Happy Reading 😘
"Ahhh sialan kenapa lo nggak mati aja!" Ngamuk wanita berambut pirang pada sesorang laki-laki yang terbaring lemah di ruangan ICU.
"Tuhan punya rencana untuk kita Tania, aku masih bersyukur Tuhan masih beri kesempatan aku untuk hidup dan akan aku gunakan kesempatan itu untuk menjaga kamu." Revan berucap lirih masih dengan lilitan alat bantu pernapasan yang kini masih terpasang dihidungnya.
"Jangan sebut nama Tuhan, karena gue nggak akan pernah mau nikah sama lo! Ingat itu." emosi Tania kemudian berjalan meninggalkan Revan yang masih berbaring lemah.
Revan hanya bisa meratapi punggung gadis itu yang semakin hilang dari pandangan matanya. Penglihatannya tampak memburam yah pria itu sedang menangis, dadanya terasa sesak, hatinya sangat sakit lebih sakit dari luka yang ia dapati dari kecelakaan yang baru saja menimpa dirinya.
Yah mungkin karena bukan Tania, Revan tidak akan mempertaruhkan nyawanya seperti tadi, membuat dirinya tertabrak dengan mobil yang melaju dengan sangat cepat untuk menyelamatkan Tania dari insiden itu. Tapi apa, Tania hanya menginginkan dirinya mati.
"Tidak Tania, aku akan selalu ada buat kamu, biarkan kamu membenci ku. Aku ikhlas Tania. Aku mencintaimu!" Lirih Revan sebelum matanya perlahan kembali menutup.
***
Tania segera berlalu dari rumah sakit itu meninggalkan Revan sendirian, bahkan Tania enggang menghubungi orang tua atau kerabat dari Revan, ia sangat tidak peduli terhadap laki-laki itu.
"Biarkan saja dia meninggal!" satu kalimat yang diucapkan Tania saat hendak membuka pintu mobilnya
Wanita itu memang tidak punya hati, tapi kenapa Revan masih saja mencintai perempuan yang berhati iblis itu.
Suara musik yang menggema di dalam mobil Tania menjadi pengantar kesunyiaanya yang berada di dalam mobil sendirian. Ia bergoyang tak karuan di dalam mobil mengikuti alunan musik dj.
"Mati aja lo sana Revan, gue nggak peduli! Siaopa suruh lo malah sok jadi pahlawan buat gue tadi, hahahha"
"Gue nggak peduli sama lo Revan, kenapa sih lo masih hidup?" Kesal Tania ia memukul kuat setir mobilnya.
"Ahhh, sialan lo Revan!!"
"Gue nggak akan sudi lo jadi suami gue!!!"
Tania semakin menancap pedal gas mobilnya sehingga kecepatan mobilnya semakin bertambah.
"Ahhh sialan, kenapa gue malah mikirin Revan!!" ia semakin kesal.
Tania segera berjalan memasuki rumahnya tanpa memberikan ucapan salam kepada orang tuanya yang saat itu sedang berkumpul di ruang tamu.
"
Di mana Revan, Tania?" tanya Riska ibunda Tania.
Tania menatap ibunya sekilas kemudian tersenyum. "Di rumah sakit! Hampir mati!"
Riska memegang dadanya shock dengan ucapan Tania, Revan calon menantunya di rumah sakit, hampir mati? Dan Tania malah tampak bahagia sekali.
Sedangkan Raga ayah Tania kini memegang pundak anaknya.
"Revan kenapa Tania, kamu apakan dia?"
Lagi-lagi Tania tersenyum. "Papa silahkan aja temui sendiri si Revan itu! Tanya aja sama dia, Revan kasihan di rumah sakit sendirian. Tania nggak ngabarin orang tua Revan, biarkan saja dia meninggal!"
YOU ARE READING
I AM SORRY! (END)
General FictionBagaimana rasanya jika seorang menikah dengan orang yang justru ia benci? Yah, begitulah yang terjadi dengan seorang Tania Angreanita. Mau tidak mau harus menikah dengan seseorang yang telah dijodohkan oleh orang tuanya. Lalu apa yang terjadi sete...
