BAB 1

12 1 0
                                        

Risa lahir dari keluarga sederhana yang beruntung karena ia bisa diterima di universitas negeri terbaik di jawa tengah dengan status mahasiswa beasiswa. Risa mengambil studi S1 Teknik Sipil. Risa harus pandai berhemat, meski ia sudah dapat jatah bulanan dari beasiswanya tapi tetap saja itu masih kurang untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu pada awal semester 3 Risa berkeinginan untuk bekerja namun pekerjaan itu tidak boleh mengganggu waktu belajarnya.

Hingga suatu ketika ia melihat pesan di grupnya jika ada suatu bimbel yang dimiliki oleh kakak tingkatnya sedang mencari tentor untuk les privat. Maka setelah itu Risa langsung mennyimpan nomer yang tertera di pesan tersebut lalu mendaftar sesuai format yang ditentukan.
Sehari setelahnya diadakan tes untuk menguji para pendaftar tentor yang diadakan ditaman kampus, tak terkecuali Risa. Karna taman kampus terbagi dua yaitu sebelah timur dan barat serta Risa juga tidak mengenali kating yang memiliki Bimbel tersebut, Risa pun mengirim pesan kepada kating tersebut untuk menanyakan keberadaannya serta warna pakaian yang dikenakan oleh kating.

Risa memasuki taman sebelah barat lalu mencari sosok yang sesuai dengan ciri-ciri dipesan katingnya.

Deg

Jantung Risa berdegup kencang, darahnya mengalir deras, perasaannya senang, semuanya campur aduk menjadi satu. Akhirnya ia tahu siapa nama dari Mas Keren yang selama ini dikaguminya. Dia adalah Pradhana Dwiatmadja Cahyoningrat atau yang biasa dipanggil Pradha. Risa menilik keselilingi taman, ternyata ada beberapa temannya juga yang ikutan daftar. Risa mengatur nafas untuk meredam gugup, kemudian dia menatap sekedar untuk memastikan jika ia tak salah lihat. Namun diluar dugaan, Pradha yang justru juga menatapnya sambil tersenyum ramah.

Omg!! Kenapa Mas Keren natapin aku kayak gitu, sih. Aduh... manis banget sih senyumnya. Tambah ganteng deh wkwkwk.

“Hai, Mas Pradha kan?” sapa Risa ramah sambil tersenyum hingga memperlihatkan lesung dipipinya, “Saya Risa.” Risa mengulurkan tangan.

“Hai juga, iya.” Balasnya menyambut uluran tangan Risa, “Kamu udah siap kan untuk tes?” tanyanya kemudian tanpa basa basi.

“Udah Mas.”

“Kalo gitu kamu keluarin kertas sama pulpen, untuk soalnya kamu kerjakan no. 3 dan 5 ya? Aku kasih waktu 20 menit dari sekarang.” setelahnya Pradha beranjak ke tempat yang lainnya yang sudah mengerjakan tes dahulu.

Risa memandangi Pradha yang bergerak sedikit menjauh, sungguh ia bahagia akhirnya dia bisa mengobrol dengan Mas Kerennya.

“Eh Ris, kamu ikutan juga tho ternyata.” Suara Mila teman sekelasnya yang juga ikutan mengikuti tes.

“Em... Iya Mil. Lumayan bisa nambah-nambah uang jajan hehehe.”

Kemudian Risa mengamati soal tersebut untuk mengingat ia harus menggunakan rumus apa, maklum ia sudah hampir setahun tidak mempelajarinya.

20 menit berlalu, Mas Pradha kembali ke tempat Risa.
“Gimana Ris? Udah selesai?” Tanya Pradha yang sudah berdiri disamping Risa. Lalu ia duduk disamping Risa.

Dag dig dug serrrr....

Jantung Risa berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Risa menahan napas, karna udara tiba-tiba menipis. Dadanya sesak karena gugup luar biasa.

“Hm...” Lisa berdehem untuk menormalkan rasa gugupnya, “Bentar mas, kurang dikit lagi nih.” balasnya dengan berusaha untuk terdengar biasa saja sambil menuliskan hasil jawaban. 5 detik kemudian ia serahkan jawabannya kepada Pradha.

Risa menyerahkannya paling terakhir karna dia juga datang paling akhir dan menerima soal paling akhir.
Pradha melihat hasil jawaban Risa, ia manggut-manggut dan tersenyum puas dengan hasil jawaban Risa.

Kemudian ia mengumpulkan semua mahasiswa yang ikut tes untuk menjelaskan teknisnya gimana.

Risa dan teman-temannya mendengarkan penjelasan Pradha dengan seksama. Risa baru sadar jika Pradha itu cadel alias gak bisa bilang kata-kata yang mengandung huruf R. Risa tersenyum, kenapa ia selalu senang mendengarkan orang-orang yang cadel bicara. Terkesan menggemaskan.

****

3 hari setelahnya Risa langsung menceritakan kejadian pertemuannya dengan Mas Keren tersebut kepada sahabatnya, Cilla di balkon lantai 3 gedung B. Saat tes dilangsungkan itu hari jumat, jadi dia baru bisa menceritakan hari senin, karna Sabtu Minggu kulaih libur. Tempat ini jadi tempat favoritnya untuk mencuri-curi lihat keberadaan Mas Keren.

“Sumpah Ris? Jadi kamu udah tahu nama aslinya Mas Keren? Dan dia itu pemilik dari Pride Bimbel?” Respon Cilla berlebihan setelah mendengar cerita dari Risa.

Risa membekap mulut Cilla, “Pelan-pelan dong Cil, malu aku kalo sampai ada yang denger.” Bisiknya.

“Sorry-sorry, kan aku kaget banget. Hehehe.” Jawabnya setelah Risa melepas tangannya sambil terkekeh. “Pradha, hemm nama yang keren. Sesuai sama orangnya.”

“Iya keren, kayak merk fashion dari Prancis.”

“Tapi lucu, padahal namanya mengandung huruf R, masak orangnya gak bisa bilang huruf R? Trus pas dia ngenalin namanya gimana ya?” Cilla tertawa membayangkan bagaimana Pradha memperkenalkan namanya sambil tertawa pelan.

“Jangan dihina gitu dong. Imut tahu, lagian cadelnya gak terlalu kentara kok. Aku aja baru ngeh pas dia nerangin teknisnya.”

“Halah, itu mah pasti gara-gara kamu deg-degan. Makanya gak fokus dengerin.”

“Ih... enggak ya. Emang cadelnya gk cadel-cadel banget. Masih bisa dibedain kok pas dia bilang kata yang ada huruf L dan R.” belannya tak terima Pradha diejek.

“Ciye-ciye dibelain,” Cilla menoel-noel lesung pipi Risa yang saat ini tersenyum. Rona merah muda tercetak dipipinya yang tirus. “habis ini kamu bisa dong pdkt sama Mas Pradha. Modusin yang keras Ris.”

“Apaan sih, baru juga tahu namanya. Jalan masih panjang kali.”

“Berawal dari nama bisa turun ke hati kali Lis.” Ejeknya sambil tangannya ia gerakan membentuk simbol hati.

“Doain aja ya. Semoga bisa.”

“Aamiin...” jawab keduanya semangat.

Risa tersenyum membayangkan apakah setelah ini dia bisa akrab dengan Mas Kerennya.

“Eh btw Lis, kamu udah di WA masnya belum? Kan katanya yang diterima bakalan dihubungi lewat WA.” Kata Cilla membuyarkan lamunan Risa.

Mendengar hal tersebut, senyum Risa langsung pudar. Pasalnya hingga saat ini dia belum dihubungi oleh Pradha.

“Belum, tapi aku udah tanya Mila sama Arsya mereka juga belum dihubungi kok. Jadi plis jangan bikin aku was-was ah. Kan ini kesempatan aku buat cari duit plus pdkt gitu, Cil. Sekarang itu aku lagi seneng, jadi plis deh jangan merusak moodku.”

Risa menyudahi obrolan dengan mengeluarkan Hp beserta headsetnya, salah satu kebiasaan yang muncul mengikuti Pradha yang juga sering mendengarkan musik memakai headset. Lalu ia menatap ke area taman untuk mengintai apakah ia bisa melihat Pradha lagi. Cilla pun memahami kebiasaan sahabatnya itu, lalu melihat playlist yang sedang terputar, I Don’t Even Know Your Name dari Shawn Mendes. Lagu yang sering Risa dengarkan setelah jatuh cinta pada Pradha. Risa berkata jika isi dari lagu kini sama seperti kisahnya dengan Pradha.

****
Bab 1 meluncurrr....
Maaf yakkk cerita yg kemarin2 hiatus duluuuu.
Oh iya aing pusing bikin covernya. Adakah yg bisa bantuin?
Typo bertebaran, jd jika kamu menemukan tolong tulis di komentarnya yaaaa
Terimakasih

Love ❤❤

OrchidFlow


You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 15, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Love at First SightWhere stories live. Discover now