2. Murid pindahan

71 2 0
                                        

Ayra menompang wajahnya dengan satu tangannya, sedangkan satu tangannya ia istirahatkan sejenak untuk merilekskannya, karena ia sedikit merasa keram akibat terus terusan menulis. Ayra melirik Beliana sekilas yang masih sibuk dengan ponselnya, lembaran kertasnya pun, hanya menampakan judul saja.

TING

Tangannya menjelajah kolong mejanya mencari keberadaan ponselnya.

081XXXXXXX
Ayra...

"Siapa?"tanya Beliana
Ayra merespon dengan gelengan.

"Laris bener nomer hp lo"

"laris?emangnya jualan"

"Mau bales gak?"tanya Beliana

"Gak ah gue takut dia begal"celetuk ayra.

"Njir"

"Haha lagian gue gak kenal siapa dia"
Bersamaan dengan itu, Notif kembali mucul, tetapi sekarang tertera jelas nama sang pemilik pesan.

Kak Tasya

Sorry, gue kasih LINE lo ke Aldi. Dia maksa , katanya lo juga kenal Aldi"

"Aldi?" Beliana membaca isi pesan tersebut, yang mengarah kepada satu nama yaitu ALDI.

Beliana berfikir keras, namanya cukup familiar.

"Tunggu, Aldi anak Band itu?" Beliana yakin betul, nama Aldi disekolahnya ini cuma satu, Dan pasti dia.

Ayra menaikkan bahunya, bahwa ia tidak tau.

"Mana gue tau, tapi katanya gue kenal dia? Masa sih?.."berbicara dengan dirinya sendiri.

"Ahhh gue inget sekarang"ucap Amanda heboh

"Apa-apa?"

"Pas istirahat tadi yang gue nemenin lo kekelas kak tasya"

"Terus?"

"Didepan kelas banyak cowok cowok tuh, nah ada Kak Aldi, dia lagi main gitar"Jelas Beliana.

Ayra mengerutkan dahinya.
"Masalahnya gue gak merhatiin mereka, kan gue langsung masuk"tutur Ayra, karena jujur pada saat itu iya tidak memperhatikan sekitar dan langsung masuk menemui kak tasya didalam kelasnya.

"Ck, sekilas doang pasti liat kan"menatap Ayra berharap dia mengingatnya.

"Gak Bee, yakali gue pas itu mandangin muka mereka satu- satu"

"Udah tadi risih banget digodain,terus gue harus ngeliat mereka gitu. Ogah"

"Kan gue bilang sekilas aja Ay?"

"Udah- udah mau lanjut nulis nih.
Sana gih nulis, chatting mulu lo"

"Biarin, gue lagi gak mood nulis"menutup buku miliknya, kemudia mengambil ponsel yang ia simpan disamping buku.

"Lagi gak mood?hello... tiap hari
kali lo begitu"

"Hehe"

"Ketawa lo sekarang!"

"Hehe ,udah katanya mau nulis, nanti gue minjem catetan lo" memandang Ayra dengan senyum manisnya.

"Iye!"

😺😺😺

Dug

Lututnya mendarat dengan mulus dilantai. Ditambah kepalanya yang dihujani buku buku yang membuat kepalanya sakit. Sungguh sial sekali hari ini.

"Aw! kalau jalan pake mata dong!"Ayra mengelus kepalanya yang terasa sakit karna terkena jatuhan buku.

"Sorry sorry gue tadi buru-buru" ucapnya dengan nada yang terdengar ia merasa bersalah. Kemudian merapikan bukunya kembali yang berserakan dilantai.

"Buru buru juga harusnya lo merhatin jalan !"

"Sorry, biar gue bantu" ucapnya dan menjulurkan tangnnya hendak membantu.

Ayra membalas uluran tangannya, menstabilkan tubuhnya supaya tidak jatuh kembali. Ayra buru-buru membersihkan roknya yang kotor.

"Gue anter ke UKS"

"Gak perlu" Ayra mendengus sebal, tak henti-hentinya ia mencibir cowok yang menabraknya tadi.

"Ishhh," ringis Ayra. Rasanya lututnya sangat perih ketika dia mulai berjalan.

"Tuh kan sakit, biar gue bantu"

Ayra melihat cowo ini berjongkok didepannya.

"Maksud lo, lo mau gendong gue?"
Cowok itu menoleh kebelakang tanpa mengubah sedikitpun posisinya.

"Ayo, kalau lo jalan pasti sakit kan"

"Gak kok, gausah gue baik baik aja"

"Serius? Lo bisa jalan sendiri?"menatap Ayra

Benar juga apa yang dia bilang, bagaimana ia bisa berjalan dengan lutut yang memar dan terdapat sobekan kecil yang membuat darah merah itu tampak dilututnya.

Dengan ragu- ragu iya berjalan pelan dan melingkarkan tangannya dileher Iqbal.

"Kalau bukan terpaksa, gue gabakal mau deh digendong, jelas- jelas dia menang banyak dari gue"
Ucapnya dalam hati.

😺

Ayra duduk dipinggir ranjang, lututnya telah selesai diobati. Walaupun ia harus menahan sakit dan terus merintih, itu lebih baik dibandingkan lukanya dibiarkan saja dan terinfeksi.

"Sorry ya gue gak sengaja"

"It's oke" ucap Ayra dan tersenyum hangat .

"Oh yah, thanks"ucap Ayra

"Sama sama. Kenalin gue Iqbal"

"Gue tau kok nama lo Iqbal"
Iqbal mengerti kemana arah pandang gadis ini, yah name tag diseragamnya.

"Ayra?"

Ayra mengangguk dan tersenyum simpul.

"Btw, muka lo asing, murid baru?"

"Iya, gue anak pindahan gitu sih"

Iqbal mengangguk mengerti, pantas saja ia baru melihat gadis ini. Iqbal baru menyadari sesuatu.

"Ah, jadi lo anak baru itu. Pantes semua orang ngomongin lo, dan bener lo cantik"tuturnya yang membuat Arya terasa geli dengan kalimat yang terlontar oleh cowok berama Iqbal ini.

"Namanya juga cewek yah pasti cantik dong "

"Serius"

"Yah bener kan, yakali gue ganteng"

"Haha ya bukan gitu juga"

"Haha,Pantes yah telinga gue panas mulu, karena banyak yang ngomongin"

"Gue sampe bosen denger anak anak sering ngomongin lo"

"Ahh, gue seterkenal itukah"ucap Ayra kemudian terkekeh.

"Bisa dibilang begitu. Btw, gue harus cepet-cepet balik kekelas dulu nih. Mereka pasti udah pada nunggu" ucap Iqbal.

"Pantes gue kejatuhan banyak buku, itu buku anak kelas lo"

"Heem, sorry yah."

"Berapa banyak lagi maaf yang mau lo ucapin kegue. Udah sana lo balik"

"See you Ayra."tersenyum sebelum ia bener benar hilang dibalik tembok.

Cepet sembuh Ayra - Iqbal

💜💜💜
Jangan lupa vote and comment👍
next part➡️

BabyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang