PROLOG: Di Balik Kesunyian

3.5K 178 1
                                        

Malam itu, hujan mengguyur Jakarta seolah hendak menyapu bersih seluruh kenangan yang mereka bangun selama sembilan tahun.

Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Rainie berdiri mematung. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tenggelam dalam kesunyian akibat kecelakaan tragis itu, keajaiban terjadi.

Pendengarannya pulih seratus persen.
Namun, suara pertama yang kembali menyapa inderanya bukanlah nada penuh kehangatan, melainkan bisikan dingin Darren Halim kepada teman-teman di sekitaranya:
"Gue bertahan sama dia cuma karena kasihan. Lagian, cewek tuli kayak gitu mau lari ke mana lagi kalau bukan ke gue?"

Kalimat itu menusuk tepat di ulu hati Rainie, menghancurkan seluruh dunia yang ia percayai dalam hitungan detik.

Tanpa air mata, tanpa raungan histeris, Rainie melepas cincin pertunangan di jarinya dan meletakkannya di atas meja rias.

Malam itu juga ia melangkah pergi dari Jakarta-membawa serta sebuah rahasia besar yang tak pernah sempat ia bisikkan pada Darren.

Enam tahun kemudian.

Di atas pasir pantai di depan sebuah vila megah tiga lantai, Darren Halim berdiri terpaku. Di hadapannya, Rainie berdiri dengan keanggunan yang tak lagi tersentuh-dingin, berjarak, dan asing.

Dan di samping wanita itu, seorang bocah laki-laki berusia lima tahun menatap Darren dengan pasang mata monolid hitam pekat yang amat ia kenali.

Bocah itu mengangkat kedua tangan mungilnya ke udara, menggerakkan jari-jemarinya membentuk bahasa isyarat sederhana.

S-I-A-P-A?

Dada Darren bergetar hebat. Suaranya tercekat di tenggorokan, tenggelam di bawah deburan ombak yang membentang di antara mereka.

"Dulu kamu mempelajari bahasa tanpa suara untuk menjangkau kesunyianku, Darren. Tapi sekarang... bahkan suara terkerasmu pun tak akan sanggup menembus ombak yang kubangun."


01 September 2026
©Cyndiastra 🎐

VOICE BEYOND THE WAVESHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora