"Taeyeon!" itu suara Chanyeol.
Jangan. Jangan menoleh. Anggap saja tidak dengar. Tidak, aku tidak dengar. Jangan berbalik. Terus jalan. Terus jalan.
Taeyeon mempercepat langkahnya, berjalan besar-besaran menjauhi sosok di belakangnya. Dan langkahnya terhenti tepat setelah figur tegap dengan cengiran tolol itu berdiri menghalangi jalannya.
Secepat mungkin ia memoles tatapan dingin dengan sorot datar. "Menyingkir."
Sepertinya siswa dengan ransel yang disampirkan disalah satu bahu itu kurang mengerti atau terlambat menyadari kata apa yang keluar dari bibir Taeyeon, ia melongo sejenak sampai Taeyeon bergerak ke sisi tubuhnya untuk mencari jalan lain.
"Tunggu, hei! Ada apa dengan matamu? Kau habis menangis,ya?" pemuda bernama Chanyeol itu mengimbangi langkah Taeyeon dengan raut penasaran.
Taeyeon menggerutu di dalam hati, tak melirik atau menanggapi apapun. Membuat Chanyeol menarik napas sekali lantas menempatkan tubuhnya lagi di depan Taeyeon, menghalangi jalannya.
"Kau marah padaku, ya?" Chanyeol menatap lurus iris teman sekelasnya satu itu dengan penuh kebingungan.
"Tidak." Taeyeon berpindah mencari jalan lain. Namun lagi-lagi Chanyeol menghalangi jalannya. "Cemburu?"
Wajah Taeyeon terlihat datar sekaligus kesal dan terang-terangan menunjukkan pada manusia di sebelahnya bahwa ia merasa terganggu dengan pertanyaan tak masuk akal yang dilontarkan padanya.
"Kalau kau cemburu pada Joohyun sunbae hanya karena aku mengantarnya pulang kemarin, kau jelas salah. Aku tidak punya hubungan apapun dengannya."
"Kau bicara apa, sih? Sudah minggir sana." Taeyeon menguap lebar, sepertinya rasa kantuknya belum hilang meski ia sudah menghabiskan dua jam pelajaran dengan tidur di sudut meja perpustakaan. Dengan wajah kesal, Taeyeon mendorong pelan tubuh Chanyeol agar menjauh dari jalannya.
Ini sudah sore dan Taeyeon sudah kehilangan mood nya hanya karena lelaki itu terus membuntutinya di sepanjang koridor.
Taeyeon berbelok, hendak masuk ke ruang kebersihan. Tapi Chanyeol buru-buru menahannya, "Mau apa kau kesini? Ayo pulang."
"Pulang saja duluan. Aku harus piket sebentar."
Alis Chanyeol bertaut, memikirkan sesuatu. "Bukankah jadwal piketmu hari senin? Ya, paboo! Ini hari Rabu. Hari Rabu. Dasar pikun." (Hei Bodoh!)
Pltak!
"Tutup mulutmu sebelum aku memelintirnya. Dasar cerewet. Pulang saja sana, aku juga ada kursus setelah ini." Taeyeon pikir Chanyeol sudah pulang, tapi ternyata dugaannya salah ketika mendapati pemuda itu masih berdiri di depan pintu saat Taeyeon keluar hendak kembali ke kelasnya.
"Kenapa kau masih disini?" tanya Taeyeon seraya menunjuk Chanyeol dengan tangkai sapu yang baru ia bawa dari dalam ruangan.
"Apa ini karena Sooyoung?" telisik Chanyeol tajam.
"Mwogha?" (apanya)
ESTÁS LEYENDO
The Truth Untold | MYG √
FanfictionJika saja Taeyeon tahu lebih awal bahwa tawaran tentang pentas seni akhir pekan itu adalah gerbang penghubung antara dirinya dan nerakanya sendiri, percayalah, Kim Taeyeon mungkin tak perlu repot-repot memutar otak guna mencari manusia mana yang har...
