DMC-1

974 33 1
                                        

"Edi, kamu tahu apa ketakutan terbesar saya?"

"Hm? Sepertinya saya tidak tahu, Pak."

Edi membantu pak Anom, majikannya selama dua belas tahun terakhir ini, turun dari mobil. Salah seorang satpam yang berjaga di rumah megah pak Anom saat itu turut membantu dengan menurunkan kursi roda dari bagasi. Edi dan pak satpam lalu mendudukkan pak Anom perlahan pada kursi rodanya. Membetulkan posisinya agar orang tua itu tetap nyaman bersandar hingga berjam-jam ke depan. Selesai dengan memindah-dudukkan pak Anom, Edi menutup pintu mobil, untuk selanjutnya mendorong kursi roda pak Anom menyusuri pekarangan rumah, membawa majikan yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri itu ke tempat favorit: halaman samping.

Hening sesaat. Edi dan pak Anom merasa damai memandangi dedaunan rimbun pohon-pohon mindi dan mahkota dewa, juga kolam ikan koi yang jernih dan menimbulkan suara gemerisik lembut dari pancurannya, serta tanaman-tanaman hias dalam pot warna-warni. Angin semilir membawa ketenangan. Pak Anom lantas tersenyum.

"Saya belum memberitahu kamu tentang ketakutan terbesar saya, ya," celetuk pak Anom, masih tersenyum.

Edi menoleh. "Apa itu, Pak?"

"Menyerahkan harta saya pada orang yang salah."

Edi terdiam mendengar jawaban pak Anom. Tenggorokannya mendadak gatal, tapi ia segan untuk berdeham. Seharusnya ia tahu, pak Anom memang selalu cinta pada hartanya. Bukan hal baru bagi Edi mengingat bagaimana pak Anom seringkali mengungkit hal itu. Dan melepaskan sesuatu yang dicintai tentu saja membuat setiap orang merasa takut.

"Kamu tahu, Edi," lanjut pak Anom, "alasan saya menikahi istri saya juga sebenarnya karena rasa takut saya. Saya tidak ingin harta saya jadi bahan permainan, dan saya tidak suka penjilat."

Edi menyimak khidmat. Enggan mengusik cerita sang majikan.

"Dulu hidup saya susah. Diusir dari rumah paman saya karena dianggap beban. Ya, maklum saja mungkin. Paman saya anaknya, kan, banyak. Jadi kalau saya terus numpang di rumahnya... takutnya anak-anak paman saya kekurangan jatah makan karena harus berbagi dengan saya. Badan saya dari dulu bongsor. Makan saya tidak bisa sedikit." Pak Anom terkekeh-kekeh, menyisakan kerutan yang semakin dalam sepanjang garis tawa pada pipi bulatnya. "Setelah itu, saya mendatangi paman-paman dan bibi-bibi saya yang lain, tapi mereka juga mengusir saya. Alhasil saya terluntang-lantung. Sebentar nge-kos, sebentar kemudian numpang tidur di tempat teman, kadang juga menginap di rumah ibadah. Bahkan saya pernah tidur di kolong jembatan selama sekian minggu, tidak ada yang mau menampung saya."

Mata Edi melebar. Tidak menyangka kalau pak Anom yang sukses dan bergelimang harta itu ternyata pernah terjebak di roda terbawah dalam hidupnya. Meski begitu, Edi mulai merasa janggal dengan kilas balik yang tiba-tiba dibagikan pak Anom saat itu. Pak Anom selalu punya visi misi yang jelas ke depan. Selama mengenal pak Anom, Edi telah hapal betul ciri khas pak Anom yang tidak pernah mau repot-repot mengenang masa lalu. Baginya melangkah hanya untuk maju. Tapi Edi seperti biasa, tidak suka menyela. Edi tetap diam dan mendengarkan.

"Saya tidak menyerah. Saya terus berusaha. Mimpi saya satu: punya banyak uang. Jadi saya mati-matian bekerja ke sana kemari. Sampai akhirnya saya bisa kuliah dengan tabungan saya sendiri, lalu merintis usaha dengan keringat saya sendiri. Setelah usaha saya lancar jaya, berhasil membuka cabang di beberapa kota, tiba-tiba keluarga saya datang. Mereka membawakan saya kemeja batik dan kare kambing kesukaan saya. Paman-paman saya, bibi-bibi saya, sepupu-sepupu saya, yang dulu saya kejar-kejar dan menolak saya... mendadak memuji-muji saya."

Pak Anom mengetuk-ngetuk ujung jari telunjuknya di atas lututnya yang tak lagi dapat merasa. Kepalanya mengangguk-angguk. Kilat emosi terlintas di kedua bola mata coklat gelapnya yang kian hari kian meredup dipengaruhi usia. "Kamu tahu karena apa, Edi?" tanya pak Anom berbisik. "Kekuatan uang."

Driver Me CrazyWhere stories live. Discover now