ONE

72 5 0
                                        

    Gerah memaksa hampir semua warna SMA Mardhika mengibas-ngibaskan apa saja guna mendinginkan suasana. Bukan hanya para siswanya saja, tapi para guru pun tak luput dari Sengatan temperatur udara yang memang tidak biasa itu. Apa ini salah satu bentuk dari dampak global warming ya? Bisa jadi, sih. Tapi apapun itu, yang jelas tak sedikit dari guru-guru di SMA Mardhika yang mendadak memberikan tugas pada siswa-siswa mereka hanya untuk ngadem ke ruang guru. Soalnya di ruang kantor mereka kan ada air conditioner yang bisa berfungsi dengan baik.

    Dan selain disana, AC hanya dapat ditemui di ruang laboratorium bahasa Inggris di lantai atas sekolah. Beruntung sekali siswa-siswa yang siang itu menjalani jam pelajaran bahasa Inggris. Sebab, selain bisa menikmati dinginnya ruang lab yang ber-AC, mereka juga bisa mendengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris yang sengaja disetel oleh sang guru sebagai bagian dari bahan ajar mereka.

    Keadaan yang seratus delapan puluh derajat sedang terjadi dalam kelas XI B. Dari empat puluh siswa yang tumben banget hari ini hanya absen dua orang (biasanya yang tidak masuk sekolah bisa mencapai jumlah lima orang atau lebih) tidak satupun dari mereka yang tidak sibuk untuk kipas-kipas. Ada yang memakai buku, majalah sekolah, kipas lipat, bahkan ada yang hanya memanfaatkan telapak tangan sambil sesekali mengusap keringat yang meler di Jidat mereka. Huah, benar-benar gila! Panasnya kaya dioven!

----------


    Anak-anak kelas XI B sebenarnya sedang mendapat tugas matematika dari Pak Anton. Namun, hampir tidak ada anak di kelas itu yang mencurahkan konsentrasi mereka pada tugas tersebut. Selain karena mereka harus berusaha mendinginkan suasana dalam arti yang sebenarnya, mereka juga sibuk bercengkerama dengan sesama sebagai upaya mengalihkan perhatian dari gerah yang menyengat. Mereka sama sekali tidak takut melakukan hal tersebut karena memang Pak Anton sudah setengah jam yang lalu melarikan diri ke kantor untuk ber-AC ria.

"Van... pinjam hasil tugas punya lo dong!" teriak Anin pada seorang siswi yang tertunduk serius.

     Siswi yang tertunduk ini tidak sedang mengerjakan tugas... sama sekali bukan! Karena tugasnya memang sudah selesai sedari tadi. Sekarang cewek itu justru sedang sibuk-sibuknya pencet-pencet tombol keypad BlackBerry baru miliknya.

    Sebel karena dicuekin, akhirnya Anin pun mendekati cewek itu. Tanpa ba bi bu, dia langsung mengambil Buku Siswi yang ia Panggil Van itu dan membawanya ketempat duduknya. Sementara si empunya buku tetap saja tidak bergeming.

    Cewek yang lagi sibuk bermain BlackBerry  itu namanya Jovanka, tapi kebanyakan temannya memanggilnya dengan nama Vanka. Cewek yang satu ini memang paling suka sama yang namanya gadget IT terbaru. Dan BlackBerry di tangannya itu baru saja dia dapatkan kemarin dari pacar barunya, Angga yang memang berasal dari keluarga lumayan berada -setidaknya, ada sebuah Toyota Yaris yang siap membawanya kemana-mana.

    Sepengetahuan Vanka, Angga adalah anak seorang manajer di sebuah perusahaan BUMN. Niatnya sih, Vanka pengen pacar anak seorang direktur. Tapi, untuk kali ini...anak seorang manajer juga tidak masalah. Siapa tahu setahun lagi posisi ayahnya yang manajer itu bisa berubah jadi direktur utama. Ya...siapa tahu, pikir vanka. Memang, paling enak punya pacar anak orang kaya. Kalau kita curhat ingin punya sesuatu... pasti besoknya barang yang diinginkan langsung tersedia di depan mata. Hmmm....

    Anin mengembalikan buku yang tadi Ia culik dari meja Vanka sambil senyum-senyum penuh makna.

"Makasih ya? "

"Hmm! " jawab Vanka tanpa mengalihkan pandangannya dari BlackBerry-nya.

    Anin melesatkan pantatnya di sebelah Vanka dan ikut menikmati apa yang menyita perhatian Vanka sedari tadi.

MATRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang