Aku meluruskan kedua tanganku ke atas. Rasanya sudah sangat pagi sekali, tapi hari ini aku akan kembali pada rutinitasku. Sekolah, tugas, tidur. Itulah hidupku. Hanya sebuah pengulangan dari hari kemarin. Tetapi aku berharap di kelas XI ini, hidupku akan jauh lebih baik dan indah. Nggak cuman berurusan dengan sekolah dan tugas, tetapi juga ingin merasakan sesuatu yang indah di remaja ini. Kebahagiaan bersama teman, sahabat, dan dia. Siapa dia? Entahlah.
"Hari pertama di kelas XI. Today is must better than yesterday," itulah ucapanku dalam hati sebelum berangkat sekolah. Sudah menjadi kebiasaanku sendiri setiap hari.
Aku berjalan pelan menuruni anak tangga dengan pakaian putih abu-abu ku. Aku sesekali mengecek jam yang melingkar di tangan kananku. Sudah pukul 06.20? dan aku masih sesantai ini? Ya itulah aku. Telat dateng ke sekolah bukan rutinitasku tapi tepatnya dateng di jam yang pas-pas an waktu bel adalah kebiasaanku sendiri. Rumahku ya lumayan, tapi i don't care hahahaha.
"Nadyaaa, gece donggg. Lu mau telat lagi? " ya inilah jika aku lelet. Kena marah dengan abangku sendiri, namanya Bang ray. Padahal dia itu sudah kuliah dan hari ini jam kelasnya pukul 8? Kenapa dia yang malah bawel sendiri? Sedangkan aku? Hahahaha.
"GECE WOYYY," teriak Bang Ray dan aku memutuskan untuk mempercepat langkahku untuk masuk ke mobil Bang Ray.
"Mamaa, Nadya berangkat. Bang Ray nii bawel," teriakku.
"Iyaa sayang hati hati. Bekalmu sudah mama titip ke Ray," balas mamahku dari arah meja makan.
Aku pun sampai di sekolah tepat sekali pukul 06.30. Ya inilah sekolahku, SMA Dian Harapan. Bel sudah berkeliaran di telinga para siswa-siswi. Mereka pun mempercepat langkahnya untuk turun ke bawah. Dan aku? Aku dengan santainya berjalan sambil menggendong tas pink pastelku ke atas.
Menaikki sebuah tangga yang pasti akan menjadi pusat perhatian siswa-siswi. Dan aku sama sekali tidak malu atau takut, karena bukan hanya kali ini. Tapi sudah pernah, bahkan sering hahahaha.
***
Upacara selesai, semua siswa diberikan waktu 15 menit istirahat sebelum pelajaran akan dimulai. Mereka semua berkeliaran sana sini. Ada yang langsung ke atas, kantin, bahkan ada yang masih di sekitaran lapangan sembari ngobrol-ngobrol santai.
Aku masih disini, mematung di tempat. Mataku teralih pada sekumpulan anak-anak OSIS. Mereka sedang berjalan menuju ruang OSIS. Sejak tadi, ada seseorang yang tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Siapa dia? Aku memperhatikannya sejak tadi. Detak jantungku terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dari diriku sendiri. Sekali lagi aku berkata dalam hati, "siapa dia? ". Oh aku tak tahu namanya. "Ihh namanya siapa yaa, ganteng banget," geramku dalam hati. tiba-tiba....
"Nadyaaa!!!!" terdengar teriakan yang memanggilku yang tak lain adalah sahabatku sendiri, namanya Nashwa.
Tubuhku terasa ada getaran yang mengangetkan diriku.
"Anjirrr, hampir aja gw jantungan," aku menolehkan pandanganku pada Nashwa sambil mengelus-elus dadaku sendiri saking kagetnya.
"Lagiann lu ngapain sii? Dari tadi gw liatin lu ngeliat anak osis. Siapa sihh?" tanya Nashwa sembari celingak-celinguk melihat anak osis tadi.
"Apaan, orang gw aja gatau namanya. Tar aja kalo udah tau gw kasih tau dah. Udah yukkk ahh, "aku menarik Nashwa untuk segera naik ke atas.
Nashwa hanya diam dan mengikuti perintahku. Mau aja disuruh-suruh hahahaaha.
***
Ya disinilah kelas baruku, XI Ipa 2. Beruntung sekali aku masih bisa satu kelas dengan sahabatku. Walau kami nggak sebangku lagi, ini semua karena ulahku yang dateng telat dan alhasil sudah ditempati oleh orang lain. Tapi yaudahlah yaa, tidak menjadi masalah besar bagiku.
"Haii, gw Nadya," aku memberikan uluran tangan pada teman sebangku-ku.
Haii, Marsha," gadis itu, menyambut uluran tangan dariku.
Wajar saja, aku bukan tipe perempuan yang mudah berkenalan, apalagi yang bukan teman sekelasku. Gini-gini aku juga agak sedikit pendiem di sekolah hahahah. Tapi ketika bersama sahabat, wah sudah beda lagi ceritanya. Gak ada yang namanya kata jaim. Karena aku, Marsha, dan beberapa teman lainnya beda kelas pas kelas X, alhasil aku seperti throwback awal masuk SMA, merasakan momen berkenalan lagi dengan teman-teman yang belum aku kenalinya.
Bel istirahat
"Kantin yukk," kata Nashwa menghampiri-ku dan Marsha.
"Ayukkk, ikut gak?" tanyaku pada Marsha.
"Ikutt dongg," jawab Marsha.
Kami bertiga menuju kantin yang berada di lantai dasar. Rasanya perut kami sudah meminta jatah makanannya. Kantin bisa dibilang tempat favorit para siswa-siswi. Wajar saja jika kantin di sekolahku selalu ramai, tetapi pasti hal ini juga sama di sekolah kalian bukan? Pasti kalian sudah tau alasannya kenapa. Yang pasti karena ada makanan yang banyak hahahaha. Karena kantin yang begitu ramai, aku, Nashwa, dan Marsha terpisah karena sama-sama ingin membeli makanna yang kami inginkan. Kami bertiga sudah sepakat bahwa nanti sehabis beli makanan, ketemu di koridor kelas X Ips 1 lantai dasar.
"Buu, ini berapa?" tanyaku pada ibu-ibu penjualnya.
"10 ribu neng," balasnya.
Aku memberikan satu lembar uang sepuluh ribu pada ibu-ibu itu.
"Makasihh," ucapku kembali.
Aku membeli satu nasi ayam yang ditempati di plastik mika dan air putih dingin. Ketika aku berbalik untuk segera menghampiri Nashwa dan Marsha,
"DUGGGHHH"
Seperti ada sesuatu yang basah mengenai seragam putihku. Aku kaget melihat seragam putihku berubah warna menjadi oren muda.
"Ehh, sorry sorry. Sumpah gw gak sengaja," ucap seorang cowok sembari membawa segelas es jeruk yang sudah kosong dan tumpah di tempat.
Aku menatap cowok itu. Aku tidak mendengar apa yang ia katakan. Aku hanya fokus pada wajahnya yang begitu tampan, manis juga.
"Cowok itu?? "ucapku dalam hati.
"Anak OSIS tadi?"
"Semaniss itu dongg, gila sedeket ini," kataku dalam hati kembali.
Tanganku gemetar. Aku tak kuat menahan detak jantung ini yang terdengar begitu cepat. Apa kalian akan selebay diriku? Atau lebih? Aarghhh itu bukan lebay, tapi sangat excited. Ya of course lah hahahaha.
"Yawlohhh, oksigen please, "geramku.
"Lu gapapa kan? Lu kaget ya? Detak jantung lu cepet banget," ucap kembali cowok itu.
"Mampussss, dia denger detak jantung gw. Mati gww!!!" sadarku dalam hati.
Aku bangun dari imajinasiku dan lamunanku sesaat dan kembali pada kisah nyata
"Aa, iyaa,hmmm,hmm, apa kak? "ucapku terbata-bata.
"Lu gapapa kan? Sebelumnya sorry, ini tisu buat nge-lap ini seragam lu."
"Arghhh, hmhm, hmhm, iya makasih kak, "aku mengambil tisu itu dengan kerepotan dan pastinya gemeteran. Aku yakin pasti dia akan menyadari bahwa tanganku sangat gemeteran.
"Lu gapapa kan? " tanyanya kembali seperti sangat khawatir padaku.
Apaansi lu nad, geer banget. Hahahahha
"Hmmm, iya gapapa kok."
"Serius gapapa kan?" tanyanya kembali. Wajahnya sangat cemas.
Melihat dia secemas itu, tubuhku makin gemetar, keringat dingin. Semua sudah tak bisa ku kendali. Rasanya sudah ingin pingsan.
"Beneran gapapa kok kak, serius dehh," ucapku meyakinkan bahwa diriku baik baik saja.
"Syukurr deh kalo kayak gitu, sekali lagi sorry ya. Gw duluan," katanya sembari berjalan hingga punggungnya menghilang.
Secara tak sadar, bibirku membentuk lengkungan huruf "U". Bagaimana aku tak bahagia? Ini lebih dari bahagia. Aku harap akan ada pertemuan indah selanjutnya dengannya.
BERSAMBUNG
Happy reading, semoga sukaa💕
Jangan lupa kritikan yang membangun, karena itu sangat membantu 😊
Don't forget to vote 😊✨
17 November 2018 💖
YOU ARE READING
Time Will Answer (Hiatus)
Short Story"Aku percaya bahwa setiap pertemuan-pertemuan kita adalah pertemuan yang indah. Dan juga waktu pasti akan menjawab semua penantianku selama ini, untuk MEMILIKIMU -Nadya. " Gaya bahasa random😊 #200 in highschool (28/12/2018) #440 in badboy #761 in...
