Langkah Awal

173 10 2
                                        

Suara bola basket yang memantul dan decitan alas sepatu yang bergesek dengan lantai lapangan menjadi suara yang terus terdengar ketelingaku.

Aku memandang penuh minat kearah kumpulan anak-anak basket yang sedang bermain dilapangan.

Lebih tepatnya kepada sosok jangkung yang kini tengah mendribble bola kearah ring lawan.

Dia adalah Andreas Wirnandian, seorang pemain inti klub basket yang juga merangkap sebagai seniorku disekolah.

Dia anak kelas 12, setingkat lebih tua dariku dan yang paling penting adalah dia merupakan cowok idolaku.

Entah kenapa Aku begitu tertarik dengannya, bisa dibilang dia itu orangnya begitu easy going dan memiliki banyak teman.

Mataku terus saja memperhatikan permainannya dari bawah pohon mangga samping lapangan basket, sambil sesekali memakan snack keripik kentang ditanganku.

Tempat ini adalah tempat favoritku untuk nongkrong, karena lebih dekat dengan kantin dan juga lapangan basket tentunya.

Plak.

Kepalaku digeplak dengan kasarnya oleh seseorang dari arah belakangku.

"Aish, apaan sih?" Aku reflek berdiri dan berbalik badan.

Kuusap kepalaku yang mulai berdenyut nyeri.

"Apa yang kau lakukan bodoh?"
Semburku pada seseorang yang telah memukul kepalaku ini.

"Salah sendiri melamun dibawah pohon begini, kesambet setan barutahu rasa"

Orang itu menyahut tak kalah sengitnya.

Dia adalah Rangga Vian Driansya, musuh bebuyutanku yang berada dikelas yang sama denganku.

Rangga itu anak yang begitu usil. Lihat betapa menyebalkannya dia yang mengganggu saat-saat berhargaku melihat Senior Andreas bermain basket.

Sebenarnya sudah sangat sering kudengar temanku yang lain bertanya perihal hubunganku dengan Rangga.

Tapi seperti yang kalian tahu, Aku dan dia hanya sebatas teman dan musuh saja tak lebih.

Kami sudah berteman sejak masuk SMP dan sekarang kami juga berada disatu sekolah yang sama, satu kelas pula.

Aku dan Rangga lebih sering berdebat daripada mengobrol akrab.

Ketika kami bertemu, hanya adu mulutlah yang terjadi diantara kami.

Saling mengejek dan mencemooh sudah menjadi kebiasaan sehari-hari kami berdua.

Entah kenapa itu semua terlihat wajar bagi kami hingga saat ini. Tapi Aku tak lagi mempermasalahkannya, biarkan begini saja.

Singkat cerita, seperti inilah hubunganku dengan Rangga, terdengar klise seperti kebanyakan orang bukan.

Lalu, sedetik setelahnya Aku mendapati bahwa keripik kentangku sudah berada ditangannya dan tanpa rasa bersalah dia memakannya dengan santai.

Mataku melotot tak percaya padanya, entah kenapa setiap Aku berhadapan dengannya Aku selalu saja naik darah penuh emosi.

Aku sontak memukuli badannya tanpa ampun sebagai ajang balas dendamku padanya.

"Dasar menyebalkan"

"Hei hei, apa yang kau lakukan bodoh. Sakit, aw aw. Hentikan"

Dia terus mengelak dari pukulanku hingga tiba-tiba saja keseimbangan tubuhku sudah hilang entah kemana ketika sebuah benda keras menghantam belakang kepalaku dengan keras.

Rasa pusing dan sakit mulai menyebar kekepalaku berkali-kali lipat dengan kesadaranku yang mulai memudar.

Kegelapan samar-samar merambat menutupi pandanganku yang sudah tak fokus.

Suara-suara yang memanggil namaku pun sudah tak terdengar jelas lagi, lalu semuanya benar-benar menjadi gelap.

'Cih, sial. Kepalaku sakit sekali'

◾⚫🎎⚫◾

🐬 I Hope You Enjoy

🔥 Don't Forget click ⭐

🐾 And Follow Me

💙 Thank You

Point Lumineux [END]Stories to obsess over. Discover now