Dear reader,
terima kasih sudah membaca. Komen, vote, dan dukungan kalian berharga sekali buatku. Please, jangan jadi silent reader ya... Terima kasih.
Happy reading, reader...
------------------------------------------------------------------------------------
Menyumpah-nyumpahi ibukota Jakarta sepertinya sudah menjadi agenda sehari-hari bagi sebagian besar penghuninya. Semacam hari belum lengkap kalau belum marah-marah. Menyumpahi macet, menyumpahi para pengendara motor yang naik ke trotoar, menyumpahi angkot yang kalau ngetem sudah macam jalanan punya pribadi, sampai lama detik lampu merah juga ikut disumpah-sumpahi. Sedangkan aku? Aku sudah tidak punya tenaga untuk menyumpah-nyumpah.
Pikiranku saat ini hanyalah, ingin segera turun di halte busway selanjutnya lalu mencari ojek yang dapat mengantarkanku ke kontrakanku yang tercinta itu. Selain itu, mas-mas berkaus kuning di sebelah ini, ketiaknya bau setengah mati. Mana basah pula!
Kakiku buru-buru melangkah ke arah pintu yang terbuka, begitu suara dari pengeras menyebutkan nama halte perhentian. Peringatan agar melangkah hati-hati dari penjaga pintu busway yang tadi kutumpangi sedikit kuabaikan, kuganti dengan senyum ramah saja pada si mas berkumis tipis itu. Aku benar-benar butuh udara segar. Sepuluh menit lagi di sebelah mas berketiak basah itu, aku tidak yakin masih bisa hidup.
"Ojek,Neng?"
Aku mengangguk dan langsung menumpang di jok belakang lalu mengulurkan tangan untuk meminta helm. Kurapatkan jaketku dan menutupi kemeja berlogo CAM Corp di bagian dada kiri. Kemudian aku tertawa kecil mengingat omongan Re, salah satu rekan kerjaku saat ada yang bergurau tentang logo kantor kami yang begitu mencolok di dada kiri.
Gue rasa alasan kenapa dibordir di dada kiri tuh, biar dekat di jantung. Udah semacam hidup gitu CAM di hati kita.
Re, si anak baru yang gila.
"Belok kanan ya,Bang..." kataku pada si abang ojek yang hanya dibalas anggukan kepala.
Aku melihat ke jam tanganku. Masih jam setengah sembilan. Perutku lapar dan mulai mengeluarkan bunyi-bunyi memalukan. Thanks to the helmet, jadi si abang ojek tidak bisa mendengar bunyi jelek ini. Kalau begini, menyesal juga sih tadi tidak mampir ke minimarket. Lumayan kan kalau makan nasi Tenggo yang simple dan mengenyangkan itu.
"Bang, berhenti situ."
Aku menyerahkan selembar uang berwarna hijau ke tangan si abang ojek, lalu memandang sekilas pada gerobak nasi goreng dan gerobak soto ayam yang nangkring manis di depan komplek gedung apartemenku ini. Pikiran antara, beli atau tidak, sempat membuatku diam termangu macam orang dungu. Namun akhirnya rasa lengket di badan dan mata yang agak berat minta dipejamkan membuatku memutuskan untuk mengenyahkan bayang-bayang seporsi nasi goreng mawut bertabur bawang goreng dan semangkuk panas soto ayam Surabaya yang kuahnya segar itu.
Makan buah saja, pikirku.
Sudah hampir 2.5 tahun aku mengontrak sebuah kamar di apartemen sederhana yang agak mirip-mirip rumah susun tapi versi bagus banget ini. Seorang kakak dari seorang teman kantor dari divisi lain yang menawarkannya saat pertama kali aku kerja di CAM Corp. Sejak SMA aku sudah tinggal sendiri di kos-kosan. Kedua orang tuaku sudah meninggal dan aku hanya punya seorang paman yang menghidupiku sejak SMA. Saat diterima bekerja di CAM, otomatis aku harus pindah dari kos yang lama karena letaknya jauh sekali dari kantor. Jadilah aku mengontrak di sini. Beruntung pemiliknya memberi harga yang bisa dibilang murah pakai banget.
"Oi, udah balik?"
Meet my roommates, Gamaliel.
...
VOCÊ ESTÁ LENDO
Neversince
RomanceBagaimana kalau sejak awal, kita memang tidak pernah ditakdirkan bersatu? Pertemuan kita hanyalah konspirasi alam. Atau mungkin memang kita hanya diijinkan untuk mengkisahkan sebuah kenangan? Harusnya sejak awal kamu tidak perlu mengenalku. Seharusn...
