PART 1
Happy reading...
Stefani memasuki gedung pencakar langit tempat ia bekerja. Dia berjalan dengan lemah, mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantor, tampak semua orang mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Ada yang baru datang seperti dia dan mulai berbaur dengan tugasnya yang belum selesai ada juga yang repot memfotokopi berkas yang tertumpuk.
Mereka memberikan senyum hormat kepadanya saat beradu pandang dengannya. Stefani membalas senyum mereka dengan miring dan berjalan kearah lift kemudian menekan nomor lantai tempat ruangannya berada. Dia tampak lesu dan tak bersemangat untuk bekerja apalagi dengan suasana hatinya yang sekarang.
TING!!
Bunyi lift pertanda sudah sampai lantai yang ia tuju. Ia berjalan memasuki ruangannya. Ruangan itu cukup besar seperti apartemen yang ia tempati, terdapat beberapa sofa dan lemari yang cukup besar yang isinya berkas-berkas tender proyek dan data perusahaan.
Diruangan itu terbagi menjadi dua ruangan. Ruangan yang satu untuk CEO perusahaan itu dan ruangan yang satu untuk sekretaris.
Dari pintu masuk Stefani sudah melihat Etrin yang tampak sibuk dengan berkas yang menumpuk seperti tidak pernah habisnya. Stefani melangkah ke mejanya dan menghempaskan bokongnya dengan santai dikursi dan mulai menyalakan laptopnya.
“Hay Fan? Kau baru datang? Ada apa dengan wajahmu, kau terlihat kusut.”
“I’m okay” Jawab Stefani tanpa melihat kearah Etrin.
"Sure?" Tanya Etrin masih tidak puas.
Etrin hendak berjalan kearah Stefani, namun tiba-tiba seorang pria berumur 30-an masuk kedalam ruangan dan melewati mereka berdua. Melihat itu Etrin cepat-cepat kembali ke posisinya semula dan tersenyum ramah kearah pria itu. Tubuh pria itu sudah hampir masuk seluruhnya kedalam ruangan CEO namun mendadak berhenti dan menoleh kearah Etrin.
“Etrin bagaimana dengan jadwalku hari ini apa kau sudah mengeceknya?” Tanya pria tersebut.
Dia Brahim Digantara pemilik serta CEO di perusahaan ini. Pria tanpan, kaya, yang disukai banyak wanita. Walaupun kadang kala suka merepotkan dan menjengkelkan, Brahim pria yang sangat hangat dan humoris. Karismanya mengalahkan segala hal.
Awal masuk perusahaan ini Etrin dan Stefani sudah sangat mengaguminya. Hanya masalahnya, Brahim sudah menikah. Yang membuat mimpi Etrin dan Stefani serta wanita diluar sana menjadi sirna.
“Sudah Pak, sebentar siang Bapak ada pertemuan dengan Ciputra group yang kemarin tertunda dan malamnya Bapak makan malam bersama dengan pemilik perusahaan Tambang.” Jelas Etrin sambil tersenyum.
Etrin adalah sekretaris Brahim. Lalu Stefani? Stefani juga sekretaris Brahim. Tugasnya hanya dibagian penyusunan laporan dan hal-hal yang diunggulkan perusahaan untuk mendapatkan tender. Sedangkan tugas Etrin lebih ke asisten Brahim, dia yang menyusun jadwal dan menemani Brahim kemana saja, seperti makan malam dan pertemuan lainnya. Sebenarnya Etrin bisa mengambil ahli sepenuhnya menjadi sekretaris hanya Etrin tidak sanggup Apalagi perusahaan ini cukup besar dan terkenal dimana-mana, ditambah lagi dengan sifat Brahim yang merepotkan. Itulah yang membuat Brahim mengangkat Stefani menjadi sekretaris keduannya.
Menurut Stefani cukup aneh mengerjakan dua sekertaris sekaligus. Tapi ini cukup membantu kelancaran suatu perusahaan. Tugas-tugas yang ada dapat dikerjakan tanpa bertabrakan dengan jadwal dengan Brahim.
Stefani tidak perlu ikut dengan Brahim kemana-mana seperti Etrin, dia cukup duduk diruangannya dan mengerjakan semua laporan hasil pertemuan dengan client dan mempresentasikannya. Itupun bukan dia yang presentasi. Walaupun kadang dia harus ikut dan mempresentasikan laporan jika Etrin belum menguasainya dengan baik. Pekerjaannya cukup mudah hanya dia harus mengeluarkan banyak tenaga, pikiran dan waktu yang banyak di depan laptopnya. Walaupun demikian, Stefani lebih kasihan lagi terhadap Etrin yabg setiap hari harus bersama Brahim.
Brahim hanya mengaguk-angguk tanda mengerti. “Baiklah, beritahu saya jika sudah waktunya.” Kata Brahim sambil berbalik masuk keruangannya. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat kearah Stefani.
“Stefani apa kau baik-baik saja? Kau tampak pucat.” Tanya Brahim kearahnya.
“Saya baik-baik saja Pak.” Kata Stefani salah tingkah.
“Kalau kau sakit istrahatlah aku tidak mau pegawaiku mati hanya karena sibuk bekerja.”
“Baik Pak.” Kata Stefani sambil tersenyum kikuk.
Setelah itu Brahim masuk keruangannya. Etrin mengepalkan kedua tangan kearahnya dan sedikit berteriak “Semangat!!”
Stefani hanya tersenyum mengangguk.
Cukup sampai disitu.. maafkan typonya... 😊😊
Wentypnm
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Dear Mr. Raymond
RomantizmStefani Kumala adalah seorang wanita yang dihianati oleh pacarnya yang berjanji akan menikahinya setelah menyelesaikan pendidikan S2nya di Jerman. Namun sayang nasib berkata lain setelah pulang dari Jerman bukannya menikahinya tapi pria itu malah m...
