First

87 4 0
                                        

First, he came to me. Datang dengan pakaian rapi dan tubuh wangi, senyumnya sudah seperti produk-produk cuci gudang yang amat lowprice saja. Saat menatapku, matanya mengerling berulang kali, awalnya kupikir dia cacingan, tapi kata temanku dia memang begitu kalau sudah suka sama orang.

Kalau sudah suka sama orang, kuulang.

Aku tertawa dalam hati, jijik sekali hari pertama sekolah malah bertemu kakak kelas macam badut kegerahan begitu.

Hampir setiap hari selama sebulan pertama dia mendatangi kelasku, setelah tebar pesona ke teman-teman perempuan, dia menghampiriku. Langsung kuusirlah manusia tak berwajah itu dari teritorialku. Tidak peduli senior atau bahkan seniornya senior, kuhapus kata sopan dan
santun dalam kamusku, dan khususnya, hanya kumasukkan kata-kata yang kalau kuucapkan di depan Ayah-Bunda bisa-bisa membuat namaku dicoret dari kartu keluarga tanpa kompromi.

Dia orang paling tidak punya kerjaan yang pernah aku temui selain tebar pesona sana-sini.

Malas sekali jika harus berurusan dengannya.

Suatu waktu ketika di kantin, dia ikut nimbrung di mejaku dan teman-teman. Dia membawa dua teman akrabnya. And guess what? Teman-temanku kelihatannya menahan napas di saat harusnya mereka menelan suapan di mulut mereka! Bukannya mengunyah, mereka malah menganga. Waktu itu, langsung aku bergumam pada diriku, ‘ew, jorok’ yang langsung dibalasnya dengan ‘Hei, kamu, kenapa gak ikutan nahan napas?’

Get the fudge out of here,” tembakku dengan wajah sedatar mungkin.

Mungkin itulah kali pertama aku bertemu manusia berpikiran abstrak macam Geoqi.

Bukan hanya pikirannya, wajahnya juga. Kurasa aku butuh pakai kacamata hitam untuk menatapnya. Terlalu seram jika dilihat langsung. Bisa-bisa aku betulan ambruk di tempat. Ya, persis teman-teman seangkatanku yang tiba-tiba pingsan karena dirinya.[]

Just Like The WindStories to obsess over. Discover now