Januari-Ku, Awal Pertemuan Kita

27 0 0
                                    

Aku mulai terbiasa dengan jalan cepat, namun tetap tenang. Aku mulai meyakini, bahwa diriku akan semakin pintar setelah pindah ke tempat ini. Aku masuk lift bersama dengan para pekerja baru. Dan dia ikut masuk. Melipir ke pojok dekat tombol-tombol angka lift.


First impression yang menegangkan. Mukanya garang, jenggotan, rambut tebal, bahunya lebar, tubuhnya besar dan tinggi. Hitam. Seperti pria berumur 35 tahun selesai dari pekerjaannya. Lusuh. Terkesan cuek dan galak.

And, damn it! Ternyata aku ditempatkan satu divisi dengan laki-laki itu. Menjengkelkan. Bagaimana jika dia adalah orang yang tidak bisa diajak kerjasama dan hanya bisa marah-marah? Pasti sangat mengganggu.

"Sini gue aja yang ngajarin." ucapnya ketus. Tadinya aku sedang diarahkan untuk mengerjakan ini dan itu oleh atasanku. Dan dia menawarkan diri untuk membimbingku. 

"Bisa ngga sih, ngga usah ketus kalo ngomong?" Aku mau bilang begitu ke dia, tapi hanya bisa di dalam batin saja. 

Selama dia menjelaskan, selama itu pula aku mulai paham. Wataknya keras, tapi penuh dengan tawa juga. Aku merasa sudah masuk ke dalam candanya.

Beberapa hari kemudian....

Dia meminta nomor handphone ku, dan aku ketikkan di ponselnya. Waktu masuk ke menu kontak, ada nama "Sayang". 

"Ohh, manusia sejenis dia punya pacar juga. Aku pikir hatinya kosong hahaha. Perempuan seperti apa yang mau menerima laki-laki keras kepala ini?" Ucapku dalam hati, singkat penuh teka-teki.

Dia sedikit luar biasa karena berhasil membuatku tertawa setiap hari di kantor. Lelahku tidak begitu terasa. Sampai ada rekan yang bilang, "Acid udah akrab ya sama Zela. Kalo sama Iryana ngga nyambung. Apa karena Iryana pendiem ya? Hahaha". Perempuan itu ngomongnya kenceng banget. Satu ruangan nengok ke arahku dan Acid.

"Wahai kamu yang ada di depan mejaku saat ini. Bisa ngga sih jangan lucu terus? Ketawaku butuh istirahat". Keluhku dalam hati sambil tertawa karena tingkah laki-laki yang ternyata baru berumur 26 tahun ini. Wajah yang terlalu tua untuk orang seumurannya hahahaha. Gempal dan cubby. Penuh daging.

"Acid, ada yang ingin aku sampaikan untuk bulan Januari ini. Terimakasih karena sudah mengajariku & menjelaskan materi tentang pekerjaan kita. Kamu galak, tapi pintar. Kamu rokok, tapi masih punya sopan santun agar asapnya tidak masuk ke ruang kerja kita. Terimakasih sudah membuatku tertawa full time dengan style humor mu itu. Meskipun setiap kali kamu datang ke kantor di pagi hari, wajahmu selalu menekuk. Dan membuat aku spontan tidak mau menyapamu lebih dulu. Tapi, ternyata sepi kalau kamu tidak datang. Ada yang hilang karena meja di depanku kosong saat kamu tugas di luar kota. Ketawaku ada, tapi tidak lepas. Orang-orang membuatku tertawa, tapi tidak sebagus kamu. Tunggu, apa kamu sudah mau menikah dengan pacarmu? Karena orang-orang sering bertanya, dan kamu hanya jawab "Doain aja". Jawaban itu aku anggap bahwa kamu serius dengannya. Semoga kamu bahagia & tetap bisa berteman denganku. Oh iya Acid, ada yang ketinggalan. Tolong jangan emosi kalo lagi kerja. Jangan marah-marah terus hehehe."


Untuk Kamu Yang Duduk Di Depan MejakuWhere stories live. Discover now