Helloww reader aku! Have a nice read ya ((: Kalo ada saran atau masukan BOLEH BANGET ya lewat komeen! Jangan lupa vote yaa ^v^
***
"GUE GAK BISA DIGINIIN!" teriak Ori. Teriakannya sontak membuat seisi kantin menoleh ke arahnya. Tatapan penuh tanda tanya mereka lontarkan kepada perempuan berambut abu-abu itu.
Nadine, sahabat Ori sedari kecil langsung meringis. Ia malu. Untung ia sudah cukup kebal menghadapi perempuan yang sangat ekspresif di hadapannya sedari mereka masih SD. "Udah Ri, sabar! Tuhan kan sayang sama orang sabar!"
Ori malah melotot menanggapi nasehat Nadine. "BODO! GUE GAK PEDULI SAMA TUHAN! MAU GAK DISAYANG KEK! MAU MASUK NERAKA KEK! GUE GA PEDULI!!!" teriaknya berapi-api.
Kali ini teriakannya mengundang tatapan sadis dari mbak-mbak bercadar yang duduk di meja sampingnya. Menyadari hal tersebut, Nadine malah melotot balik, "apa sih mbak lihat-lihat? Ga suka? Mau nyeramahin saya? Mending kalo ceramah di masjid sono!" ujarnya pedas.
Mbak-mbak bercadar dan teman-temannya langsung angkat kaki saking risihnya dengan omongan Ori. Ori tersenyum sinis, "bagus deh pergi! Lain kali kalo makan di kantin sendiri doong!" ujarnya keras.
Kalimatnya yang terakhir sontak membuat meja Ori dkk dihujani tatapan-tatapan tajam. Kantin Fakultas Ilmu Budaya (FIB) memang sering dikunjungi mahasiswa dari berbagai fakultas lain. Termasuk mbak-mbak bercadar tadi, Ori berani jamin kalau mbak tadi pasti bukan dari FIB. Bah, mana ada anak FIB yang bercadar!
Kali ini ganti Bayu yang meringis, ia yang sedari tadi diam memperhatikan mulai angkat bicara. "Ri, udahan yuk makannya!"
"Ini lagi kadal satu! Lo gak liat makanan gue masih utuh?" omel Ori sadis.
Bayu mendesah kesal, "kena kan gue!" cibirnya pelan. Ia paling malas kalau sudah berurusan dengan Oriana yang sedang berapi-api. Mulutnya itu loh, pedas bukan main kalau sudah ngomel. Ia bergidik ngeri, tak dapat membayangkan nasib suami si Ori kelak. Pasti deh kalau ngamuk ngasih makannya rengginang!
"Ya iyalah masih utuh! Kan kamu dari tadi ngomel mulu!" sindir Anna.
Ori melotot, "kan gue esmosii Annnaaaa!"
Anna menyendok kuah sotonya, setelah ditelan baru ia berkata, "kalo emosi tuh cerita! Kamu dari tadi cuma teriak-teriak 'gue ga bisa diginiin!' 'dia kejem banget' 'apa sih dosa gue?'. Percaya aku deh, kalo kamu dari tadi gitu, ga akan nyelesain masalah tahu!" ujarnya kalem.
Seisi meja terdiam, menyadari kebenaran kata-kata Anna. Anna yang asli Solo memang kerap menjadi penyelesai masalah mereka karena ia tak mudah terpancing emosi.
Bayu memandang Anna dengan tatapan kagum, "Na, nonton yuk!"
"Ogah!" jawab Anna singkat, padat dan jelas. Ia kemudian menyendokkan soto ke dalam mulutnya, tak mempedulikan Bayu yang melongo menatapnya.
Nadine menepuk-nepuk punggung Bayu, "sabar, brother! Anna gak akan kepincut sama playboy cap kelek kayak elo!"
Bayu melotot, "si Anna belum tahu kualitas gue sih!"
Ori tertawa lepas, "KUALITAS? Kualitas lo cuman kontol doang, gitu!"
Seisi meja speechless, kaget dengan perubahan mood Ori yang luar biasa cepat.
Bayu mendesah kesal, menatap Ori dengan pandangan terluka. "Sakit banget, Ri!" ujarnya sambil memegang dada. "Eh, btw lo kenapa sih tadi teriak-teriak gitu?" tanyanya perhatian. Meski Ori kalau ngomong pedasnya nggak ketulungan, tapi Bayu selalu bisa maklum dengan sifat Ori. Ya iyalah, kawan dari TK! Kalau bukan temen dari TK, mana mau Bayu dibully mulu sama Ori?
ESTÁS LEYENDO
Two Sides
RomanceOriana-mahasiswi berambut abu-abu yang memiliki dendam kesumat dengan dosennya, Rendy-dosen muda genius yang sangat ringan tangan dalam memberi tugas-disatukan dengan cara yang tak biasa.
