B U K A N
B E A U T Y A N D T H E B E A S
👹sheilaratri123👦
Salahkah jika monster ini ingin merasakan cinta, selayaknya kebanyakan orang yang bahagia dengan kisah mereka masing-masing.
◎◎◎◎◎◎◎
Aneka makanan tersaji di atas bangku Lara, membuat orang-orang yang melihatnya bergidik jijik, bahkan tak sedikit orang yang mencemoohnya, membuat Lara menunduk dalam. Rasanya Lara ingin menangis mengeluarkan sesak yang menjalar dalam dadanya.
"Gue tunggu di meja ya, dri" Mendengar suara itu, Kepala Lara kembali mendongkak ke atas. Menatap sesosok pria yang melewati mejanya, tak lupa dengan senyum manis yang pria itu lempar untuk Lara.
Alvian Putranda Mahesa, sosok pria yang dipuja ratusan kaum hawa, bahkan jika di hitung mungkin 80% gadis disekolahnya adalah fans Alvian dan 20% lainnya adalah fans garis keras yang rela melakukan apapun demi Alvian. Bagaimana tidak, Alvian bukan hanya tampan dan ramah, ia juga adalah murid dengan segudang perestasi serta kekayaan yang tak dapat dihitung. Sangat sempurna bukan? Jadi apa kalian mampu menolak pesonanya?.
Mata Lara tak lepas dari setiap gerak gerik Alvian, bahkan makanan yang tadi ia pesan pun tak lagi mengugat seleranya, sungguh sihir yang ajaib. Dengan mata tajam yang menyipit serta bibir merah jambu alami yang tertarik ke atas mampu membuat Lara seketika berhenti bernafas.
Brukkkk
Meja dipukul dengan kencang, membuat Lara reflek mendongkakan kepala, menatap si pemukul dengan mata membelak kaget. Namun dengan cepat Lara merubah tatapannya dengan rasa takut yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Tangan lentiknya menarik dagu Lara kencang, membuat ringsan kecil lolos di bibir Lara, "heh monster, kenapa lo natap gua kaya gitu? Tadi aja lo natap pangeran gua dengan begitu memujanya" Cengraman tadi Aurel lepas di gantikan dengan siraman jus jeruk ke atas kepala Lara.
"Denger ya gak ada ceritanya pangeran jatuh cinta pada monster kaya lo" Setela mengucapakan itu Aurel beserta dua temannya meninggalkan Lara yang tengah menangis, tak ada satu orang pun yang membantunya. hanya ada tawa yang di lontarkan untuk Lara. Apa Lara sebegitu burukkah hingga kejadiaan ini saja bagaikan lelucon untuk mereka.
Sebuah sapu tangan putih tergeletak di atas bangku Lara. Lagi, Lara kembali mendongkakkan kepalanya menatap si pemilik sapu tangan. "Sorry. gara-gara gua, elo jadi di bully sama Aurel" Senyum hangat terukir di bibir Alvian membuat Lara mau tak mau tersenyum juga.
"Eh curut, ayo ke kelas. Ini udah bel" Seorang pria yang Lara tahu bernama Andri itu menarik Alvian menjauh, namun sebelum mereka pergi, Alvian melirik ke arah Lara yang masih setia menatapnya "gua ke kelas dulu, elo samangat ya"
Kedua punggung pria itu menjauh dari ladar penglihatan lara, senyum kecil keluar di bibir Lara. Jika Alvian selalu baik seperti ini, bagaimana mungkin ia bisa menghapus rasa cintanya.
◎◎◎◎◎◎◎
Bel sudah berbunyi sedari tadi namun Lara masih setia berdiam di UKS, memang tadi Lara tidak kembali ke kelasnya melainkan pergi ke UKS. Karena tidak mungkinkan Lara masuk kelas dengan baju kotor seperti ini, yang ada ia malah di marahi guru dan tentu menjadi bahan lelucon teman sekelasnya. Ah ralat, sepertinya mereka tak pantas untuk di anggap teman.
Sebuah panggilan masuk ke hanphone Lara, membuat senyum hangat keluar dari wajahnya. Tanpa tunggu lama tombol hijau ia tekan, merapatkan benda pipih itu ketelinganya.
"Hallo sayang, kamu dimana? Papa udah ada di depan"
"Tunggu bentar pa, Lara kesana sekarang"
Dengan cepat, Lara menyambar tasnya berlari ke arah luar dengan kecepatan penuh. Kakinya tiba-tiba berhenti seketika, saat tak sengaja melihat pemandangan seorang pria tengah di pukuli di dekat ruang UKS yang merupakan gedung paling belakang di sekolahnya. Dengan mengendap-ngendap Lara berjalan semakin mendekat, memperjelas penglihatannya.
Matanya membelak seketika, melihat pelaku dari tindakan kriminal di depannya. Perlahan ia memundurkan kakinya, menjauh dari keributan yang mungkin jika Lara masih berdiri disana, ia akan bernasib sama dengan pria yang berlumuran darah itu.
Krekek
Sebuah ranting tak sengaja Lara injak, membuat ritme jantungnya berpacu dengan cepat. Dengan perasaan takut, Lara menatap ke arah depan, mempertemukan matanya dengan mata tajam yang tengah menatapnya murka, seakan siap melahap Lara sekarang juga. Sial, jika begini ceritanya Lara tak mampu melarikan diri.
YOU ARE READING
Bukan Beauty and the Beast
Teen FictionWajah menyeramkan dengan tubuh yang besar adalah deksripsi untuk Lara Amelia Ayunda, seorang gadis yang menyandang julukan Monster. Tak ada satu orang pun yang mau berteman dengannya, ia hanya hidup dlam kesendirian yang menyakitkan. Selayaknya cer...
