Prolog

217 41 19
                                        

"Aku menyukaimu."


Baik, jangan tertawa. Karena sebenarnya aku lebih malu pada diriku sendiri. Berbicara di depan cermin, terbayang wajahnya seolah mengungkapkan semuanya 4 mata.

Maksudku, Hanseol Saem. Dia sangat baik dan indah, dan juga aku jatuh cinta padanya. Mencintai guruku sendiri.

****

"Yoora?"

"Yoora ssi?"

"Kang Yoora?"

Aku langsung tersadar dari lamunan itu, tatapan kosong dengan pikiran yang terbang ke langit langit plafon putih kelas . Ku lirik sisi kanan dan kiri, tak ada satu orangpun yang ada disini. Hanya diriku, dan, Park Hanseol saem. Dia menatapku hangat dan penuh arti, selagi aku mengumpulkan kesadaran diri untuk bangkit dan berusaha mengartikan keadaan.

"Kau termenung sejak tadi, bagaimana keadaan mu?" Dia bertanya mengamati kondisi buruk ku yang jelas tak bisa disembunyikan. "Bel pulang baru saja berbunyi dan kau masih termenung." Tambahnya melihat ku berdiri dari bangku. Suara bangku yang tergesek dengan lantai menyelimuti kecanggungan kami berdua.

"Aku masih belum bisa melupakan kejadian itu." Ucapku penuh dengan kesedihan disetiap nadanya. Aku tersenyum dan hendak membungkuk dan keluar dari ruangan kelas, namun Park Hanseol Saem menahanku.

"Yoora? Bisa kau bantu aku?" Aku berbalik menatapnya dan setumpuk buku tulis di atas meja. Tatapannya menuju pada tumpukan buku itu, aku tau, dia meminta ku untuk membawanya keruang guru, buku buku sialan.

Aku menghembuskan nafas pelan, aku ingin cepat pulang dari mimik wajahku juga masam, seharusnya ia paham. Tanpa aba aba, aku langsung mengambil setumpuk buku itu dan berjalan keluar kelas, Hanseol saem awalnya berjalan di belakang ku sampai akhirnya dia jalan sejajar denganku.

"Yoora ssi, jika ada sesuatu tolong ceritakan padaku. Tuan Kang mempercayai ku untuk menjagamu." Katanya menatapku dengan tatapan ramahnya. Setahuku dia adalah guru yang paling muda, usia kami juga tidak terlampau jauh. Pantas saja yeoja yeoja genit itu selalu memanggilnya Hanseol oppa.

"Gomawo-yo, kau sangat baik saem. Pantas saja semua yeoja menyukaimu." Menurutku ini hanya cendaan tapi dia tidak merespon sama sekali, membuatku berpikir pikir apakah yang ku katakan itu salah? Tapi detik berikutnya ku dengar ia tertawa kecil, aku meliriknya, mencuri curi pandangan untuk melihat wajahnya.

Meski koridor sepi kami sama sekali tidak dihantam ombak kecanggungan. Tak terasa kami sudah sampai ruang guru. Dia membukakan pintu untukku, membiarkan aku masuk duluan. Aku tersenyum, dia penuh perhatian. Aku meletakan setumpuk buku itu tepat diatas meja disamping laptop pribadinya.

"Khamsahamnida Yoora ssi." Dia tersenyum manis untukku. Aku hanya mengangguk membalasnya. "Yoora, sudah seminggu sejak kau pindah, apakah kau sudah menemukan teman?" Tanyanya basa basi sebelum aku benar benar pergi dari ruang guru. Hanya ada beberapa guru yang ada didalam ruang guru, udara dalam ruangan ini sejuk berpadu dengan parfum rungan aroma Lavender.

"Entahlah, banyak yang mengajak ku ke kantin bersama. Tapi, tidak ada yang cocok denganku. Jadi lebih baik  tanpa teman." Jawabku terlalu jujur dan seadanya. Dia menatapku iba pasti jelas terdengar kesepian dan kehampaan dalam cara bicaraku.

Hanseol saem terlihat berfikir sebentar, sampai kalimat selanjutnya membuatku sedikit terkejut."Aku bisa menjadi temanmu, jika kau mau." Timpalnya dalam posisi duduk. Jujur, aku sedikit terkejut, dia terlalu baik. Aku tersenyum menghargainya.

Jika Appa Kang tidak memintanya untuk menjaga ku, mungkin dia tak akan berkata seperti itu."Kang Yoora, kau hanya perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru." Tambahnya menasehati, dia baik sekali. Dia pandai bergaul dengan murid muridnya, aku senang menjadi murid yang cukup dekat dengan Hanseol Saem. Terimakasih appa Kang, kau menitipkan ku pada orang yang baik.

Bunyi pintu terbuka membuat kami menoleh bersamaan dengan hadirnya seorang wanita muda. Itu Lee Yunji, guru Matematika yang terkenal dengan senyum manisnya. Kecantikan nya justru lebih dari sekedar 'kata kata orang'. Aku tersenyum menyambut kehadirannya.

"Oh Yunji ssi. Selamat siang." Suara Hanseol saem menyapanya dengan sopan dan ramah. Selain tampan, Hanseol saem terkenal akan keramahannya, aku akui itu. "Eoh? Kang Yoora?" Yunji saem berjalan menghampiri ku dengan senyumnya. "Nde?" Responku polos. "Hanseol, selalu menceritakan tentangmu. Dia bilang kau gadis yang menarik." Yunji saem tersenyum pada pria dibelakangku.

Aku kaget. Hanseol saem selalu menceritakan ku? "Hanseol bilang, kau murid yang baik dan cerdas. Sayang sekali aku tidak bisa mengajar dikelasmu." Tambahnya membuatku tersipu malu dan dengan gerakan refleks aku menunduk menahan senyum.

***

Aku berbaring menatap langit langit kamar, aku kembali melamun. Tak ada yang pantas aku pikirkan selain Eomma. Tatapanku beralih pada dinding kiri kamarku. Pada dinding itu terpajang foto eomma, appa, dan Yoora kecil yang bahagia. Tanpa ku sadari, air mata menusuk ku, bendungan air mata begitu cepat datang, aku berusaha menahannya agar tidak keluar dari pelupuk mata. Aku tidak ingin eomma melihatku menangisinya.

"Eomma...bogoshipo-yo." Suaraku serak tenggorokan yang kering ini kupaksakan mengeluarkan kata kata yang membuatnya sedikit sakit dan perih. "Eomma... appa menitipkan ku pada Hanseol saem." Aku menatap foto wanita cantik itu, ibuku yang sedang tersenyum difoto itu.

"Hanseol saem adalah orang yang baik." Aku tersenyum saat menyebutkan namanya. "Aku ingin memiliki pacar seperti Hanseol Saem." Aku memandang foto itu lagi, dalam dan penuh arti, kerinduan. Tak ku sadari, air mata tadi sudah kering bagaikan air mendidih yang menjadi uap.

Ending SceneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang