CHAPTER 1
Striped Blue-Black Bag
Suatu Senin, 2009
Tali gas Supra Fit tahun 2004 terkontraksi maksimal. Serupa dengan tali sepatu Vans Classic baru seharga dua ratus sembilan puluh sembilan ribu tersimpul rapi di kaki pria 16 Tahun dengan celana panjang biru , Pria yang sedang duduk tegang diatas jok motor bergambarkan Tazmanian Devil. Sambil menggendong tas hitam, pria itu meliuk yakin diantara ketidakpastian para pengendara angkutan kota. Sesekali dia tengok arloji hitam kecil di pergelangan tangan kiri, 06.50 kata jarumnya ketika pria tersebut berhenti di lampu merah Warung Jambu. Dahinya mengerut, nyalinya menciut ketika melihat warna merah dari pilihan warna lain di perempatan tersebut. Sepatu Vans Classic baru akhirnya menyentuh aspal pertamanya di perempatan antara Jalan Pajajaran, Jalan Indra Prasta dan Jalan Juanda. Ketika lampu mengizinkan dia melintas, dia tarik kembali tali gas sambil memiringkan badan sedikit ke kanan, menuju lokasi yang dituju dengan sedikit terburu-buru. Dia coba imbangi kecepatan di tengah kemacetan, sambil dalam hati kesal karena dia hanya punya sepuluh menit tersisa untuk sampai tepat waktu. Tapi, pria yang saat itu belum mengantongi SIM C di dompetnya mampu mempercepat laju kendaraannya. Alhasil, Tiga menit sebelum penjaga sekolah menutup gerbangnya, dia sudah sampai di parkiran. Lega karena dia tidak jadi membuat buruk kesan pertamanya. Lega karena dia tidak perlu langsung kenal akrab dengan satpam atau bagian kedisiplinan sekolah. Kebetulan, pria itu adalah Saya, Prasetyo.
Pagi pertama sebagai anak SMA. Saya berada di sebuah ruangan yang siang harinya baru saya tahu bernama Grha Candradimuka. Ruangan serbaguna dari Sekolah Menengah Atas Negeri yang cukup terkemuka di Kotanya. Pagi itu, Remaja dari pelbagai Sekolah Menengah Pertama yang tersebar di seluruh Indonesia kumpul jadi satu, berbagi bau atau sekedar mencaci kaku dengan siapa-siapa yang mereka tahu. Remaja yang tentu saja hari itu, masih menggunakan baju putih biru sampai seminggu pertamanya. Banyak, sangat banyak. Seingat saya, jumlahnya ratusan, mungkin 360 an saya tidak yakin. Duduk, secara acak tanpa arahan. Berkelompok menunjukkan identitas lamanya. Sekelompok remaja, yang tidak bercelana biru, duduk bergerumul di sudut ruangan. Sekelompok remaja lain, kali ini bercelana biru tapi tidak panjang, duduk di sudut lainnya. Dan ada sekelompok remaja, saya kenal mereka semua, duduk di tengah ruangan, dengan angkuh dan egonya memandang rendah kelompok lain yang menyuduti ruangan. Saya tahu pasti apa yang mereka bicarakan, karena disitulah saya berada, selama pukul 07.00 sampai 10.00. Di ruangan yang sama mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa Baru. Duduk memaku pinggul ke karpet tipis dingin mencoba menikmati suasana yang saya tidak suka. Keramaian.
Entah sejak kapan, saya membenci keramaian tapi juga menghindari kesepian. Menurut saya, banyak hal yang lebih nikmat dibagi berdua atau bertiga, tidak lebih. Terlalu ramai selalu berhasil membuat saya pusing. Mungkin itu yang menyebabkan saya memilih untuk berdiri, permisi ke kamar mandi masjid At-Tarbiyyah dan kemudian duduk di terasnya yang berlapis ubin hitam namun sejuk. Di bawah kanopi anti tempias saya menyandarkan pundak. Membayangkan selama tiga tahun kedepan, sepertinya teras ini akan menjadi pelarian terbaik dari penat kursi kayu ruang belajar. Saya hirup tiap detik udara saat itu, sampai saya dikagetkan oleh kedatangan seseorang yang entah menghindari hal yang sama dengan saya atau sekedar ingin buang air seninya, melintasi teras masjid menuju kamar mandinya. Saya tahu dia, namanya Dika Putra Hidayat. Pria yang saya tahu tapi tidak begitu kenal baik ketika SMP. Dulu, kami hanya sebatas teman ekskul futsal, sepertinya tidak lebih. Ya saya memang tidak punya banyak teman ketika SMP. Seperti yang saya sampaikan, berbagi cerita dengan tiga orang itu cukup buat saya.
"oy Yo"
"Eh Dik"
Di pagi yang benerang, matahari tanpa penghalang, langit tanpa berawan. Dia mungkin orang pertama yang saya sapa dengan basa-basi di hari ke-satu masuk SMA. Pria yang sama yang juga menjadi teman meja saya seminggu setelahnya. Saya memang tidak berpikir akan ada teman baru sebagai kawan meja saya. Ya karena sekali lagi, saya tidak mudah beradaptasi dengan orang baru.
YOU ARE READING
AFEKSI
RomancePria tak selamanya bersikap sama. Wanita yang sebelumnya begitu di puja, bisa jadi tak seindah semula. Tapi, Tuhan paling punya kuasa. Karena, apa yang ditakdirkan untukmu, selamanya dia tak kan menjadi milik orang lain.
