene..."

Solene merasakan jantungnya hampir loncat keluar, degupannya teramat cepat dan keras, sehingga mungkin saja pangeran mendengarnya. Ia menghembuskan napasnya agar lebih tenang. Tetapi degupannya terlalu kuat dan membuatnya pusing.

Solene menahan rasa pusing itu dengan terus tersenyum menatap prianya. Tiba-tiba Solene hanya melihat kegelapan setelah tubuhnya limbung ke belakang.

"Solene!"








"Solene Yiersa!!!"

Suara gebrakan keras yang berasal dari meja itu membuat gadis yang tertidur terlonjak kaget. Ia memegangi dadanya merasakan jantungnya yang seperti ingin meledak. Terlihat Rivan, yang melotot kearahnya seperti akan memakannya bulat-bulat.

"Jadi daritadi kamu nggak dengerin saya? Malah enak-enakan tidur," tanya Rivan menahan emosi.

Solene menggigit bibirnya gugup, takut akan dilempar menggunakan penggaris besi disamping Rivan. Gadis itu hanya menatap Rivan dengan muka melas. Menepuk kecil kelopak matanya dengan jarinya.

"Maaf, kak. Nggak sengaja.." ucapnya dengan mengatupkan kedua tangannya.

Rivan yang melihat itu mulai mengembalikan suasana yang membuatnya sedikit emosi seperti semula. Mencoba sabar menghadapi Solene yang selalu saja tidur saat ia menerangkan. Rivan meminta Solene segera menyelesaikan soal-soal ujian dengan waktu dua puluh menit.

Terlihat Solene yang berusaha menahan kantuk sambil mengerjakan soal. Sejujurnya Rivan kasihan pada gadis itu, sehabis pulang sekolah Solene bekerja. Walau hanya mengantarkan botol-botol susu menggunakan sepeda. Jika dibayangkan sangat lelah apalagi harus mencari alamat yang belum tentu ia temui dengan cepat.

Setelah mengantar susu, Solene datang ke rumahnya untuk belajar. Disini ia sebagai guru les Solene. Saat itu Rivan berniat mencabik-cabit siapapun yang memencet bel rumahnya dengan bar-bar. Gadis itu datang ke rumahnya dini hari, bayangkan! Dan hanya meminta Rivan mengajarinya dalam belajar. Solene menawarkan bayaran ke Rivan yang hanya separuh dari upah mengantar botol-botol susu yang tak sampai lima ratus ribu rupiah.

Rivan menanyakan kenapa gadis itu memintanya untuk membimbingnya dalam belajar, kenapa tidak orang lain. Dan Solene dengan polosnya menjawab, ia tak sengaja menguping percakapan ibu-ibu saat akan mengantarkan susu. Mereka bilang Rivan Juliano memiliki prestasi yang banyak dan sangat pintar. Rivan hanya menepuk jidat mendengar itu.

SoleneStories to obsess over. Discover now