01 - Masa Kecil

63 2 0
                                        

Gadis kecil dengan rambut kuncir kuda terlihat sedang menikmati camilan yang berada di genggamannya. Sesekali tangan kirinya mengusap bibirnya yang terasa aneh. Membuat hampir separuh dari wajahnya belepotan karena camilan coklat yang tengah disantapnya.

Pipinya yang agak gembul tampak terlihat semakin gembul kala tangannya tak henti menyuapkan camilan yang masih tersisa.

"Adek, harus pelan-pelan kalau makan." Seorang wanita cantik berusia hampir setengah abad menghampirinya. Duduk agak berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan si gadis kecil. Tangannya terulur membersihkan sisa-sisa camilan yang menempel di sekitar bibir gadis itu. Dengan telaten dan penuh kelembutan.

"Ma ... mau lagi." Gadis kecil itu merengek, menunjuk-nunjuk tumpukan camilan lain yang tak jauh dari tempatnya.

Sang Mama menggeleng pelan, mengangkat tubuh mungil gadis itu untuk menjauh dari sana.

Bukan dia tak mau menuruti permintaan putrinya. Tetapi, putrinya sudah terlalu banyak menghabiskan camilan yang sengaja disediakan di atas meja. Sekaligus wanita itu juga merasa tidak enak dengan si pemilik rumah.

"Maaf, Ed. Kanaya memang suka banget sama makanan manis," ucap wanita itu menampakkan senyum canggungnya.

"Tidak apa. Namanya juga anak kecil," jawab si pemilik rumah. "Kenapa dia tidak ikut main saja sama putra-putra kita?"

Wanita itu menatap putrinya sejenak, seraya tersenyum. "Mau main sama Abang nggak, Dek?" tanyanya yang dibalas anggukan antusias oleh putrinya.

Gadis kecil itu turun begitu saja dari gendongan mamanya. Berlari kecil sembari tertawa riang karena sudah diperbolehkan mamanya untuk ikut bermain bersama sang kakak. Pasalnya, saat berada di rumah mereka sendiri, kakaknya selalu melarang gadis itu untuk ikut bermain dengannya.

"Bang Angga!" Dengan mata berseri, gadis kecil itu menghampiri kakaknya yang kini sedang bermain perang-perangan bersama anak laki-laki yang usianya sepantaran dengan sang kakak.

Bibir gadis itu mencebik, sebab tak mendapat respon dari kakaknya. Sang kakak tak menyahut panggilannya, bahkan sama sekali tidak menatapnya.

"Bang Angga!" Kembali gadis kecil itu berseru agak kencang.

"Auch!" Sapaan gadis kecil itu kini berganti menjadi rintihan. Kedua matanya yang berseri, pun kini justru berkaca-berkaca. Tak lama disusul dengan air mata yang mengalir dengan derasnya.

"Dasar cengeng," ucap sang kakak seraya berjongkok. Tangan kecilnya mengusap-usap kepala sang adik yang tidak sengaja terkena pukulan dari mainan pedangnya yang sebenarnya ia layangkan ke lawan bermainnya. Tidak tahu menahu jika sang adik tiba-tiba saja berdiri di antara mereka.

"Abang udah bilang, kalau Abang lagi main kamu nggak boleh ikutan main!" Meskipun suaranya terdengar judes dan agak kasar. Namun, usapan sang kakak pada rambut gadis kecil itu masih sangat lembut.

Sementara teman laki-laki Angga hanya diam melihat interaksi antara dua bersaudara itu. Hatinya perih, sebab ada rasa iri.

Sejak dulu dia sangat ingin memiliki seorang adik, entah itu perempuan, atau sama sepertinya, laki-laki. Dia selalu merasa kesepian berada di rumah yang cukup besar. Namun, tak cukup penghuni. Hanya dia, ayah, dan bundanya. Itupun tidak setiap hari bisa berkumpul bersama. Karena kedua orangtuanya sama-sama sibuk bekerja.

"Ngga, Adik kamu boleh buat aku ya?" tanya anak laki-laki itu dengan tatapan polosnya. Setelah melihat Kanaya yang menangis dengan bibir melengkung ke bawah, entah mengapa membuat dirinya ingin memeluk gadis kecil itu.

"Nggak boleh lah!"

"Kenapa?"

Kedua bocah dengan usia hampir mendekati 10 tahun itu saling bertanya dan menjawab. Angga bahkan melupakan adiknya yang masih beruraian air mata.

"Adik aku tetap adik aku. Mana boleh buat kamu!" Angga tidak terima jika teman kecilnya tetap bersikukuh ingin merebut sang adik.

"Boleh!" Teman kecilnya tak mau kalah juga.

"Saga minta buatin adek aja sama Ayah Bunda Saga sendiri," balas Angga masih tak mau terima.

Yang dipanggil Saga itu menatap Angga sejenak sebelum berlari menghampiri sang Ayah yang entah sedang membahas apa dengan Mama dari teman bermainnya.

Saga menarik-narik ujung kemeja ayahnya. Membuat pria yang sudah beruban itu menoleh, memfokuskan tatapan untuk bisa menatap anaknya.

"Ada apa, Sayang?" tanya sang Ayah dengan lembut.

"Saga mau Naya, Yah!" seru anak laki-laki itu dengan wajah berseri.

Mama Naya mengangkat sebelah alisnya, tampak bingung. Tetapi wanita anggun itu tetap mencoba memberi sebuah senyuman yang lembut.

"Nggak boleh." Angga tiba-tiba muncul dari balik pintu. Di susul Naya yang mengikuti bocah laki-laki itu di belakangnya.

"Ma, Kanaya mau pulang," ucap gadis kecil itu membuat pertanyaan yang akan dilayangkan mamanya hanya mengambang di lidah.

Gadis kecil itu merasa tidak nyaman dengan bocah laki-laki yang oleh kakaknya dipanggil dengan sebutan Saga itu. Tidak nyaman juga dengan tatapan bocah itu yang sama sekali tak lepas menatapnya.

Mama Naya berdiri, bangkit dari sofa empuk berwarna hijau tosca yang sejak satu jam lalu ia duduki. Meraih kedua tangan anak-anaknya yang menampakkan raut cemberut yang sama.

"Naya nggak boleh pulang!" Saga berteriak. Membuat mama Naya menghentikan langkahnya sejenak, menoleh dan menatap dengan lembut bocah kecil itu. Sementara Naya dan Angga tidak sedikit pun mengalihkan tatapannya.

"Besok kalian boleh main lagi. Ya?" Wanita anggun itu mencoba menghibur. Meskipun sedikit tidak tega meninggalkan bocah kecil itu, tapi dia juga harus membawa anak-anaknya pulang. Sebab jika putrinya sudah merengek, tidak akan ada yang bisa membujuknya. Pun hari sudah semakin sore.

Saga menggeleng kuat-kuat, menyusul Naya seraya menarik tangan gadis kecil itu.

Sadar ada yang mengusik adik kecilnya. Angga ikut menarik tangan adiknya. Terjadilah adegan saling tarik menarik dengan Naya yang hampir menangis karena tidak suka dirinya ditarik-tarik seperti itu.

"Saga, kamu menyakiti Naya kalau seperti itu." Ayah Saga melepaskan tarikan Saga pada tangan mungil Naya. Menjauhkan putranya dan tak melepas cekalan tangannya pada putranya.

Saga meronta dengan kuat, tidak mau dijauhkan dengan Naya barang satu meter pun.

Dia ingin Naya bersamanya!

"Yah, lepasin Saga." Saga memohon.

"Kanaya di sini sebentar gak apa-apa kan?" Mama Naya merasa tidak tega dengan bocah kecil itu.

"Nggak boleh, Mama!" Angga yang membalas. Sementara Naya hanya diam saja.

"Kalian pulang saja. Nanti juga Saga tenang dengan sendirinya." Ayah Saga melempar senyum tipis.

Angga menarik adiknya untuk keluar menjauhi Saga. Dia berjanji tidak mau datang lagi ke rumah besar itu. Dia tidak mau ada yang memisahkannya dengan sang adik.

"Tante." Suara keras Saga membuat mama Naya kembali menoleh sebelum benar-benar mencapai pintu keluar.

Saga dengan paksa melepas tangan sang ayah yang mengungkungnya. Berlari kecil menghampiri wanita dan kedua anak itu.

Sementara Angga memeluk dengan erat sang adik.

Saga menatap satu per satu keluarga yang sangat dikenali oleh ayahnya itu. Melempar senyum yang menampakkan deretan giginya yang sudah lengkap, bocah kecil itu mengungkapkan suatu hal yang mampu mengejutkan orangtua mereka.

"Saga mau cium Naya!"

***

Tuban, 17 Januari 2020

Assalamualaikum.
Hai semuanya!! Fee bawa cerita baru lagi.🙈🙈
Selamat membaca dan semoga kalian suka😍😍

Telepon Genggam SagaraStories to obsess over. Discover now