Prolog

22.2K 744 104
                                        

🖤KILL THIS LOVE🖤

Kejadiannya begitu cepat. Sepertinya harus lebih dari cepat saat diluar dugaan ternyata sebuah mobil melaju kencang menuju ke arahku. Aku menarik sudut bibirku saat semuanya di luar kendali dan rencanaku. Apalagi saat serangga kecil ini tak bisa diam dalam genggamanku membuatku mendesis tak suka.

Akhirnya mau tidak mau aku harus mengakhiri permainanku ini dengan cepat. Serangga itu jatuh dan bersimpuh di bawah kakiku. Aku membiarkannya saat mulutnya tak henti meminta tolong.

Dengan cepat darah segar merembas dari kepalanya. Aku berjongkok dan mengamati wajahnya yang tampak pucat juga memberikan raut kesakitan. Aku meringis, saat aku memberikannya hadiah yang tak terduga.

Setelah aku yakin ia telah kehilangan kesadarannya dengan cepat aku mengambil benda kecil dari saku jasnya. Membuatnya gagar otak tidak akan membunuhnya bukan? Yah itu hanya hadiah kecil yang bisa kuberikan padanya agar posisiku tetap aman. Meski aku tak yakin apa yang akan terjadi setelah ini.

"Aku sudah mendapatkannya." Ucapku pada seseorang dibalik earphone kecil yang terpasang ditelingaku.

Seharusnya aku senang permainan ini selesai dengan aku pemenangnya. Bahkan saat aku ingin melarikan diri dan ku pikir permainan itu telah usai ternyata salah.

Bisa ku rasakan keberadaan mobil itu kian mendekat. Suara mobil khas dalam keadaan kecepatan tinggi nyaris membuatku mati jika tidak sempat aku melompat ke samping kiri menjatuhkan tubuhku diatas aspal dingin dan berdebu.

Aku dipaksa merasakan rollercoaster, jantungku nyaris loncat saat debaran jantungku bekerja lebih keras dari sebelumnya. Belum lagi sebagian tubuhku harus merasakan sakit akibat benturan namun tidak sampai membuatku cedera. Belum sempat merasakan kelegaan, instingku menarikku untuk cepat bangun dan melangkah pergi.

Satu tembakan bersahutan dengan suara guntur langsung membuat seluruh saraf tubuhku mati ditempat. Aku berdiri dengan tubuh membeku, bersamaan rasa lemas kurasakan. Telingaku masih berdengung, nyatanya aku masih sadar kalau aku belum mati.

Cuaca hari ini tiba-tiba menggelap, bersama aura dingin dan kelam disekitarku. Memberitahukanku bahwa badai akan segera datang. Bersama angin membawa aroma wangi parfum yang memabukan beserta bau amis darah menyeruak di penciumanku. Penciumanku sangat tajam meski tertutup oleh penutup wajahku.

Tak perlu ku tebak wangi itu berasal dari siapa karena aku sudah merasakan kehadirannya dari arah belakangku.

Aroma itu semakin memikat dengan udara disekitarku membuat aliran darahku rasanya bisa tersumbat nyaris membeku jika tidak segera aku pergi dari sini. Sedikit beruntung bagiku karena memakai penutup wajah.

Namun nyatanya aku masih berdiri dengan kaki yang menempel kuat seolah menyatu dengan aspal membuatku tidak bisa bergerak dalam situasi yang merugikan untukku. Sudah kuduga ini tidak akan berakhir dengan cepat. Aku harus kembali melawan takdir yang tidak aku inginkan.

Setelah menyeret tubuhku hingga kami saling berhadapan dengan tangan yang ku angkat ke atas saat ia menodongkan pistol ke arahku. Tatapan matanya yang tajam berwarna coklat pekat menyambutku seolah badai telah datang. Disaat aku belum menyiapkan diri untuk menghadapinya, ini curang.

Seringaian itu muncul memberi tanda bahwa diriku bukanlah tandingannya. Seolah dengan sosok dirinya dengan tubuh tegapnya dan langkah percaya dirinya kala mendekatiku mampu membuatku bertekuk lutut di bawah kakinya.

Namun aku tidak membiarkannya mendominasi cerita ini, karena dari awal dia tidak ada dalam rencanaku. Sosoknya tidak tergambarkan, namun karakter sepertinya selalu mencoba melesak masuk dan mengubah jalan cerita.

KILL THIS LOVE ✓Stories to obsess over. Discover now