"Dek, kok tumben udah siap?" tanya nenek gue yang sedang membaca surat kabar cetakan kemarin.
"Murid baru harus rajin dong, Yang," jawab gue sambil menyiapkan barang-barang yang harus kubawa ke sekolah.
Jangan salah sangka dulu ya. Gue manggil orangtua dari orangtua gue dengan sebutan Eyang, bukan Sayang.
"Oh, pantesan kamu udah siap sedia kayak tentara mau perang," celetuk nenek gue.
"Ini mau pergi perang kok. Memerangi kebodohan. Hehehe," sahut gue sambil tertawa garing.
"Sini, sini. Kita foto dulu. Kan pertama masuk SMA nih," ujar kakek gue yang datang sambil membawa kamera digital kunonya.
Gue pun hanya berdiri seraya tersenyum kaku karena merasa tidak percaya diri pada satu hal, yaitu penggunaan jilbab sekolah.
Waktu SMP, jilbab sekolah gue memiliki bentuk berupa "jilbab jadi", yang membuat gue lebih mudah untuk memakainya. Hal itu berbanding terbalik dengan jilbab SMA gue yang memiliki bentuk berupa "jilbab segiempat".
Dan selama di SMP, gue benar-benar jarang memakai jilbab dengan bentuk seperti itu. Salah satu alasannya adalah pemakaiannya yang ribet. Mungkin karena gue aja yang belum terbiasa. Karena teman-teman gue justru berpendapat yang sebaliknya.
Dugaan gue menguat saat melihat hasil tangkapan gambar. Terlihat bahwa bentuk jilbab gue yang tidak karuan. Meleyot di sana, miring di sini. Benar-benar hancur. Tapi entah kenapa, gue masa bodoh dengan hal itu dan mengajak ayah untuk segera berangkat.
Peristiwa pertama dalam sejarah hidup gue, yaitu hari pertama masuk SMA. Dengan semangat, gue menyampirkan tas di bahu dan berpamitan pada kakek nenek.
Semangat gue tersulut akibat pemikiran dangkal yang tercetus setelah nilai UNBK gue keluar. Gue benar-benar berekspetasi tinggi tentang kehidupan gue selama melewati fase putih abu-abu sebagai remaja ingusan.
Saat masuk melewati gerbang depan, gue menatap sekeliling dan memantapkan langkah untuk melewati semua proses yang terjadi di sekolah ini, seolah berjanji pada diri sendiri untuk tetap bertahan walau terjadi sesuatu yang buruk.
"Halo SMA, aku datang untuk belajar. Mari kita berkawan hingga kutemukan jati diri."
####
Halo, nama gue Sekar Arum Chandra Kinara. Waktu masuk SMA, umur gue sudah 15 tahun. Kenapa gue pakai kata "sudah"? Karena teman seangkatan gue banyak yang umurnya lebih muda dari gue.
Agak sedih sih, tapi mau gimana lagi. Masa' gue mau merangkak masuk ke rahim ibu? Jelas gak mungkin dong. Jadi gue terima apa adanya aja.
Di sini gue bakal ceritain kehidupan gue saat orang lain menyebut jenis kami sebagai makhluk labil, nakal, dan "rawan kejahatan".
Di saat inilah banyak pemikiran gue -yang cukup bisa dibilang aneh- keluar dari otak. Banyak juga masalah yang datangnya dari mana aja, sampai bikin kepala rasanya mau jatuh tiba-tiba dan cocok untuk olahraga jantung.
So, this is me when teenager. Welcome to my grey world.
Salam kenal,
Chandra
YOU ARE READING
The Ambiguous Journey
General Fiction"Kenapa seragam murid SMA warnanya abu-abu? Karena murid SMA adalah remaja, dan remaja itu masih labil seperti warna abu-abu yang bukan hitam dan bukan juga putih," ucap salah satu guru baru gue di sekolah yang baru juga. [Cerita murid berseragam pu...
