01 : long night

282 38 34
                                        

Hingar bingar tawa terdengar menggelegar, musik berdentum memekakkan telinga, serta aroma pekat melebur bersama hawa dingin yang menyecap setiap inci kulit manusia di sana.

Tapi seolah tak peduli dengan suhunya, jalang-jalang itu bergerak sesuai irama memamerkan tubuh seksi di balik kain tipis yang kelewat minim. Sial, semuanya bahkan terlihat telanjang di matanya. Ketika seteguk minuman yang ada di meja kembali menyapu tenggorokan dengan sensasi panas serta khidmat yang bersatu-padu, seakan berada di ambang batas kesadaran belum cukup untuk menghentikan aksinya.

Pemuda itu lantas mengeluarkan sekotak gulungan tembakau dengan nikotin dan zat tar yang terkandung di dalamnya. Menarik satu batang dan menyulut dengan api dari pemantik yang di berikan bartender di balik meja bar.

"Benar-benar berniat merusak diri, Bung?"

Menghisap nikotin tersebut dengan mulutnya lalu meleburkan asap beracunnya ke udara, Jeon Jungkook berjengit di tempat lalu agak berteriak saat menyahut, "Tidak. Mungkin bukan hari ini, esok sepertinya masih ada yang lebih buruk."

Si bartender lantas tersenyum miring, menuangkan minuman alkohol untuk pengunjung lain lalu kembali menaruh atensi pada Jungkook.

"Aku bisa membantumu kalau begitu."

"Apa?" tanyanya parau seraya menghisap kembali sigaret miliknya seperti candu, ada rasa manis dan pahit yang bisa didapat sekaligus bahkan hanya dalam sekali tarikan napas.

"Bersenang-senang, melupakan segala masalahmu untuk semalam. Bukankah itu tujuanmu datang kemari?"

Tidak ada sahutan maupun tanggapan yang didapat, karena alih-alih memperhatikan, Jeon Jungkook lebih fokus pada rasa panas yang mulai terasa membakar tenggorokan. Tidak menyerah sampai disana, si bartender-yang Jungkook ketahui namanya adalah Johny tersebut kembali menyahut, "Mau kutunjukkan beberapa teman wanita untuk menemani tidurmu?"

Ugh.. apa?!

Jungkook tersedak asap yang di hisapnya sendiri, menyebabkan pemuda tersebut terbatuk hingga Johny memberikan segelas air, tapi ditolak dengan alibi baik-baik saja. Si pemuda Jeon lantas mengerjap kaku, netra tajamnya memindai ruangan yang nampak remang, pikirannya jelas menelisik jauh.

"Wow, tawaranmu tidak buruk juga. Tapi yah, aku tidak asal pergi ke hotel membawa sembarang wanita, lalu berkencan sampai pagi buta. Kau tahu? Si tua bangka dirumah bisa menghabisiku jika dia berhasil memergoki anaknya sedang mencoba merusak nama baik keluarga."

Keduanya lantas terkekeh. Jungkook kemudian menjatuhkan sebatang sigaret miliknya yang masih separuh tersisa ke lantai dan menginjak habis dengan sepatu pantofel berkilaunya. Ia kembali mendongak menatap lawannya bicara.

"Si tua bangka maksudmu adalah Ayahmu?"

Jungkook mengangguk diselingi senyum culas setengah mabuk.

"Well, kupikir sedikit berlebihan memanggilnya seperti itu. Biar kutebak, usianya baru mencapai setengah abad? Ayahmu kelihatannya punya tubuh yang bugar, Jeon."

"Um hm. Tepatnya Ayahku akan menginjak usia ke lima puluh empat, eh, atau lima puluh lima? Aku lupa." ia terkekeh atas ucapannya sendiri, lantas tersadar akan sesuatu dan buru-buru menukas cepat. "Tapi tunggu, kelihatan bugar katamu? Darimana bisa menyimpulkannya begitu?"

Bartender itu kemudian menyeringai samar di remangnya ruangan dengan gemerlap bias cahaya warna-warni menerpa wajah tampan-penuh tipu muslihatnya yang biasa digunakan untuk menjerat wanita masuk ke dalam kubangan dosa. Tersenyum dengan cara lucu yang sialnya diartikan cukup mengerikan bagi Jungkook.

"Kalau yang kau maksud adalah pria di dekat pintu dengan kemeja kerjanya-menatap nyalang kemari, juga ... "

Semuanya mendadak sunyi, omongan dari Johny bahkan tak diindahkan lagi. Karena dalam sepersekian detik, si pemuda Jeon memutar tubuh seratus delapan puluh derajat. Membiarkan obsidiannya mencari di kerumunan manusia lainnya. Hingga atensi sepenuhnya berhasil jatuh pada seorang pria yang sedang bersidekap, dengan rahang mengetat kuat dan tatapan setajam belati yang siap menghujam Jungkook seketika tewas di tempat.

Sial, malaikat mautnya tiba.

Jeon Jungkook seolah membatu, jantungnya serasa dipacu, tubuhnya stagnan menegang dengan sekelumit rasa pusing menyerang. Sementara rungunya semerta-merta mendengar Johny terkekeh untuknya. Mengirim tatapan iba yang kentara di buat-buat. Kelewat menyebalkan sekali.

"Jeon, kuharap ini bukan pertemuan terakhir kita."

Sialan.

Johny kembali bertutur, "Tapi jikapun memang terjadi, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku senang bisa mengenal pemuda tampan sepertimu. Selamat menjalani malam yang panjang, Bung." lantas bartender itu mengedip sebelah mata genit.

Jungkook bersumpah jika pria tua bangka di seberang sana tidak mengedikkan dagu seolah berkata, 'Pulang kau, anak kurang ajar' ia sekarang pasti sudah menghantam kepala Johny si keparat dengan botol minuman yang berderet di balik bar.

Kendati begitu, Jeon Jungkook hanya menghela napas pelan. Berjalan dengan pasrah. Menghantarkan diri menuju neraka yang diciptakannya sendiri di alam fana ini. Karena ia tahu, hari-harinya tidak akan berjalan baik setelah semua yang terjadi.

Fuck this life, dude.

[]
.....

I hope u all enjoy the story. Jika berkenan, tolong tinggalkan jejak sebagai bentuk apresiasi kalian para pembaca. Jangan ragu juga untuk memberikan krisan ya, karena aku juga masih butuh banyak sekali belajar. I'm very grateful for that.♡

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 08, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

lost stars [discontinued]Stories to obsess over. Discover now