Prolog

83 5 7
                                        

Tahun 2024

Mataku tak pernah berhenti menatap sekolah yang dulu menjadi  rumah kedua bagiku. Tempat yang benar-benar begitu nyaman ketika ingin kabur dari rumah karena omelan dari orangtua.

Satu hal yang sering singgah dalam benakku adalah penyesalan. Masa putih abu-abuku aku habiskan hanya untuk mencatat pelajaran yang sekarang sudah tidak kuingat lagi dan mendengarkan penjelasan dari guru yang bagiku adalah nyanyian tidur terindah yang pernah aku dengar. Lucukan.

Hidupku terlalu monoton pada saat itu, walaupun terkadang aku mendapatkan hukuman karena sering terlambat. aku tak tahu bahwa ternyata hukuman itu sebenarnya warna dari masa putih abu-abuku yang dengan begitu bangga ku ceritakan pada mereka sekarang bahwa aku sering terlambat.

Bukan hanya itu, masa putih abu-abuku juga dihiasi dengan diskriminasi dan untungnya aku adalah korbannya, entahlah apa sebabnya tapi satu hal yang pasti aku lebih bersyukur daripada orang yang menjadi kesayangan guru saat itu.

Potongan nilai yang dulu bagiku seperti mimpi buruk setiap saat sekarang seakan menjelma menjadi kenangan manis yang jika aku ingat mampu membuat sudut bibirku terangkat.

Ah, sepertinya aku memang gila.  Aku ingin kembali ke masa itu dan melakukan hal yang belum pernah kulakukan dulu.

Aku masih melihat bangunan kokoh yang sudah sangat berubah, beberapa siswa memanjat pagar menuju kantin padahal pagar disana terbuka. tiba-tiba aku ingin merasakan bagaimana rasanya memanjat pagar itu.

Yah, saat ini aku sedang berada di kantin langgananku saat masih SMA, mengadakan reuni kecil-kecilan bersama teman kelas yang masih ingat tentang masa lalu.

"Gue jadi ingat setiap shalat berjamaah, gue pasti bolos bareng Lantang, Devan dan Reagan" kata Wira Atmajaya yang juga melihat siswa itu lompat dari pagar.

Wira Atmajaya, seorang pengusaha sukses. Siapa yang tak kenal beliau, mempunyai banyak saham yang sudah ada diperusahaan perusahaan di Indonesia.

Aku yakin, tak ada yang menyangka bahwa Wira saat SMA adalah siswa yang paling nakal.

Begitupun dengan Lantang Jauhari dan Reagan, preman sekolahku yang berhijrah menjadi ustadz sekarang, bahkan dia sudah ke luar negeri untuk menyebarkan agama Islam. Luar biasa bukan.

Jangan tanya lagi si Devan Rafardhan, seorang dosen ekonomi di Universitas Negeri yang ada di ibu kota.

"Gimana perasaan lo dulu saat bolos?" tanya Najla Rashida.

Sahabat purbaku yang tak pernah bosan bersamaku.

"Menyenangkan lah" jawab Lantang.

"Gue merasa menyesal nggak pernah bolos saat sekolah dulu"

"Iya, gue juga. Seandainya mesin waktu benar-benar ada. Dari dulu gue udah kembali kesana"

Mataku kembali menatap sekolah di depan kami, bangunannya sudah berubah lebih bagus dari dulu semoga sistemnya juga sudah lebih membaik.

"Eh, tapi gue dengar-dengar pak Alam di pecat" ujar Lantang.

"Guru bahasa Arab dulu?" Tanya Najla

Lantang menangguk.

"Gila. Bukannya dia juga salah satu perintis sekolah ini? Kenapa dia bisa dipecat?" tanyaku.

Baru saja aku berharap sistem disekolah ini baik, eh ternyata makin menyeramkan. Pake acara pecat lagi, bahkan yang dipecat salah satu perintis sekolah ini.

"Karena usianya yang sudah tua" jawaban Lantang membuat kami tercengang.

"Gue mencium hal yang mencurigakan"

Aku langsung menyenggol Zafran yang sedang duduk disampingku.

"Sepertinya lo harus investigasi sekolah ini Zaf" kataku padanya.

Zafran Abu Johdi, salah satu siswa nakal juga yang sekarang telah menjadi jurnalis di salah satu media yang ada di kota ini.

"Nggak semudah itu Anin, gue harus mendapatkan informasi yang jelas dulu. Kalau infonya hanya dari Lantang mah.." Zafran melirik Lantang dengan tatapan mengejek.

"Bukannya gue nggak percaya, tapi gue harus cari informasi lebih lanjut lagi"

Aku mengangguk mengerti.

"Eh, tapi nama gue Dira yah bukan Anin" kataku mengklarifikasi nama panggilanku itu.

Sejak dulu, mereka selalu memanggilku Anin padahal nama panggilanku Dira, semua ini berawal dari Vio. Vio adalah teman kelasku yang cantik dan tinggi dan sekarang sudah menjadi perawat. Sekarang kami juga masih menunggunya.

"Sama aja kali Nin, Anindira"

"Terserah kalian aja deh" jawabku mengalah.

Ngomong-ngomong diantara kami belum ada yang menikah, kecuali Devan, dia sudah berani mengambil tanggung jawab satu tahun yang lalu.

"Kalian semua ini kapan nikah? Umur 27 tahun masih aja sendiri"

Aku langsung melirik tajam Devan begitupun dengan Najla, Wira, Lantang, Reagan dan Zafran. Sedangkan cowok yang ditatap hanya cengingisan merasa senang.

"Lo tau kan, pembahasan seperti itu sangat sensitif bagi kami" jawab Lantang.

"Gue sibuk cari berita, jadi nggak punya waktu buat cari pacar" jawab Zafran sambil memainkan ponselnya.

"Najla sih enak, sebentar lagi dilamar sama Cahyo. Gue mah apa, masih nunggu" jawabku berpura-pura terlihat sedih.

"Kalian berdua benar-benar jodoh yah" jawab Wira.

Sedangkan Najla hanya tersenyum manis. Bertemu dengan mereka adalah salah satu keinginan terbesarku sekarang. Karena aku sudah merasakan bagaimana sulitnya jika ingin reuni seperti ini, kebanyakan hanya wacana.

***
Setelah acara reuni tadi yang hanya menghadirkan Najla, Lantang, Wira, Zafran, Devan, Reagan dan Vio yang datang pada menit-menit terakhir.

Semua teman kelasku yang notabenenya siswa teladan tak berniat untuk ikut. Mereka sudah terlalu nyaman dengan dunianya sekarang.

Saat itu, aku sudah berada di kamarku lagi, membuka sebuah kotak yang didalamnya adalah kenanganku saat masih SMA, mulai dari kertas ulangan harian, percakapanku dengan Najla saat guru menjelaskan serta foto-foto manis dengan pakaian putih abu-abu. Rindu ini sangat keterlaluan.

Satu foto menarik perhatianku. Jantungku berdegup dengan kencang. Sosok laki-laki yang pernah mengisi hatiku saat SMA, apa kabar dia. Bahkan setelah 12 tahun mengenalnya aku belum pernah bertemu langsung dengan dia. Kami juga sudah lost contac saat sibuk menyusun skripsi dulu.

Sebelum lebih larut dalam kenangan, aku merapikan semuanya lagi dan naik ke ranjangku untuk tidur.

***

"DIRA, AYO BANGUN SEKARANG SUDAH JAM ENAM" teriak mamaku yang berhasil membangunkanku dari mimpi.

"Dira masih ngantuk ma, aku juga nggak shalat kok" jawabku dan menarik kembali selimut menutupi seluruh tubuhku.

"KAMU SUDAH TERLAMBAT KE SEKOLAH. AYO CEPAT BANGUN!!"

Sekolah? Mama emang tahu cara membangunkanku.

"Emang siapa yang mau menerima siswa setua ini ma" jawabku masih menutup mataku.

"ASTAGA, NIH ANAK. KAMU MAU MAMA SIRAM AIR?" Teriaknya lagi.

Aku langsung bangun masih memejamkan mataku. Sepertinya aku tidak bisa menang dari mama. Dia selalu berhasil membuatku bangun walaupun kantuk masih menyerangku.

Aku berjalan malas keluar kamar, tapi langkahku berhenti ketika melihat seseorang yang mirip denganku tapi dia terlihat lebih mudah. Aku kembali mundur dan melihat orang itu.

Mataku terbelalak, dia dan aku orang yang sama. Aku sedang berdiri dihadapan cermin. Aku kembali muda. Aku lalu beralih melihat kalender dan lagi-lagi mataku terbelalak. Dikelender itu tertulis 2014.

"AAAAA, AKU KEMBALI KE MASA LALU"

Putih Abu-AbuWhere stories live. Discover now