" Ra, aduh, " Sylvia meringis. Berusaha memberontak dari cekalan Eira yang mau tak mau membuat ia harus setengah berlari.
Eira semakin tak peduli. Ia benci dengan kesimpulan semua orang dan tatapan itu. Tatapan intens yang mencoba mengetahui apa yang terjadi. Eira mendengus membanyangkannya.
" Ra, " Panggil Ersa pelan. Ia tau jika Eira sedang kesal sekarang tapi mau bagaimana lagi, kakinya tak bisa melangkah secepat Eira.
" Jalannya pelan-pelan, dong. Capek nih. Lagian udah jauh juga. " Ucap Ersa mengeluh. Kedua penopang badannya terasa akan lepas jika Eira tetap memaksakan untuk berjalan seperti ini.
" Maaf. "
Eira memelankan langkahnya seiring dengan masuknya mereka kedalam kelas. Ia melepas cekalan tangannya dan menuju kursi.
Kedua tangannya ia lipat. Kepalanya menekuk dengan mata terpejam. Ia mencoba tidur. Melupakan rumor dan tatapan itu sejenak.
" Eira kenapa? " Thalia melirik punggung Eira. Maklum, kursinya tepat dibelakang Eira.
" Tau tuh, " Ersa menatap Eira sekilas, " Barusan dia dengerin gosip. "
" Gosip apaan? Perasaan doi juga gak pernah peduli sama gosip, deh. "
" Tumben. Kayaknya sama Eira dimasukin ati, nih. "
Keempatnya menatap Eira heran. Sudah tak asing lagi bagi mereka jika mendengar gosip tentang gadis dingin itu. Mereka selalu menganggapnya angin lalu, begitupun juga Eira. Tapi entah, hari ini sepertinya kebiasaan itu tak bisa diterima.
" Apa yang mereka bilang tentang Eira? " Shinta mengeluarkan raut kesal. Air mukanya berubah penuh dendam.
" Keenan. " Ersa menimpali.
" Hah? Yang jelas, dong. " Shinta mengeluarkan protesan. Mana bisa otaknya yang sempit ini mampu menyimpulkan suatu kejadian jika masalahnya belum jelas.
" Rumornya tentang Eira sama Keenan. " Sylvia menyahut, " Dikiranya anak-anak, mereka pacaran. "
" Itu doang? " Thalia tak habis pikir. Eira yang memiliki sifat tidak peduli tingkat tinggi ternyata bisa mendengarkan omongan orang.
" PMS kali. " Ersa memperhatikan Eira. Gadis itu sedikit sulit ditebak.
" Ada yang lain? " Shinta bertanya kembali.
" Apanya? " Balas Sylvia.
" Gak mungkin kalau cuma gosip kayak gitu Eira langsung gini, " Shinta menunjuk Eira dengan gerakan matanya, " Lo yakin gak ada masalah lain? "
Sylvia berpikir keras. Ersa menatap langit-langit kelas yang berplafon putih. Keduanya memcoba merangkai beberapa permasalahan yang menjadi sebab Eira murung.
Bagai ada lampu dikepalanya, Sylvia tersenyum lebar. Ia mengetahui satu hal yang mungkin membuat Eira seperti ini.
" Gue tau. "
" Apa? " Raut wajah Thalia berubah penasaran.
" Ini karena Kak Dennis, " Ersa menyahut.
" Eira tadi diliatin sama dia. Eira sempet ngeliat juga, sih. " Sylvia melanjutkan pernyataannya yang sempat terpotong oleh Ersa.
" Suer, gue tadi liat Kak Dennis natapnya nggak selow gitu, " Ersa meneruskan penjelasannya. Sesekali, ia menatap plafon putih agar ingatannya kembali memutar kejadian yang menimpa Eira.
" Gue kok ngerasa si Dennis suka sama Eira, ya. " Thalia menatap buku tulisnya yang penuh coretan.
" Gue ngerasa gitu juga. "
ESTÁS LEYENDO
Eira
Novela JuvenilEira Farhanna Dinata, gadis beku berlesung pipi yang memiliki banyak rahasia dalam hidupnya. Namun, ada satu rahasia yang kini bukan lagi rahasia.Yaitu, tentang perasaannya kepada playboy sekaligus Most Wanted dengan sejuta pesona dari SMAN 3 Jakart...
