"Tiba-tiba mendengar hal membuat kita sakit hati dan merasakan sesak di dada, hingga membuat hati terluka. Terimakasih atas ujiannya."
***
"Dika, temenin ke toko buku yukk!!" Ajak Fanya pada Dika yang sedang asyik bermain Handphone.
"Kenapa harus sama gue sih? Ajak Salsa aja sana Anyaa." jawab Dika tanpa mengalihkan perhatian pada Handphonenya.
Hanya Dika yang memanggil Fanya dengan sebutan Anya, panggilan khusus katanya. Dika nggak suka kalau ada orang lain yang memanggil Fanya dengan sebutan Anya juga, alasannya dia bilang "Kan yang manggil fanya dengan sebutan Anya kan gue dulu, jadi cuma gue yang boleh manggil dia Anya". Abstrak banget kan alasannya?
"Dia males keluar katanya Dik, makannya gue ngajakin lo. Lagian lo juga lagi gak ada latihan ngeband kan?" Wajah Fanya dibuat sesedih mungkin, agar Dika mau menemaninya ke toko buku.
Dika yang melihat hal itu hanya menghembuskan nafas panjang, dia memang sedang nggak ada jadwal untuk latihan ngeband hari ini. Hanya saja dia lagi malas untuk keluar rumah, dia sedang berada di Zona Nyaman. Tapi melihat wajah memelas Fanya, dia nggak tega buat nggak nganterin Fanya.
"Yaudah ayo gue anter lo, tapi sebagai gantinya besok lo nemenin gue latihan band ya?" pinta Dika sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Yeayy, oke siapp Dikacuu. Gue ganti baju dulu ya." Fanya langsung berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
***
Sesampainya di toko buku, Fanya langsung mencari buku yang dia cari, sedangkan Dika duduk di kursi yang digunakan untuk tempat membaca sambil memainkan Handphonennya.
"Doorrr!!!" tiba-tiba Fanya datang dengan membawa banyak buku di tangannya.
"Astagaa Anyaa, apa apaan si lo, kalau gue jantungan gimana coba. Nanti kalau gue mati gimana?"
"Alay lo ihh, udah ah. Pulang yukk! Gue udah dapet buku yang gue cari." ajak Fanya sambil menarik tangan Dika.
Mereka selalu melakukan hal seperti layaknya remaja yang sedang jatuh cinta, tapi nyatanya mereka hanya berteman. Banyak teman di sekolahnya yang iri dengan kedekatan mereka, mengira bahwa mereka berpacaran.
Di dalam mobil Anya sibuk dengan buku barunya, mereka sama sama diam. Tidak ada yang memulai untuk membuka pembicaraan, hanya terdengar suara lagu yang diputar oleh Dika. Dika memang sudah mengerti kebiasaan Anya, jika dia sudah berkutik dengan buku bukunya, pasti dia dianggurin. Itu salah satu alasan Dika malas mengantar Anya ke toko buku.
"Langsung pulang atau gimana Nya? Nggak mau cari cemilan gitu buat di rumah?" tawar Dika pada Fanya
"Iya deh boleh. Tapi lo yang beliin ya? Hehee, beliin gue es krim juga. Buat persediaan di rumah kalo gue lagi gabut nanti. Pleaseee!!" jawab Fanya dengan senyuman lebarnya.
"Iyaaa Anyaaaaa. Apa sih yang enggak buat lo." sambil menyubit pipi chubby milik Fanya.
***
"Di rumah lo ada siapa Nya? Kayaknya bokap sama nyokap lo ada di rumah deh, itu mobil mereka ada di bagasi." tanya Dika
"Ehh iya ya, tadi kan waktu kita jalan masih nggak ada orang Dik. Iya deh kayaknya mama sama papa lagi di rumah." Fanya tersenyum lebar saat dia tahu jika mobil orang tuanya berada di bagasi rumahnya. Itu tandanya mereka berada di rumah. Sudah lama sekali Fanya nggak kumpul sama keluarganya. Dia merindukan itu.
Dengan semangat, dia keluar dari mobil Dika.
"Dika, gue duluan yaa. Makasih snack sama es krimnya." Sambil berlari menuju halaman rumahnya.
***
"Assalam....." ucapan Fanya berhenti saat ia mendengar perdebatan orang tuanya.
"Lebih baik kita urus diri kita masing-masing. Saling intropeksi diri, kita perbaiki jika memang ini masih bisa diperbaiki, tapi jika sudah tidak bisa dipertahankan lagi, lebih baik kita hidup masing masing. Aku yang akan mengurusnya jika memang sudah tidak bisa dipertahankan." suara mama Fanya terdengar bergetar saat mengatakan hal itu.
"Jangan seperti itu ma, kasihan Fanya. Kita bisa perbaiki ini semua. Papa kerja untuk kalian berdua, kalau masalah sekretaris papa. Itu nggak seperti yang mama pikirkan. Percaya sama papa, maa." ujar papa Fanya dengan memegang pundak mama untuk menenangkannya.
Di balik pintu, Fanya telah mendengar semuanya. Dia sudah tidak kuasa lagi menahan tangisnya, ia terisak, dadanya terasa sesak. Ia tidak menyangka jika hubungan orang tuanya sedang berada di ujung tanduk.
"Apakah mama dan papa akan bercerai?" tanya Fanya dalam hati.
******
Thanks for reading:)
Masih amatir, tapi aku usahain yang terbaik, jangan lupa vote dan komennya ya:)
YOU ARE READING
REALLY?
Teen FictionNamaku Refanya Zahira, kisah ini menceritakan bagaimana aku harus menghadapi setiap masalah yang ada dengan ikhlas. Mulai dari keluarga, pertemanan hingga apa itu cinta. Yang awalnya hampir saja aku kehilangan keutuhan keluargaku, namun beruntung ak...
