Sore itu, sepulang sekolah jelas kulihat pintu kelasku terbuka, sengaja tak bergegas pergi hanya karena ingin dia menghampiri.
Ya, seperti biasanya. Rutinitas yang nyatanya akan selalu kurindukan ketika hal itu tidak ada disetiap pulang sekolahku.
Tapi ada yang berbeda hari ini, Aku tak melihatnya menjemputku seperti biasanya.
Lalu bergegas ku buka jendela kelas, sengaja kutatap tajam keluar, mencari pada setiap sudut pertemuanku dengannya. Benar dugaanku, dia pergi begitu kesit, dengan tas abu-abunya, seragam yang tak karuan, jelas tak seperti penampilan biasanya.
Tangan dengan jam kesukaanku itu melaju cepat memegangi stir sepeda polygon abu-abu bermotif oranye nya. Tetap terlihat keren seperti kesukaanku, tapi sayang kutemukan dia yang berbeda hari ini, setelah 11tahun mengenalnya. Dan, aku pulang dengan kaki lunglai, perasaan cemas, tangan yang terus saja mengepalkan handphoneku untuk sekedar menunggu dering kabar kejelasan darinya.
Pikiranku tidak lagi dengan tubuhku, hatiku berselimut khawatir sampai aku tak tau apa yang harusnya bisa aku lakukan selain terus berjalan menelusuri isi rumah sepulang sekolah hari ini. 2jam kemudian, jam dinding menunjukkan pukul 5sore hari, setelah habis tak bertenaga dibuatnya, handphone ku berbunyi..
"Ku jemput nanti setelah maghrib tiba, ditempat biasanya. Maaf jika tadi siang pergi meninggalkanmu tanpa pamit atau tak menunggumu didepan pintu seperti biasanya. Nanti kujelaskan, kuingin meluapkan apa yang membunuhku hari ini di taman kota, didepanmu, Rara."
Lega, takut, khawatir, penasaran, berkecambuk didada sesaat setelah pesan itu kuterima. Masabodo tentang perasaanku sendiri, akhirnya Aku bernafas sore itu, dan malam nanti segera kupahami dia yang hari ini berbeda. Aku bergegas mandi, mempersiapkan diri untuk malam nanti..
YOU ARE READING
Maaf Terbesarnya, untuk Ayah.
Non-FictionAku tak memiliki hati selapang itu, tapi nyatanya lubuk hati tak pernah bisa diatur kepada siapa dia tetap mencintai walau beribukali disakiti.
