One

96 13 3
                                        

Sang surya telah mencapai puncak singgasananya. Menyebarkan secercah terik disertai hangat yang menjalari raga seorang gadis berusia 16 tahun yang tengah bersandar pada dinding kokoh abu-abu tua. Sarat matanya terfokus pada objek yang tengah ia pijak—keramik bergambar garis garis abstrak dengan warna yang senada.

"Huhh.." Ia mendengus sembari mengusap peluh yang mengalir pada kulit kuning langsatnya. Mata yang tadi terfokus pada keramik, sekarang telah berkeliling ke arah kanan dan kiri—berusaha mencari sesuatu yang sejak tadi Ia tunggu.

"Neng Ana!!" Seorang laki-laki paruh baya disertai BMW silver berhenti tepat di hadapannya. Ana mulai melangkahkan kakinya gontai sembari masuk ke dalam mobil yang telah dikendarai pak Dirman, sopir pribadinya. Ralat—sopir pribadi keluarganya. Dengan segera, Ana menyumpal telinganya dengan headset. Alunan Beautiful In White oleh Shane Filan mulai mendominasi pendengaran hingga pikirannya ditemani hiruk-piruk jalanan yang menyapa.

Cendana Rahayu, perempuan yang tengah menempuh pendidikan di salah satu SMA di sudut kota Bandung. Orang biasa memanggilnya Ana. Hidup di keluarga yang berkecukupan tak membuatnya meremehkan kehidupan yang telah diberikan. Walau terkadang banyak masalah menerpa dirinya. Bersyukur, hanya itu yang dapat Ia panjatkan.

BMW silver yang ditumpangi Ana mulai memasuki kediaman keluarga Tjandranegara. Rumah yang terdiri dari 2 lantai itu terlihat kokoh bak istana. Tangan kanan Ana mulai terjulur menekan knop pintu. Lukisan lukisan abstrak menyambut kedatangannya. Ana menyusuri satu per satu anak tangga, namun, langkahnya terhenti di anak tangga ke-empat.

" Baru pulang, Na?" Suara sopran itu menginterupsi pendengarannya. Matanya mulai tertuju pada segerombol manusia yang tengah bercengkrama pada ruang yang diketahuinya adalah ruang makan.

" Iya, Ma, tadi di jalan macet." Ana menjawab sesuai fakta yang dihadapinya tadi. Jalanan Bandung memang sangat ramai pada waktu siang menjelang sore.

"Lain kali jangan sore sore pulangnya, kasihan pak Dirman belum bisa istirahat karena nunggu kamu pulang." Ucap wanita berusia 40 tahun itu. Matanya menukik tajam raga Ana yang tengah terpaku di atas tangga. Tangannya dengan lincah menggesek gesekkan pisau ke arah benda pipih empuk yang dilapisi selai blueberry. Aster Marabella—diketahui namanya, tetap tenang meskipun ucapan yang Ia ucapkan berdampak pada raut wajah Ana.

"I-iya.. Tadi karena ada kegiatan sosial tambahan khusus buat anak IPS. Jadi--"

"Kenanga, kamu mau nambah rotinya?" Sahutan Ana dipotong begitu saja ketika wanita yang tadi bertanya itu, mulai menawarkan makanan pada saudara perempuannya, Kenanga. Ana mendengus pelan. Ia mengatur ekspresinya sebaik mungkin sembari melanjutkan langkah menaiki anak tangga menuju kamar.

"Siapa suruh kamu masuk jurusan IPS? Kan Papa sudah bilang, masuk jurusan IPA saja, toh, tidak akan banyak kegiatan seperti sekarang, kan? Baru 3 bulan masuk saja sudah disambut kegiatan." Suara bariton yang menggema di penjuru rumah itu lagi lagi membuat Ana harus menghentikan langkahnya.

"Kan Ana sudah bilang sama Papa, kalau Ana gak terlalu berpotensi di bidang IPA. Jadi, Ana mau cari jurusan yang sesuai sama kompetensi yang Ana miliki." Sanggah Ana dengan selembut lembutnya agar sang Ayah tidak tersinggung dengan perkataannya. Bukan tidak ada alasan Ana menolak permintaan Ayahandanya, tapi karena Ia hanya ingin fokus pada yang Ia mampu. Ana tidak ingin masa SMA nya sia-sia hanya untuk hal yang tidak sesuai dengan dirinya.

"Tapi, kenapa kakak sama adikmu bisa menerima permintaan Papa? Kenapa kamu tidak bisa? Papa cuma ingin kamu nantinya bisa jadi orang yang sukses di masa depan, biar nanti bebas memilih fakultas di universitas. Toh, itu semua demi kebaikan kamu, kan. Atau kamu memang tidak sayang dengan Papa? Kamu sudah merasa bisa? Iya, kan?" Sarkasme yang ditujukan sang Ayah pada dirinya sontak membuat tenggorokan Ana tercekat. Ia tidak bermaksud begitu, sungguh.

 Walaupun Ia seringkali diperlakukan berbeda, namun itu tidak membuatnya benci pada orang orang yang telah membesarkan dirinya. Tapi, kali ini, untuk kesekian kalinya sang Ayah selalu menyinggung keputusan yang telah Ia mantapkan dengan segenap hati dan jiwanya. Sungguh, Ia jenuh. Ana juga ingin diberi kebebasan layaknya saudara kandungnya yang lain. 

" Ana tidak bermaksud begitu, Pa. Tapi--"

" Sudahlah, kamu itu memang susah dinasehati." Pak Johar Tjandranegara—ayah Ana memutuskan pembicaraan secara sepihak setelah sebelumnya memotong penjelasan Ana. Dengan susah payah Ana meneguk saliva-nya sembari mengayunkan kaki ke arah lantai kedua, mengabaikan keheningan yang tercipta di ruang makan yang sayup-sayup Ia dengar kembali ramai.

Entahlah, Ana merasa ingin menangis saat ini juga. Kehadirannya seakan hanyalah bayang-bayang yang tidak diharapkan. Manik hazel miliknya mulai basah. Ana mengurungkan niat untuk memasuki ruangan pribadinya dan tubuh mungilnya mulai mengarah pada tangga yang menuju pada titik tertinggi bangunan ini.

Hembusan angin sepoi-sepoi menyibak rambut hitam sebahu milik Ana. Horizon mulai menyemburkan jingga dihiasi gumpalan kapas tipis. Burung-burung perlahan kembali ke sarangnya, mempersiapkan diri menghadapi dinginnya malam yang akan segera menerpa.

Di sini Ana berdiri, tempat favoritnya ketika Ia merasa terpuruk. Jingga yang terpatri selalu setia menjadi pendengar setia curahan hatinya. Bulir kristal bening mulai membasahi pelupuk matanya. Perkataan serta sikap yang keluarganya tunjukkan tadi, sungguh memeras hati Ana.

Jika kalian berpikir bahwa tadi adalah hal yang biasa saja, namun bagi Ana ini sungguh menyakitkan. Mengapa? Karena ini sudah kesekian kalinya menerpa dirinya.

Jika kalian berpikir bahwa masalah ini berakar dari dirinya yang memilih jalannya sendiri, kalian salah. Sebelum masalah ini terjadi, Ana sudah sering merasakannya. Meskipun sebelumnya tidak seberat ini. Dibanding-bandingkan dengan saudaranya dan tidak pernah diberi kesempatan berpendapat adalah salah satu contohnya. Entah mengapa tadi Ia merasa ingin menyampaikan suaranya. Ia merasa sendiri, terasingkan, bahkan di keluarganya sendiri.

Lalu, bagaimana Ana selama ini bisa bertahan? Dengan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah hal yang wajar. Dengan menyakinkan dirinya bahwa ini adalah takdir yang harus Ia terima. Miris.

Kaki Ana bertengger pada sala satu sudut rooftop. Suasana senja nan khidmat membuatnya lebih tenang. Ana mulai mengatupkan kedua kelopak matanya. Memberi kuasa penuh pada angin untuk melepas semua rasa jenuh yang menggerogoti jiwanya.

                                                                                    ****

To be continued..

Terimakasih sudah membaca, jika berkenan silahkan tinggalkan jejak melalui vote. Karena pembaca yang baik adalah pembaca yang menghargai karya orang lain. :) Kalau ada kritik dan saran dipersilahkan komen. Mohon maaf kalau masih ada kekurangan ya..

Regards,

  urcafeine

 

KAUSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang