Seorang gadis kecil sedang duduk menikmati sejuknya angin sore bersama abangnya di tepi sungai favorit mereka.
"Lisya seneng bisa main sama abang hm?" tanya pria yang berumur 10 tahun itu kepada adiknya yang memandangi sungai dengan tenang.
Gadis kecil yang dipanggil Lisya itu mengalihkan pandangannya ke arah abang nya, Arbani.
"Isya seneng kok bisa main sama abang. Emang nya kenapa?" tanya gadis kecil itu menatap ke arah abangnya dengan polos.
Arbani hanya mengukir senyuman tipis saat melihat wajah polos adik nya. Ah mungkin ini terakhir kalinya dia akan melihat gadis itu.
"Isya sayang gak sama bang Arban?" tanya nya lagi membuat gadis itu menganggukkan kepalanya membuat poni gadis itu naik turun sesuai anggukan kepalanya.
"Sayang bangetttttt" ucapnya dengan membentang tangannya seolah mengibarat kan rasa sayang nya kepada Arbani.
"Isya capek nggak bolak balik masuk rumah sakit terus?" tanya nya untuk kesekian kali nya lagi.
Lisya yang mendapati pertanyaan seperti itu membuat kepalanya menunduk sesaat. Namun ia kembali mengangkat kepalanya masih dengan senyuman nya yang lebar.
"Isya gak pa-pa kok masuk rumah sakit. Asalkan abang sama mama sama papa tetap sayang sama Isya" ucap gadis itu dengan senyuman yang semakin melebar membuat Arbani menetes kan air matanya.
Isya yang melihat itu pun mendekat kan dirinya ke Arbani lalu memeluk nya.
"Bang Arban gak boleh nangis. Isya kuat kok. Isya senang. Abang gak boleh nangis ya" ucap gadis masih memeluk Arban. Bukannya berhenti, air mata itu malah terus mengalir di pipi Arban.
Saat Lisya akan melepas pelukan nya, Arban menahan adik nya itu. Dia ingin merasakan kehangatan dari pelukan adik nya untuk yang terakhir kalinya.
"Bang Arban bakalan pergi. Tapi Lisya gak boleh kangen ya? Jagain mama sama papa untuk abang. Lisya harus jadi anak baik nantinya buat mama sama papa. Buat mama sama papa bangga sama Lisya oke?" ucap Arban sambil mengelus punggung adik nya itu sambil menatap langit yang semakin menggelap.
Lisya menganggukkan kepalanya, namun air mata gadis itu tiba-tiba menetes. Perutnya terasa nyeri membuat nya meringis.
Arban yang mendengar ringisan adik nya pun segera membawa nya ke orang tua mereka yang sedari tadi memperhatikan interaksi abang adik itu. Mereka segera mengantar Lisya ke rumah sakit terdekat.
Setiba nya di rumah sakit, para suster dan dokter segera menyiapkan peralatan mereka untuk melaksanakan operasi yang telah direncanakan sejak kemarin.
Sementara itu, Arban sudah menidurkan dirinya bersebelahan dengan adik nya. Ia memandang adik nya lamat-lamat sebelum akhirnya pandangannya menggelap di akibat kan suntikan bius dari salah satu suster.
Operasi berjalan dengan lancar membuat Lisya dapat terselamatkan dari operasi pemberian salah satu dari ginjal abangnya. Seperti yang sudah diduga Arban, tubuh anak itu tak dapat bertahan hanya dengan satu ginjal hingga membuat nya meninggal dunia.
Arban tersenyum, ia telah mengorban kan segalanya demi adik tercinta nya.
Tanpa ia sadari, kematian nya membuat kehidupan adik nya berubah.
YOU ARE READING
Cecilia (COMPLETED)
Historical Fiction"Jadi cewek tuh jangan keras kepala bisa gak?! Pikirin kesehatan diri lo sendiri! " -Darel Zidan "Cewe tuh seharusnya di perlakukan dengan lembut. Tapi khusus buat lo, itu sebuah pengecualian bagi gue!" -Vino Pranandra "Lo semua gak tau apa-apa tent...
