Percaya atau tidak Allah lebih mencintai orang yang kita cintai.
__________
08 Agustus 2013, di lorong rumah sakit yang terlihat sepi. Gadis berbalut seragam SMA tampak tergesa-gesa. Wajah yang biasa terlihat ceria tampak muram akibat kabar yang ia baca melalui pesan dari tetangga.
"Semoga tidak terjadi apa-apa." Gumamnya penuh harap.
Kini ia hanya pasrah dengan hasil diagnosa yang akan disampaikan oleh dokter di hadapannya. Tegang, gemetar, hingga membuat degup jantungnya meningkat dua kali lipat.
"Menurut hasil tes yang telah kami lakukan, nenek Anda menderita kanker rahim stadium lanjut, kemungkinan untuk sembuh saat ini sangat minim. Jika diperkenankan kami akan melakukan operasi pengangkatan rahim pada nenek Anda." Jelas dokter Lisa dihadapannya.
Seketika air matanya berderai bak air sungai yang mengalir deras. Hatinya bagai ditikam belati, pikirannya kacau. Jalannya lunglai, menyusuri koridor rumah sakit. Tak banyak yang ia lihat, hanya orang yang berlalu lalang mendorong bangkar atau kursi roda.
"Pemandangan yang pahit"
"Dasar dokter sok pintar, sama-sama makan nasi saja sudah berani-beraninya ia menyatakan umur orang. Dikira Tuhan."
Denai menghela napas panjang, kekhawatiran dan kekesalan bercampur menjadi satu. Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya, menandatangani surat keputusan operasi atau hanya kemoterapi.
"Aku harus nelpon Mama, tapi pakai handphone siapa? Handphoneku rusak."
Denai pun beranjak dari tempat duduknya, mencari pinjaman handphone untuk menelpon Mamanya yang berada di luar kota.
"Assalamu'alaikum, Ma. Nenek masuk rumah sakit, beliau harus segera dioperasi atau-"
"Wa'alaikumsalam, sakit apa sampai harus dioperasi? Sejak kapan?" Terdengar nada khawatir dari seberang sana.
"Kanker rahim stadium lanjut, Denai bingung kalau operasi butuh biaya banyak dan jalan pintasnya hanyalah kemoterapi."
"Untuk sementara kita usaha untuk kemoterapi saja, Nak. Setelah ada biaya kita lakukan operasi. Insya Allah secepatnya, semuanya kita kembalikan kepada Allah saja."
"Kamu jaga kesehatan di sana, nenekmu butuh perhatian lebih. Jaga nenekmu, Mama akan usaha di sini."
"Iya Ma, Mama juga jaga kesehatan. Cepat pulang Ma, Denai rindu Mama. Assalamu'alaikum." Suara Denai lirih menahan sesak dalam dada, di mana ia harus menghadapi masalah sebesar ini.
"Wa'alaikumsalam." Terdengar isakan kecil yang sengaja ditahan dari suara di seberang sana. Denai tahu Mamanya sedang menangis. Tapi ia berusaha tenang, agar tidak menambah kesedihan yang berlarut.
______
Kini Denai, sedang memandang sebuah gundukan tanah yang beridentitas. Tertera nama orang yang sangat ia cintai selain Mamanya, Nenek. Tepat tahun kelima setelah Nenek meninggal, ia baru kembali ke kampung masa kecilnya.
Rumah nenek terlihat usang, meski ada tukang bersih-bersih yang diminta untuk membersikan rumah Nenek. Kini tak lagi ada sambutan hangat dari sayur buatan Nenek yang menggugah selera. Dulu, tungku hitam itu adalah senjata ampuh Nenek dalam memasak. Ia tak mau menggunakan kompor gas, padahal sangat mudah, tidak hitam, dan tidak kepanasan. Memang terlalu sederhana cara Nenek untuk bahagia.
Kasur ini, adalah kasur di mana Nenek tidur untuk terakhir kali dan selamanya.
Waktu itu, nenek tak mau menjalani operasi maupun kemoterapi, beliau lebih senang jika Denai dan Mamanya yang merawat. Hal itu pun dikabulkan, sejak dua bulan setelah keluar dari rumah sakit, anak dan cucunya yang senantiasa merawat Nenek.
"Denai, malam ini temani Nenek ya?" Pinta Nenek lirih.
"Iya Nek, tanpa diminta pun Denai akan temani Nenek tidur." Seraya tersenyum.
Denai bangun dengan wajah sumringah di pagi hari, namun berbeda dengan Nenek yang berada di sampingnya.
"Tak biasanya Nenek jam segini belum bangun," gumamnya.
"Nek.."
"Nenek, bangun."
Denai cemas, "Mama, nenek Ma."teriakannya membuat Mamanya meninggalkan pekerjaan dapur, bergegas menghampiri Denai.
Nenek meninggalkan mereka untuk selamanya. Bulir-bulir bening kembali tumbuh dari mata sayu Denai. Ia merasa terpukul bahkan hancur hari itu. Bagaimana tidak satu cintanya tiada lagi.
"Sayang, dengar Mama. Allah itu lebih sayang dan cinta sama Nenek. Allah gak mau Nenek tersiksa oleh penyakitnya terus-menerus. Mangkanya Allah angkat penyakitnya, dan Allah panggil Nenek supaya gak merasakan sakit lagi. Kamu boleh sayang sama Nenek, tapi kamu harus ikhlas. Jangan sedih lagi ya, sayang?"
Denai mengangguk, tanpa menjawab sepatah katapun.
______
Seminggu lalu, Nenek sempat mengobrol panjang dengan Denai. Semua hal tak luput dari obrolan, sampai pada hal yang menarik menurut cucunya.
"Denai, cita-cita kamu mau jadi apa sayang?"
"Aku mau jadi guru, dokter, dan penulis, Nek."
"Kalau kamu jadi dokter, kamu nanti obatin Nenek ya? Kamu yang jagain Nenek, rawat Nenek. Jadi Nenek gak perlu biaya banyak." Ujar Nenek seraya tersenyum dan membelai rambut cucu kesayangannya.
______
"Tiga bulan lalu, dokter Lisa bilang kemungkinan sembuh minim. Padahal ucapan itu doa, kenapa dokter bilang begitu?"
"Denai sayang, dokter hanya menjelaskan hasil analisis." Suara lembut dokter Lisa bagai belati di gendang telinga Denai.
"Buat apa jadi dokter, kalau cuma doain yang gak baik." Denai berkata lalu pergi.
"Maafin anak Saya ya, dok." Tante Tania merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Bu, wajar masih terpukul karena kehilangan." Ucap dokter Lisa seraya tersenyum.
Air mata Denai tak terbendung melihat semua barang-barang yang ada di dalam rumah Neneknya, kini semua terasa hampa. Selalu membuat sesak jika memo itu diputar berulang. Denai tahu ia harus ikhlas, tapi tetap saja rasa kehilangan itu tetap melekat.
"Neng Denai, kalau menurut saran Mamang ini rumahnya mending dikontakkan saja. Supaya tidak rusak." Saran laki-laki paruh baya yang sedang mengelap perabotan memecahkan keheningan.
"Denai serahin sama Mang Ujang, gimana baiknya semua terserah Mag Ujang."
"Pokoknya, kalau ada yang mau nempatin ya tempati. Tapi dengan syarat gak boleh mindahin ataupun ngerusak barang-barang peninggalan Nenek.
"Siap Neng, laksanakan." Ujar Mang Ujang bagai prajurit TNI.
YOU ARE READING
Denai
Teen Fiction"Saya benci!" Azzam bingung dengan gadis yang berada di hadapannya. Padahal ia yang hampir menabrak dirinya, tapi ia yang naik pitam. "Dasar calon ibu," gerutu Azzam. Azzam menghela napas kasar, berusaha untuk tetap sabar. Sebagaimana pun ia sedang...
