Mentari pagi mulai bersinar. Cahaya indahnya menembus langit-langit rumah, mengganggu siapapun yang masih terlelap. Cinta melirik jam beker sepintas, lantas bergegas, karena waktu menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit.
Senin ini, hari pertama masuk sekolah setelah menikmati liburan panjang dua minggu lamanya. Cinta dan siswa-siswi yang tahun ini duduk di kelas dua belas, berdesakan melihat majalah dinding untuk tahu di kelas manakah harus melangkah.
Senyumnya merekah ketika membaca kertas putih dengan ratusan daftar nama, yang menunjukkan bahwa ia siswi di kelas dua belas sosial tiga dengan wali kelas Mrs Bunga. Ia melangkah ringan menuju kelasnya yang letaknya paling ujung. Siswa-siswi lainnya berlalu lalang, sibuk ke kelas masing-masing.
Cinta tiba di kelas paling ujung, di sebelah laboratorium. Ia langsung masuk melewati pintu kelas yang terbuka lebar. Namun, semangatnya sedikit pudar. Bangku-bangku di deretan depan sudah terisi penuh. Cinta menyapu pandangan ke seluruh kelas. Kawan-kawan barunya sibuk berkenalan, antara satu dengan lainnya. Cinta melangkah perlahan, sambil melihat kiri-kanan, mencari bangku kosong untuknya. Matanya menangkap empat bangku di sudut ruangan yang masih kosong. Ia harus pasrah jika tahun ketiganya di sekolah menengah harus duduk di belakang lagi. Akhirnya, ia melangkah dengan gontai ke bangku kosong tersebut. Di bangku dekat tembok tergeletak ransel hitam. Cinta meletakkan tas di bangku sebelahnya. Tak lama, pemilik tas di bangku sebelah Cinta datang. Wajahnya acuh, seperti tak tahu, Cinta duduk disebelahnya. Ia duduk santai sambil makan cokelat, tanpa basa-basi menawarkan yang ia kunyah kepada Cinta. Dua siswi yang baru memasuki kelas celingukan mencari tempat duduk. Natasha dan Yohana, kawan sekelas Cinta di kelas sebelas. Cinta melambaikan tangan, mengisyaratkan bahwa bangku di belakangnya masih kosong. Natasha bergegas diikuti Yohana. Mereka tidak menyangka, bisa berada di kelas yang sama lagi.
Awalnya, Cinta memilih masuk di kelas bahasa. Ia bercita-cita ingin menjadi penulis. Sudah pasti kelas bahasa tempat yang coxok untuknya. Namun, karena guru bahasa Jerman dan bahasa Perancis resign, maka kelas bahasa untuk sementara ditutup. Untuk para siswa yang sudah mengikuti tes IQ dan harus masuk ke kelas bahasa, akhirnya di pindah ke kelas IPS.
♧♧♧
Seminggu berlalu, Cinta mulai akrab dengan kawan sekelasnya. Virgie, gadis tomboy dan cuek yang duduk sebangku dengan Cinta. Orang tuanya yang kaya raya, namun diktator, membuat ia lebih banyak menutup diri. Cinta tak mempermasalahkannya. Bagi Cinta, berteman tidak perlu mengetahui segala tentangnya, urusan keluarga, masalah pribadinya, namun yang harus diketahui adalah sekecil apapun kebersamaan yang mereka lalui tidak ternoda dengan hal-hal kecil yang membuat pertemanan mereka retak. Cinta yang tinggal di kos, jauh dari orang tua. Jika bukan teman-teman yang baik, maka entah pada siapa jika ia harus minta bantuan jika dalam kesulitan?
♧♧♧
Satu bulan pertama di kelas dua belas. Cinta, Virgie, Yohana dan Natasha mulai akrab. Mereka memiliki beberapa kesamaan seperti aliran musik, gaya hidup, dan hobi. Karena kekompakan itulah, mereka sepakat membentuk sebuah geng yang bernama Corner. Jika ada yang bertanya mengapa Corner? Jawabannya cukup simple, karena mereka duduk di pojok kelas.
Sosial adalah kelas yang mengajarkan tentang interaksi dan sosialisasi. Demikian siswa-siswi yang memilih jurusan Sosial, sosialisasi mereka terjalin erat. Sama halnya dengan keempat dara Corner ini. Mereka selalu bersama, kemanapun. Di kelas, saat istirahat, juga saat les. Mereka berjanji akan selalu bersahabat sampai kapanpun.
♧♧♧
ESTÁS LEYENDO
Novel untuk Cinta
Novela JuvenilCerita ini adalah pengembangan dari cerpen di blog. Terima kasih. Kisah persahabatan empat gadis SMA. inspiring by indahnya masa SMA alumni 2005
