s a t u r n
Aksa_smdr :
Gue mau kita putus.
Gadis yang sedang berbaring sambil memainkan ponselnya itu sontak menegakan punggung saat mendapati notif dari Aksa. Tubuhnya mematung. Matanya berulang kali membaca sederet kalimat itu. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia salah membaca.
Tidak. Tidak mungkin. Aksa pasti salah. Lelaki itu salah mengetik. Ya. Pasti.
Menahan air matanya, Tea terus menggelengkan kepala. Dengan tangan gemetar, Tea menghubungi cowok itu.
Tea menggigit bibir bawahnya saat panggilannya sudah diangkat oleh Aksa. Hening. Tidak ada yang berbicara. Membuat Tea semakin takut. Aksanya diam.
"Kenapa?" Tanya Tea dengan suara parau.
Aksa disana masih diam.
"Salah ngetik kan? Hah? Iya kan Sa?" Mata Tea mulai berkaca-kaca.
Tidak mendengar jawaban, Tea kembali membuka suaranya.
"Aksa. Please. Bilang sama gue kalau lo tadi salah ketik atau handpone lo lagi dibajak sama Ardan atau mungkin-"
"Engga satupun Tea. Itu dari gue."
Air mata Tea lolos membasahi pipinya. Bibirnya terasa kelu.
"Lo mau pu-tus? Kenapa?"
Aksa disana menghela nafas.
"Rumit Te. Lo nggak bakal ngerti."
"Makanya jelasin biar gue ngerti"
"Belum saatnya."
"Hah?"
"Sorry Tea. Kita sampai sini. Makasih. Semoga lo dapet yang lebih baik dari gue. Selamat tinggal."
Belum sempat Tea membalas, Aksa lebih dulu mematikan sambungannya. Tea mencoba berulang kali menghubungi kembali nomer Aksa. Tapi sia-sia. Ponsel cowok itu tidak aktif.
Tea melempar ponselnya asal ke kasur. Tubuhnya merosot lemas di dinding. Ia berjongkok dengan tangan yang menutup wajahnya. Isak tangisnya terdengar memilukan memenuhi ruangan itu. Dadanya terasa sesak. Mengapa Aksa jahat sekali? Mengapa cowok itu seenak jidat memutuskan hubungan tanpa persetujuan dirinya? Apa dia tidak mempunyai hati? Perasaannya sakit. Bukankah dirinya juga mempunyai Ibu? Apakah dia lupa bahwa Ibunya juga seorang perempuan?
Dengan kasar Tea menghapus air matanya dan melesat keluar kamar. Mengabaikan tatapan bingung yang ditujukan Ayah, Bunda dan Kakaknya pada dirinya. Ia berlari keluar rumah dengan terburu-buru. Menyebrang jalan dan sampailah ia dirumah Aksa. Rumah Aksa memang berhadapan dengan rumahnya. Hanya dipisahkan oleh jalan beraspal.
"AKSA!" Teriaknya keras. "MANG MAMAN! BUKA GERBANGNYA! TANTE!"
Karena tak sabar Tea hampir memanjat gerbang. Membatalkan niatnya saat melihat Mang Maman muncul dengan terburu-buru. Membukanya gerbangnya.
YOU ARE READING
SATURN
Teen FictionJika waktu mempertemukan kita kembali, ku harap kau belum menemukan pengganti. Karena saat kita bertemu lagi, yang aku harapkan bukan sekedar pertemuan. Tapi penyambutan untuk sebuah awal yang baru. Denganmu. Menutup cerita lama yang belum usai. Me...
