Aku telah mendebu di sela-sela sepi. Aku telah usang dan tak mampu menjadi ujaran rindumu. Pada malam yang dulu selalu kau puisikan bersama batas-batas spasial di antara kita, tak kau keluhkan jauh dan jemu yang menengahi kita. Dan pada mentari yang sepenggalah kau metaforakan kita sebagai setangkai padma mekar biarpun di atas keruhnya kolam. Kini benarlah aku menjadi debu sebab cerita kita sudah menjadi legenda yang teralpakan.
Apakah kau tak akan berhenti menjadi pelupa? Aku tahu kau berhak memilih menjadi orang yang paling senantiasa bahagia. Tapi, ingatlah hal bahwa, apa yang kita pilih belum tentu dapat kita putuskan.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Asa ini memang telah menjadi debu hanya belum berembus angin-angin yang makin menyirnakan. Ya sudah, lah, singkirkan saja debu yang masih mengotori cita-citamu. Tak apa, kita sudah menjadi diri masing-masing, kan?
Akulah lembar puisi yang tak lagi ada urgensi di padanan-padanan diksinya. Rindu, tak lagi menjadi bulan-bulanan apa yang kau kalamkan. Dan kau penyair yang berubah menjadi penyihir, penyihir yang tak mampu melipat jarak dengan rapi.
Pergilah, jangan melembariku lagi!
Biar saja sisa-sisa lembar ini aku yang tulis sendiri: bersama rinduku; bersama penyair yang bersedia berkarya menuliskan asanya dengan apa adanya yang kubentangkan.
*) Dimulai pada 2018
-------‐------------------------------------------------------- Halo, selamat datang di "Debu". Jika berkenan boleh bagi kritik dan sarannya, ya. Jangan lupa starnya, hehe...